<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302</id><updated>2012-02-22T21:55:30.763-08:00</updated><title type='text'>Balada Layangan Putus</title><subtitle type='html'>Layangan putus terbang dari tuannya. Tajamnya benang nilon tak cukup kuat buat menahannya. Segerombolan bocah ibu kota mengejejarnya. Layangan putus menghindari tiang listrik, menara radio, gedung-gedung pencakar langit, Monas, menara Petronas, menara Eiffel, Patung Liberti, dll. Bocah-bocah seantero jagat terus mengejar. Mengejar terus.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>52</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-8933781231757768733</id><published>2012-02-15T23:19:00.000-08:00</published><updated>2012-02-15T23:21:52.261-08:00</updated><title type='text'>Tentang Croissant</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Croissant&lt;/span&gt; berasal dari kata dalam bahasa Prancis “crescent” yang berarti bulan sabit –dan memang bentuk makanan ini menyerupai bulan sabit ‘kan? Aku tak begitu tahu apakah ini bentuk kekurangajaran lain dari Orang Prancis kepada Orang Islam yang dibawa sejak masa Perang Salib. Kekurangajaran yang aku tahu pernah dilakukan juga kepada Nabi Muhammad, nabinya Orang Islam, yang dihormati itu. Konon, Baphomet, satu spesies setan yang resmi diyakini oleh Gereja adalah plesetan dari nama Muhammad dan mulai didengungkan di masa membuncahnya Perang Salib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, sudahlah aku tak mau berbicara mengenai sejarah. Aku mau berbicara soal &lt;span style="font-style:italic;"&gt;croissant&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;croissant&lt;/span&gt; apel tepatnya. Tadi pagi aku membelinya di sebuah kafe yang berada di dalam sebuah gedung perkantoran tempatku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;membabu&lt;/span&gt; hari ini. Isinya apel yang dipanggan bersama adonan croissant tadi. Saat digigit apelnya lumer di mulutku tercampur rasa gurih margarin. Surga, bisikku. Belum lagi adonan croissant yang menjadi garing sehabis dipanaskan di dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;microwave&lt;/span&gt; , membuat aku ingin menangis di setiap kunyahan tanda tak ingin segera berpisah dengan kenikmatan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku di lantai 52. Aku bayangkan aku melompat ke bawah dan kepalaku membentur aspal lalu terlindas mobil yang tengah melintas –mungkin truk tronton- di jalanan di bawah sana. Kepalaku pecah, darahku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;muncrat&lt;/span&gt;, mungkin otakku ikut tumpah ruah dengan terbukanya batok kepalaku. Aku tak pernah mencoba melakukannya, jadi aku tak begitu tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangiskah pacarku kalau aku mati nanti? Mungkin dia akan menangis sejenak di pemakamanku, lalu mencari pacar lain yang lebih baik dari diriku, menikah, punya anak, dan hidup bahagia hingga tua. Angan menggelitik seperti ini sering membuatku terkekeh sendiri di depan laptop dimana seharusnya aku menyelesaikan pekerjaanku. Tapi, ya, memang aku ingin tahu hal itu. Apa yang terjadi pada orang-orang disekelilingmu ketika kau mati. Menangiskah mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kau adalah seorang penikmat agama –apapun artinya kata ini- mungkin kau bakal meyakini bahwa roh dan jasad tak selamanya berpadu. Jasadmu mungkin terbujur kaku namun rohmu melanglang buana. Seingatku ada segelintir orang yang meyakini kalau rohmu akan tetap di bumi seperti orang linglung dan tetap dekat-dekat dengan orang yang kau cinta. Setidaknya aku ingat satu film yang menggambarkan hal ini, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Afterlife&lt;/span&gt;. Film yang coba meyakinkan penontonnya bahwa para arwah penasaran itu ada dan mereka cukup penasaran mengapa mereka dianggap sudah mati padahal mereka yakin mereka masih pantas hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku sedang tidak minat berpanjang lebar soal fillsafat kematian. Aku hanya ingin tak-tik-tuk untuk mengusir bosan. Tentunya aku bosan. Lebih tepatnya aku gampang dibosankan. Sekarang oleh pekerjaanku. Banyak orang yang mungkin merasakan hal yang sama denganku, bosan dan muak dengan apa yang dia kerjakan. Berapa orang akan menghibur dirinya dengan mengambil jarak dari pekerjaannya dan melakukan aktivitas yang menyenangkan. Jadi, ya, tak-tik-tuk adalah aktivitas yang cukup menyenangkan bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, aku ingin sekali bisa menulis seperti Umar Kayam atau Mas Yusi Avianto Pareanom. Tapi tentunya bahanku belum sebanyak mereka. Sebuah tulisan adalah sebuah masakan yang dipadu dengan bahan-bahan seperti kosa kata, kemelekan terhadap masalah-masalah sosial, sejarah, hingga mungkin urusan ranjang. Aku masih mengumpulkan bahan-bahanku untuk membuat masakan yang kaya akan rasa seperti mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini dulu, aku harus bekerja. Nanti kita lanjutkan. Salam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-8933781231757768733?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/8933781231757768733/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2012/02/tentang-croissant.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/8933781231757768733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/8933781231757768733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2012/02/tentang-croissant.html' title='Tentang Croissant'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-4913907096371603422</id><published>2011-12-24T05:01:00.000-08:00</published><updated>2011-12-24T05:59:59.797-08:00</updated><title type='text'>24 Desember 2011</title><content type='html'>Kenapa kita tidak bisa "beragama" dalam diam? Kenapa harus ada corong toa yang menjerit-jerit dan keimanan yang diterakkan dengan bangga? Jujur, saya sudah malas berbicara soal "agama" dalam artinya yang paling umum. Barangkali sudah habis masanya bagi saya untuk begitu bersemangat membolak-balik halaman demi halaman dari bukunya orang-orang macam Karen Armstrong hingga Christopher Hitchens dan Ulil. Tapi, sampai detik ini, saya masih selalu suka mengikuti Goenawan Mohamad membicarakan iman, tuhan, dan hal-hal sejenisnya. Setidaknya dalam kelindan kata seorang penyair seperti dirinyalah saya merasa tak digurui. Bahasa penyair adalah bahasa paling ramah -bagi saya- dalam membicarakan iman, tuhan, dan hal-hal lain sejenisnya. Dan bukankah kitab suci adalah sebuah mahakarya kepenyairan dengan bahasa yang dibuat indah? Saya tak begitu paham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kita tidak bisa "beragama" dalam diam? Bukankah "agama" ditemukan dalam "hening"? Di gua, di bukit, di bawah rindangnya pohon. Setidaknya itu yang diceritakan kepada umat ber- "agama" selama ini. Ya, tentu yang "hening" berubah menjadi yang "gaduh" ketika kebenaran yang satu dan paling hakiki harus dikabarkan kepada khalayak. Bahkan yang "gaduh" dapat berarti perang dan darah yang tumpah demi kebenaran yang satu dan paling hakiki yang harus dikabarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saat ini saya harus bersetuju dengan Plato. Bagi Plato, keber- "agama" -an hanya dapat ditemukan dalam sebuah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;theoria&lt;/span&gt; , kontemplasi. Seperti dijelaskan dengan ringkas oleh Karen Armstrong lewat bukunya yang mahsyur dan tak perlu saya sebutkan namanya disini, semua "agama" diarahkan kepada realitas tak terucapkan yang melampau rasio, maka mengucapkannya pun jadi membatasi dan membingungkan. Seperti ajaran Buddha soal yang "tak memadai", tak bisa dikatakan dan melampaui kedhaifan kata-kata. Hal tersebut hanya dapat ditemukan dengan menjalani teknik kontemplasi introspektif : sesuatu yang hanya dapat ditemukan oleh diri sendiri, sebuah kemandirian atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;self-reliance&lt;/span&gt; apabila saya boleh meminjam istilah populer dari Ralph Waldo Emerson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin apa yang saya kutip di atas dapat dipelajari, seperti anda yang boleh menganggap saya tengah belajar ketika membolak-balik halaman bukunya Armstrong. Tapi, mungkin anda -dan saya- harus mempertimbangkan Aristoteles yang membuat pembedaan dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mathein&lt;/span&gt; (mempelajari) dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pathein&lt;/span&gt; (mengalami). Baginya, orang-orang mendatangi dan kemudian mengimani misteri "agama" bukan untuk mempelajari sesuatu tetapi untuk mengalami sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang sudah saya katakan di awal, saya sudah tak lagi terlalu bernafsu untuk mengulik soal iman, tuhan, dan hal-hal lain sejenisnya. Membelanya di depan umum bahkan menegasikannya, seperti yang dilakukan Hitchens dan Harris juga sudah saya anggap sama saja dan tidak lagi membangkitkan birahi. Mungkin ini entri terakhir saya yang menyerempet iman, tuhan, dan hal-hal lain sejenisnya jika anda berpikir demikian. Saya ingin lebih banyak diam dan menulis hal lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok natal. Selamat natal semuanya yang membaca entri ini di hari yang tidak lagi natal. Selamat natal untuk Elizabeth.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-4913907096371603422?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/4913907096371603422/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/12/24-desember-2011.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/4913907096371603422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/4913907096371603422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/12/24-desember-2011.html' title='24 Desember 2011'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-1216646850538446037</id><published>2011-11-11T19:05:00.000-08:00</published><updated>2011-11-11T19:38:35.093-08:00</updated><title type='text'>Perempuan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-ScDPUbJMlfg/Tr3qIwIm9iI/AAAAAAAAAL0/LCfjfymeRN4/s1600/perempuan-irian.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 124px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-ScDPUbJMlfg/Tr3qIwIm9iI/AAAAAAAAAL0/LCfjfymeRN4/s200/perempuan-irian.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5673948541637555746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Internet tidak dapat memberikan penjelasan memadai apa yang melatari Astor Piazolla menciptakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oblivion&lt;/span&gt;. Mungkin Piazolla "bernasib" sama seperti Chopin, Nietzsche, Poe, Rilke, hingga Anwar. Meminjam Iwan Simatupang, mereka adalah para "romantikus" yang menganggap seni dan wanita, ketika melebur, akan menjadinya sebuah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;leitmotiv&lt;/span&gt; yang ia sebut 'resah jagat' (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Weltschmerz&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galau. Mungkin itu terminologi paling mutakhir dan ringkas untuk menggambarkan apa yang dimaksud Iwan Simatupang. Kegalauan terhadap wanita atau perempuan, mengingat seorang teman yang sangat anti menggunakan kata 'wanita' yang berasal dari bahasa Jawa, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wani ditata&lt;/span&gt; atau berani ditata. Dia memanggil dirinya sebagai seorang feminis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku (ya saya sedang ingin memanggil diri saya dengan ini sekarang) rasa Iwan Simatupang benar. Perempuan adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;leitmotiv&lt;/span&gt;. Bahkan dalam kondisi yang menyakitkan dan perih sekalipun, wanita tetap jadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;leitmotiv&lt;/span&gt;. Nietzsche, mungkin buktinya. Kalau anda cukup memerhatikan Nietzsche dengan tekun, anda pasti akan sulit menafikan peran seorang Lou Salome, cintanya yang gagal, sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;leitmotiv&lt;/span&gt; dalam berkarya, berfilsafat, atau apapun namanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan. Sampai detik ini aku menyukai mereka. Dan birahiku sebagai laki-laki masih pula tertuju pada perempuan. Tapi ada sebuah perasaan tolol yang terus-terusan menghantuiku : bisakah aku mengerti mereka? Atau -lebih tolol lagi- bisakah mereka sungguh-sungguh dan benar-benar tercukupi rasa ingin dimengertinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perempuan ingin dimengerti dan laki-laki ingin dihargai. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;That's the rule&lt;/span&gt;." Kicau seorang teman di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Twitter&lt;/span&gt;. Apakah perasaan ingin dimengerti dapat sublim dengan perasaan ingin dihargai? Lagi-lagi pertanyaan tolol terbesit di pikiranku. Ah, sudah, mengapa kau memusingkannya? Kalau jutaan orang bertanya-tanya sepertimu, maka hampir seluruh populasi jagat akan memilih selibat. Berpikirlah normal, dasar orang tolol! Pikiran-pikiran tidak penting yang kau lahirkan justru akan menghancurkan dirimu sendiri. Nietzsche contohnya. Tunggu, benarkah Nietzsche benar-benar dihancurkan pikirannya sendiri? Ketimbang 'menghancur' bukankah dia 'membangun'?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi, sayatan biola dari Piazolla kembali berdengung. Entah yang keberapa kalinya aku mengulang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oblivion&lt;/span&gt; dari Piazolla ini. Aku tidak galau. Sama sekali tidak. Aku hanya "memikirkan" perempuan. Dan ternyata sungguh sulit.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-1216646850538446037?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/1216646850538446037/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/11/perempuan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/1216646850538446037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/1216646850538446037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/11/perempuan.html' title='Perempuan'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-ScDPUbJMlfg/Tr3qIwIm9iI/AAAAAAAAAL0/LCfjfymeRN4/s72-c/perempuan-irian.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-596411774578635737</id><published>2011-10-21T22:16:00.000-07:00</published><updated>2011-10-21T23:09:23.301-07:00</updated><title type='text'>Viking Anjing!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-qSVzZCC-mws/TqJd9aY1q0I/AAAAAAAAALg/kpt4kUkfweo/s1600/anti%2Bvking.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 136px; height: 136px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-qSVzZCC-mws/TqJd9aY1q0I/AAAAAAAAALg/kpt4kUkfweo/s200/anti%2Bvking.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5666194590822411074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya bukanlah seorang Jakmania. Juga bukanlah seorang Bobotoh atau Viking. Saya menyukai -dan cenderung sudah mencintai- sepakbola, tapi bukanlah seorang penggemar fanatis salah satu klub sepakbola dalam negeri yang sering menyambangi secara langsung stadion untuk menyaksikan tim-nya bertanding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah terowongan di jalanan ibu kota. Terpengaruh kebiasaan saya yang selalu memerhatikan lamat-lamat dan serius sesuatu yang renik dan "tak penting", saya lihat sebuah coret-coret dari cat semprot yang bertuliskan : Viking Anjing!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukanlah seorang Jakmania. Juga bukanlah seorang Bobotoh atau Viking. Saya tak pernah sekalipun menyaksikan secara langsung Persija atau Persib bertanding di Lebak Bulus atau Silwangi. Tapi, rivalitas keduanya sudah lama saya ikuti. Dari sebuah tablodi olahraga langgangan dan dari sebuah fiksi yang memang menggambarkan rivalitas kedua klub tersebut. Sebuah film besutan sutradara yang kebetulan adalah Jakmania, Andibachtiar Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucup, begitu Andibachtiar biasa disapa, coba menerjemahkan drama Shakespeare dalam versinya. Kisah cinta dua manusia dari dua keluarga yang berseteru, Romeo &amp; Juliet, diterjemahkan Ucup yang maniak sepakbola dalam film "Romeo Juliet" (2009). Juliet Capulet dan Romeo Montague disadur Ucup menjadi Desi, seorang pendukung Persib Bandung dengan latar keluarga yang memang "berdarah biru", dan Rangga, anak Jakarta yang setia sampai mati mendukung Persija Jakarta. Dan akhirnya, memang Rangga dikisahkan mati. Mati ketika memerjuangkan kisah-kasihnya dengan Desi di tengah perseteruan dua tim yang mendarah daging dan tak jarang membuat nyawa melayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segala keterbatasannya, saya suka film Ucup. Dialog yang apa adanya dan jujur ditambah deskripsi yang sahih yang ditawarkan Ucup soal rivalitas kedua tim membuat saya menonton film ini lebih dari satu kali. Film ini layaknya menyaksikan film perang Vietnam yang disutradai mantan tentara Amerika yang memang pernah merasakan baku tembak dengan Vietcong di Saigon. Mengapa? Konon Ucup memang pernah baku hantam "demi" Persija. Dan memang Ucup sendiri sempat dijotos seorang Bobotoh atau Viking saat promo film ini karena dianggap mendiskreditkan mereka lewat filmnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film Ucup sendiri mengingatkan saya akan diktum klasik di sepakbola : sepakbola adalah agama. Ya, entah siapa yang menghasilkan diktum tersebut tapi mungkin ada benarnya. Di beberapa belahan dunia, orang rela membela tim kesayangannya sampai berpeluh darah bahkan kehilangan nyawa. Mirip dengan sekelumit cerita soal mereka yang mati karena berjuang di jalan agama yang ia imani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ketika saya melihat coret-coret di tembok tadi, saya langsung berpikir tentang satu hal : ini adalah sebuah bentuk penistaan "agama"! Saya membayangkan, tulisan tadi dibuat di sebuah tembok di jalan Dago, Bandung. Yang menulisnya adalah sekelompok orang berbaju oranye, Persija. Dan, apa yang terjadi apabila ketika mereka tengah melakukan tindakan penistaan itu dilihat oleh sekelompok Bobotoh? Bonyok, luka parah, untung kalau mereka tidak sampai harus meregang nyawa. Mengapa? Ini sama saja dengan seorang Kristen yang berani-beraninya membakar Quran di sebuah perkampungan Islam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin anda menganggap ini berlebihan. Sah saja. Tapi barangkali anda harus membaca bukunya Franklin Foer, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"How Soccer Explains the World: An Unlikely Theory of Globalization"&lt;/span&gt;. Di buku itu, mungkin anda akan mulai tersadar bahwa manusia-manusia yang mencintai sepakbola secara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lebay&lt;/span&gt; itu eksis tidak hanya di Jakarta dan Bandung. Di berbagai belahan dunia, rivalitas dua tim sepakbola yang berkepanjangan yang bisa disandingkan dengan perseteruan Israel-Palestina dan Sunni-Syiah yang membawa-bawa hal-hal yang berkelindan dengan divinitas, terbukti sudah dan mungkin akan terus memakan korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepakbola (mungkin) sudah jadi agama. Dan, saya membayangkan beberapa orang yang lebih hapal nama-nama dalam skuad di tim kesayangannya ketimbang potongan ayat kitab suci. Karena itu, janganlah coba-coba menista sepakbola.&lt;span style="font-style:italic;"&gt; Eh&lt;/span&gt;, agama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-596411774578635737?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/596411774578635737/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/10/viking-anjing.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/596411774578635737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/596411774578635737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/10/viking-anjing.html' title='Viking Anjing!'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-qSVzZCC-mws/TqJd9aY1q0I/AAAAAAAAALg/kpt4kUkfweo/s72-c/anti%2Bvking.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-2988301799457646164</id><published>2011-09-30T21:27:00.000-07:00</published><updated>2011-10-01T01:02:22.891-07:00</updated><title type='text'>Es</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-Ks9joX0eEso/TobD6wnri3I/AAAAAAAAALY/epvtF8mqaCg/s1600/arctic_ice.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-Ks9joX0eEso/TobD6wnri3I/AAAAAAAAALY/epvtF8mqaCg/s200/arctic_ice.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5658425396088769394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Konon ada cerita dari Tanah Hindus. Dhara Gupta, tinggal di sebuah desa di India bernama Jaisalmer. Suatu hari, di tahun 1882, ketika dia sedang menyiapkan masakan untuk keluarganya, saudara sepupunya yang gemar berpetualang, Mahavir, datang berkunjung. Ketika makan malam, Mahavir menceritakan pengalamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahavir menceritakan bagaimana ia harus menghadapi perompak, binatang buas, pegunungan, pemandangan dan petualangan lain yang bahkan sulit untuk dibayangkan Gupta. Tapi, yang membuat Gupta terperanjat adalah cerita Mahavir soal sesuatu yang ia sebut "es"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku pergi ke sebuah tempat, dimana airnya berhenti mengalir dan membentuk sesuatu yang solid namun tetap bening seperti air pada umumnya. Dan yang lebih mencengangkan, air yang berhenti mengalir tersebut sangat dingin ketika disentuh," cerita Mahavir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gupta tak percaya. Dia tidak ingin mendebat Mahavir tapi ia tak memmercayainya sama sekali. Beberapa waktu yang lalu, sempat pula singgah sekelompok petualang di rumahnya. Mereka bercerita soal naga yang menghembuskan api dari mulutnya ketika bernapas. Maka, bagi Gupta yang tak ingin jatuh ke dalam lubang penipuan yang sama, cerita Mahavir adalah bohong belaka. Tidak ada ceritanya air bisa berhenti mengalir. Setidaknya tidak pernah ada keajaiban yang demikian di Jaisalmer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita tadi dikutip dari buku Julian Baggini yang berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Pig That Wants To Be Eaten&lt;/span&gt; (2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu, Mahavir tidak berbohong. Saat musim dingin, di beberapa wilayah di belahan dunia, air akan membeku. Seperti Gupta, saya yang tinggal di negara yang tidak mengenal musim dingin -atau salju- tidak pernah melihat "keajaiban" yang diceritakan Mahavir tadi. Tapi, tentu 1882 bukanlah era yang sama seperti sekarang. Arus informasi yang deras memungkinkan saya untuk mengetahui apa yang terjadi ketika musim dingin. Buku, televisi, internet, dan segala "impor informasi" lainnya cukup membuat saya meyakini kalau Mahavir benar. Hal-hal yang mungkin tidak ditemui Gupta di Jaisalmer pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman masa lampau, kepercayaan dalam kekinian. Dua hal tersebut cukup untuk membuat Gupta -dan kita- memandang bagaimana dunia bekerja. Tapi tidak juga. Kalau dua hal tersebut selalu berkomplemen, mungkin agama tidak laku. Saya ingat pernah mendebat ayah saya soal ini. Kitab suci mungkin menceritakan bagaimana dahsyatnya masa lampau. Soal Bahtera Nuh, Yesus yang menghidupkan orang mati, dan Muhammad yang "tamasya" ke langit. Tapi, kenapa hal tersebut tidak berulang sekarang? Lelah berdebat, ayah saya berkata : Kita tidak pernah tahu, dan siapa tahu itu benar. Selama memercayainya membuat kita memiliki pegangan -saya lebih menafsirkannya sebagai rasa nyaman- maka percayai saja. Perkataan ayah saya tadi mungkin sama halnya dengan pernyataan : mungkin saja kehidupan setelah mati itu ada, surga neraka itu ada, maka berbuat kebaikanlah selama hidup agar masuk surga dan menghindari neraka. Siapa tahu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar sana, banyak cerita-cerita yang mungkin senapas dengan cerita soal Gupta dan Mahavir tadi dan seingat saya banyak diantaranya yang spiritual atau religus atau apapun namanya, tapi semoga anda paham maksud saya. Soal mati suri, soal penampakan hantu, hingga soal seorang yang mengaku pernah langsung bertemu dengan "tuhan" dan mendirikan sekte agamanya dan mendapatkan banyak pengikut -juga kaya karena hal tersebut. Untuk hal ini mungkin saya lebih sering berpikir seperti Gupta. Sesuatu yang tidak atau belum bisa diverifikasi dengan mata kepala sendiri wajib hukumnya untuk diragukan kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan suatu hari anda mendapatkan email yang mengatakan anda dapat kaya dengan modal rendah -dan mungkin sebagian kita memang sering mendapatkan email tadi. Hampir dipastikan hanya si dungu yang memercayai ini. Sama saja seperti pesan singkat di telepon selular yang mengatakan anda memenangkan sebuah mobil, diminta mentransfer sejumlah besar uang, dan uang anda kemudian raib dengan mobil fantasi yang dijanjikan sang penipu. Maka, seringkali kita mengabaikan hal tadi. Karena pengalaman silam kita -pengalaman orang yang diberitakan di berita kriminal di televisi misalnya- mengatakan hal tersebut adalah penipuan, kita akan mengabaikan email atau pesan singkat yang demikian. Dengan sigap menghapusnya dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;inbox&lt;/span&gt; kita. Tapi, siapa tahu suatu hari hal tersebut benar adanya. Siapa tahu ada seorang konglomerat yang dermawan yang memang ingin memberikan sebuah mobil secara acak kepada anda? Peluang. Ya kita bicara soal peluang antara adanya sang dermawan yang demikian dan orang-orang kebanyakan. Dan tentu anda tahu seberapa besar perbandingan peluangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali Gupta dan kita memiliki masalah yang sama. Kedhaifan, keterbatasan. Testimoni seseorang, dalam bentuk apapun dan meskipun orang tersebut adalah orang dekat kita, seringkali tidak cukup untuk meyakinkan kita perihal satu hal yang belum kita lihat dan rasakan sendiri. Tapi Gupta lupa, seperti kita juga sering lupa, bahwa pengalamannya terbatas dan dia hanya memiliki "bualan" Mahavir untuk percaya bahwa ada zat bernama es. Gupta hanya memiliki Jaisalmer dan dia mencoba menafsirkan jalannya semesta. Bisakah?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-2988301799457646164?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/2988301799457646164/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/09/es.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/2988301799457646164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/2988301799457646164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/09/es.html' title='Es'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Ks9joX0eEso/TobD6wnri3I/AAAAAAAAALY/epvtF8mqaCg/s72-c/arctic_ice.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-6400991541157847466</id><published>2011-09-07T23:04:00.000-07:00</published><updated>2011-09-07T23:44:23.079-07:00</updated><title type='text'>The Comedian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-iTRlRxqVaxs/TmhjTI3LCiI/AAAAAAAAAJw/-4txyquTLLE/s1600/the%2Bcomedian.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-iTRlRxqVaxs/TmhjTI3LCiI/AAAAAAAAAJw/-4txyquTLLE/s200/the%2Bcomedian.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5649874912983845410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hampir saja saya beli miniatur tadi. Miniatur yang biasa disebut &lt;span style="font-style:italic;"&gt;action figure&lt;/span&gt;. Tapi, sayangnya, saya bukanlah seorang pengoleksi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;action figure&lt;/span&gt; yang tekun. Tidak seperti beberapa orang yang memang menghususkan lemari untuk memajang beberapa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;action figure&lt;/span&gt; yang biasanya adalah replika mini beberapa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;super heroes&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Comedian. Ya, itu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;action figure&lt;/span&gt; yang menggoda saya untuk merogoh kocek dalam-dalam tadi. Salah satu karakter dari komik &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Watchmen&lt;/span&gt; yang beberapa tahun lalu sempat diangkat ke layar lebar. Konon, komedian Groucho Marx mengilhami Alan Moore dan Dave Gibbongs dalam menciptakan karakter tadi. Dengan kumis tebal dan namanya (sang pelawak)memang tak sulit untuk menerka apakah ada relasi antara Groucho Marx dan The Comedian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Super Heroes&lt;/span&gt;? Barangkali para karakter di dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Watchmen&lt;/span&gt;jauh panggang dari api apabila disebut sebagai pahlawan. Tapi tidak pula bisa disebut sebagai anti pahlawan. Ozymandias, Silk Spectre, Doctor Mahattan, Nite Owl dan Rorschach adalah rekan-rekan The Comedian yang tak bisa murni disebut pahlawan atau begundal. Abu-abu mungkin. Tapi saya menyebutnya sebagai manusia biasa (tidak berotak malaikat),punya ego, tapi untungnya sedikit membuktikan bahwa altruisitas barangkali memang dimiliki setiap manusia. Selebihnya, saya tidak akan berpanjang lebar menjelaskan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Watchmen&lt;/span&gt;, dan anda bisa melihat wikipedia atau sebuah liputan menarik dari Majalah Berita Mingguan Tempo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke miniatur tadi yang sepertinya telah meluluhkan saya untuk segera mengeluarkan uang sebesar Rp 225 ribu untuk membelinya. The Comedian. Saya pikir itu tak murni sebagai miniatur The Comedian versi komik. Lebih kepada minatur The Comedian versi film-nya atau bisa disebut sebagai miniatur Jeffrey Dean Morgan yang berkostum The Comedian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Comedian, ungkap beberapa artikel yang mengulasnya dan juga menurut saya, barangkali adalah yang paling berbeda dari semua karakter &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Watchmen&lt;/span&gt;. Kalau Rorschach menghabisi seorang maniak karena telah memerkosa dan membunuh seorang anak kecil, The Comedian menghabisi seorang wanita Vietnam karena memintanya bertanggung jawab atas janin yang dikandung sang wanita. Kalau Nite Owl digambarkan sebagai seorang "pecinta" -dan memang di komik dan film digambarkan dia bercinta dengan lembut dengan Silk Spectre- maka The Comedian adalah seorang pemerkosa. Dia coba memerkosa Sally Jupiter, anggota &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Watchmen&lt;/span&gt; generasi pertama dan juga ibunda dari Silk Spectre. The Comedian barangkali adalah antinomi dari karakter &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Watchmen&lt;/span&gt; yang lain, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ah&lt;/span&gt; tapi tidak juga karena masih ada Ozymandias yang jelas-jelas "membelot".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edward Morgan Blake (The Comedian) bagi saya adalah saya dan anda. Yang paling "manusiawi" dari semua karakter &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Watchmen&lt;/span&gt;. Barangkali dialah yang paling romantis, dan bukan Nite Owl. Dia mendengarkan lagu Smile dari Nat King Cole di awal film (sebelum dibunuh Ozymandias). Barangkali dia seorang nihilis. Di komik dia diceritakan memilih untuk menjadi seorang nihilis di tengah masyarakat yang tak berguna : harus diperangi dan dihabisi. Tapi di masa tuanya, dia menangisi dosa di masa mudanya. Ya, dia adalah saya dan anda. Dan saya tampaknya akan membeli "miniatur diri saya sendiri".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;It's a joke. It's all a Joke. (The Comedian's last word)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-6400991541157847466?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/6400991541157847466/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/09/comedian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/6400991541157847466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/6400991541157847466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/09/comedian.html' title='The Comedian'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-iTRlRxqVaxs/TmhjTI3LCiI/AAAAAAAAAJw/-4txyquTLLE/s72-c/the%2Bcomedian.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-5904407932712842153</id><published>2011-08-09T21:56:00.000-07:00</published><updated>2011-08-09T22:36:06.376-07:00</updated><title type='text'>Elevator</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-DZfAsVp7aB0/TkIYmJKX2HI/AAAAAAAAAJI/UDmiXZqyVjM/s1600/elevator.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-DZfAsVp7aB0/TkIYmJKX2HI/AAAAAAAAAJI/UDmiXZqyVjM/s200/elevator.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5639096726994802802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya adalah perselingkuhan. Konon, menurut Mary Bellis, elevator berperan dalam memudahkan Raja Louis XIV untuk mengunjungi simpanannya, Madame de Chateauroux, yang tinggal satu lantai di atas kamarnya. Elevator tersebut diklaim sebagai elevator tertua yang mengangkut manusia dan dioperasikan pula oleh tenaga manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1823, hampir seabad setlah kisah perselingkuhan Louis XIV, dua orang arsitek asal Inggris, Burton dan Hormer membuat "bilik naik" yang dioperasikan uap dan bertugas mengantarkan para turis yang ingin melihat panorama kota London.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Elisha Otis-lah yang secara formal dicatat sejarah sebagai penemu elevator berpenumpang. Pada 1857 dia mendirikan Otis Elevator Company, lebih aman dari bahaya kecelakaan seperti jatuh dan menambahkan pengamanan tambahan apabila kabel-kabel pendukung rusak. Maka, elevator publik pertama-pun dioperasikan di sebuah pasar swalayan di Manhattan bernama E.W. Haughtwhat &amp; Company.  Sekitar tiga puluh tahun kemudian, Alexander Miles mencatatkan paten atas namanya untuk elevator listrik. Lagi-lagi secara formal karena penemu Jerman, Werner von Siemens, dianggap sudah mengerjakannya tujuh tahun lebih awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang kita-pun menggunakan elevator. Elevator seakan menjadi simbol lain dari "kekuatan kapital". Di gedung perkantoran, pencakar-pencakar langit, elevator menjadi keharusan dalam memudahakan aktivitas yang berpacu dengan waktu. Ya, berpacu dengan waktu. Ketika menggunakan tangga berarti anda akan kelelahan dan kehilangan banyak waktu sehingga menurunkan produktivitas kerja, elevator menjadi solusi. Elevator adalah keharusan dalam rutinitas yang robotik dari para pekerja, hampir di setiap gedung perkantoran. Dia juga seakan menjadi simbol lain paksaan untuk instan. Dia menolak tangga dan eskalator yang menginginkan tahapan (eskalasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin benar yang saya tulis tadi. Elevator adalah penanda di perkantoran bahwa anda sibuk dan karenanya waktu harus dipangkas. Buang-buang waktu harus dihindari dan waktu senggang tidak berarti. Tapi tidak juga. Barangkali elevator adalah waktu senggang itu sendiri. Barangkali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka berada di dalam elevator. Terlebih jika sendiri. Dalam tekanan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;new employer syndrome &lt;/span&gt; (sindrom pegawai baru), di saat saya menulis entri ini, kesendirian dalam elevator berarti kesenggangan. Atau mungkin jeda. Dia adalah jeda yang berarti untuk sedikit mengambil jarak dari rutinitas robotik yang membosankan. Dia adalah sedikit jeda antara kecurigaan dan kejenuhan. Ya, kecurigaan yang diperlihatkan saat anda masuk gedung pencakar langit. Kecurigaan dari satuan pengaman bahwa anda adalah seorang teroris yang hendak meledakkan gedung. Dan tentunya disambung kejenuhan bekerja di kantor selama berjam-jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi,sekali lagi, berada sendirian di dalam elevator berarti jeda. Sebuah ruang yang lowong untuk saya merenungi nasib : apakah yang saya pilih dengan bekerja di kantor tempat saya bekerja adalah sebuah pilihan tepat. Atau minimal, apa yang akan saya lakukan hari ini dan apa yang sudah saya lakukan hari ini. Dan, di sebuah kantor yang mengharuskan anda menjalani rutinitas yang robotik, kesenggangan dan permenungan adalah oase di padang gurun.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-5904407932712842153?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/5904407932712842153/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/08/elevator.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/5904407932712842153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/5904407932712842153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/08/elevator.html' title='Elevator'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-DZfAsVp7aB0/TkIYmJKX2HI/AAAAAAAAAJI/UDmiXZqyVjM/s72-c/elevator.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-1904854019427075508</id><published>2011-08-07T23:26:00.000-07:00</published><updated>2011-08-07T23:59:15.420-07:00</updated><title type='text'>Rindu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-8ppIdTXtALU/Tj-JNmGIx5I/AAAAAAAAAJA/vl2iDi6Am8A/s1600/miss_u_so_bad_by_za_varka.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 128px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-8ppIdTXtALU/Tj-JNmGIx5I/AAAAAAAAAJA/vl2iDi6Am8A/s200/miss_u_so_bad_by_za_varka.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5638376125148743570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya saya sungguh rindu mereka. Tidak mereka juga &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sih&lt;/span&gt;. Lebih tepat-tepatnya masa-masa itu. Ya, di situ.Ketika tertawa hadir karena saya ingin tertawa. Bukan karena terpaksa. Bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melewati tempat itu. Dan saya sedih melihatnya. Benar-benar sedih. Saya menulis entri ini dari sebuah gedung pencakar langit di daerah Kuningan. Di sebuah firma hukum (non-litigasi) kelas internasional yang dinobatkan dua kali menjadi firma hukum (non-litigasi) terbaik di Indonesia. Itu kantor saya. Sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya saya tidak terlalu peduli. Buat apa? Mereka menggaji saya dan saya akan bekerja sebaik mungkin untuk mereka. Sekian. Ada yang tertinggal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rindu mereka, tempat itu, masa-masa itu. Di sebuah ruko yang terhimpit alat-alat dan kendaraan yang besarnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nauzubillah&lt;/span&gt;. Bersama mereka, di tempat itu, dan di masa-masa itu, saya punya hobi mengolok-olok hidup. Termasuk mengolok-olok orang (profesi) yang saya jalani sekarang ini. Di mana saya yang menguasai waktu dan bukannya waktu yang menguasai saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekarang semuanya sudah berubah. Di ruangan ini, di kantor yang lelakinya memakai dasi dan wanitanya hobi mengenakan rok mini, saya terpekur di depan laptop yang dipinjamkan kantor. Saya tak bisa lagi menertawakan yang pada masa-masa itu saya tertawakan. Mengolok-olok yang pada masa-masa itu saya olok-olok. Dan saya dikuasai waktu (baca : rutinitas). Sesuatu yang sebenarnya saya ingin hindari dalam mencari nafkah, tapi belum bisa. Ya, setidaknya belum bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rindu mereka, tempat itu, masa-masa itu. Tapi toh manusia harus berubah. Yang kecil beranjak dewasa. Yang muda beranjak tua. Dari senggang menjadi sibuk. Di masa senggang, di saat saya yang menguasai waktu, semuanya adalah soal ke-saya-an. Tapi sekarang tentunya tidak bisa. Dan itulah yang membuat orang dewasa, ujar seorang sahabat yang sudah saya anggap seperti abang laki-laki. Semakin kita bisa mereduksi ke-saya-an dan kita memikirkan orang lain, di situlah kita beranjak dewasa. Benar juga. Saya tidak bisa memikirkan diri saya sendiri, lagi. Untuk saat ini, sungguh tidak bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saya ingat kembali mereka, tempat itu, dan masa-masa itu. Saya rindu, jujur. Jujur, saya rindu. &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-1904854019427075508?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/1904854019427075508/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/08/rindu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/1904854019427075508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/1904854019427075508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/08/rindu.html' title='Rindu'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-8ppIdTXtALU/Tj-JNmGIx5I/AAAAAAAAAJA/vl2iDi6Am8A/s72-c/miss_u_so_bad_by_za_varka.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-955937383922650202</id><published>2011-07-26T09:12:00.000-07:00</published><updated>2011-07-26T10:06:58.866-07:00</updated><title type='text'>Yang Berat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-WyJp27Z_IAw/Ti70KPYbEOI/AAAAAAAAAI4/BFe7xCaI2Vg/s1600/tumblr_ku2ma3WWro1qavwmmo1_250.gif"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 137px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-WyJp27Z_IAw/Ti70KPYbEOI/AAAAAAAAAI4/BFe7xCaI2Vg/s200/tumblr_ku2ma3WWro1qavwmmo1_250.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5633708640651907298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Berat-berat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;banget&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sih&lt;/span&gt; bacaannya!" Ujar seorang anak teman ibu saya yang melihat buku-buku di lemari buku di kamar saya. Lalu dia meminjam sebuah buku. Buku autobiografi tentang Barack Obama berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Audacity of Hope&lt;/span&gt; yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Menerjang Harapan : Dari Jakarta Menuju Gedung Putih&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira sebulan kemudian, dia mengembalikan buku tadi. Sekarang dia berujar, "Ah, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nggak ngerti gue&lt;/span&gt; bacanya. Berat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;banget&lt;/span&gt; dia nulisnya." Saya diam saja. Saya tak ingin merendahkannya, tapi, tanpa bermaksud sombong atau besar kepala saya merasa buku tadi cukup enak untuk dibaca. Terjemahannya-pun bagus. Terlebih, layaknya banyak buku autobiografi, si penulis tentu akan lebih spontan. Bagi saya, autobiografi yang baik adalah yang ditulis layaknya menulis buku harian walaupun di dalamnya terdapat muatan -misalnya ideologi- yang ingin disampaikan si penulis. Tentu cara penulisan sebuah autobiografi berbeda dengan buku teks atau buku berkonten "lebih formal" lainnya seperti buku yang diangkat dari penelitian akademis seperti yang berasal dari sebuah disertasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil contoh buku autobiografi -kadang disebut memoir- Alan Greenspan (mantan Ketua Federal Reserve Amerika Serikat) yang berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Age of Turbulence : Adventures In New World&lt;/span&gt;. Saya suka buku itu karena meski banyak "koten serius dan berat" di sana-sini, Greenspan menulisnya dengan lebih santai. Contohnya adalah saat dia menulis soal dukungannya terhadap ide "tangan tak terlihat" dari ekonom Adam Smith, Greenspan menulisnya tanpa bahasa-bahasa teknis yang biasa digunakan dalam buku teks ekonomi semisal buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Prinsip-prinsip Ekonomi&lt;/span&gt; dari Gregory Mankiw. Greenspan menjelaskan bagaimana ekonomi Amerika Serikat secara matematis bertumbuh setelah dibuat lebih terbuka ketimbang masa proteksionisme di era pasca malaise. Dia menjelaskannya layaknya sebuah laporan pandangan mata seseorang analis ekonomi yang sering diminta bekerja di beberapa perusahaan besar Amerika Serikat. Diselingi cerita tentang masalah-masalah pribadi seperti pernikahannya yang gagal bersama Joan Mitchell.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis memang bukan perkara yang mudah. Contoh adalah buku ekonomi. Untuk menjangkau pembaca yang lebih luas, "Yang Berat" dalam ilmu ekonomi berusaha untuk diringankan. Tak heran, ada orang seperti Yoram Bauman dan Grady Klein yang mencoba menyederhanakan sepuluh prinsip ekonomi Mankiw -yang menurut saya sebenarnya sudah ditulis Mankiw sehingga mudah untuk dipahami- dalam bentuk buku komik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali kadar "berat" sebuah buku mutlak subjektif berada pada siapa yang membaca. Buku ekonomi industri, dengan serangkaian rumus dan grafiknya, mungkin akan sulit untuk dipahami seorang lulusan fakultas hukum seperti saya. Seperti juga sebuah buku hukum akan sulit dipahami oleh seorang mahasiswa filsafat : sulit dipahami mengapa hidup ini harus banyak aturan dan mengapa tidak otak dan altruisme setiap pribadi saja yang menuntunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal "Yang Berat" tadi. Buku Obama yang saya nukil di awal mungkin begitu "berat" bagi teman kenalan saya tadi. Padahal ia tak lebih dari ceracau Obama soal pengalamannya selama menjadi senator di Amerika Serikat. Tapi untuk yang satu ini, mungkin dia saja yang tak sanggup memikul beban berat buku Obama tadi. Seingat saya, di sebuah toko buku ternama, buku tersebut menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hits&lt;/span&gt; dan cukup lama menghiasi rak yang berisikan buku-buku dengan penjualan terbaik. Minimal, banyak yang merasa buku Obama masih bisa dibaca. Meski saya tidak tahu apakah orang-orang yang membelinya menamatkan buku itu atau membeli dan setelah berpikir yang sama tentang kemahaberatan buku tadi -seperti kenalan saya- berhenti membaca dan meratapi uang yang harus dikeluarkan untuk buku yang tidak sanggup ia pikul "beratnya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka yang laku adalah buku-buku Raditya Dika. Tentang racauannya di blog yang ia terbitkan jadi buku. Kenalan saya tadi-pun saya perkirakan membacanya. Saya-pun sempat membacanya, secara sepintas, lalu menaruhnya kembali secara rapi di rak sebuah toko buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Minat membaca bangsa ini rendah," tulis seorang kolumnis berpengalaman yang minat bacanya saya takar sangatlah tinggi. Saya pikir tidak juga. Toh masih banyak orang membeli buku Raditya Dika. Dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gitu-gitu&lt;/span&gt; juga itu adalah sebuah buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;loh&lt;/span&gt;. Jadi, rendah apanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang Berat" dari sebuah buku mungkin tak ada ukurannya. Mungkin ada pula yang menganggap bukunya Raditya Dika memiliki kemahaberatannya sendiri. Mungkin hanyalah saya yang tidak sadar kemahaberatan buku Raditya Dika karena dia berhasil menerjemahkan kemahaberatan di bukunya menjadi sesuatu yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;simple&lt;/span&gt; seperti Bauman dan Klein menerjemahkan kemahaberatan ilmu ekonomi menjadi komik. Maka, agar buku anda laku, tulislah buku "Yang Berat" dengan se- &lt;span style="font-style:italic;"&gt;simple&lt;/span&gt; - mungkin apabila memungkinkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-955937383922650202?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/955937383922650202/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/07/yang-berat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/955937383922650202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/955937383922650202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/07/yang-berat.html' title='Yang Berat'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-WyJp27Z_IAw/Ti70KPYbEOI/AAAAAAAAAI4/BFe7xCaI2Vg/s72-c/tumblr_ku2ma3WWro1qavwmmo1_250.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-5419655814398522401</id><published>2011-06-25T06:13:00.000-07:00</published><updated>2011-06-25T07:06:25.391-07:00</updated><title type='text'>Skripsi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-ZsJOvMypeAg/TgXpinavz-I/AAAAAAAAAIw/c5XXUOCGzPI/s1600/skripsi.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 153px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-ZsJOvMypeAg/TgXpinavz-I/AAAAAAAAAIw/c5XXUOCGzPI/s200/skripsi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622156490747924450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Saya lebih suka tulisan yang spontan daripada yang terlalu dipersiapkan. Karena itu, saya lebih suka apabila kalian membuat tulisan dengan gaya literer atu essay ketimbang akademis. Yang pertama lebih sulit karena kalian 'bergelut' dengan kata-kata," begitu kurang lebih perkataan Nirwan Ahmad Arsuka dalam sebuah sesi Forum Kebebasan di Freedom Institute. Mas Nirwan, begitu kami para jamaah Forum Kebebasan biasa memanggilnya, memberi tugas kepada kami untuk menuangkan apa yang telah didapat selama mengikuti diskusi-diskusi Forum Kebebasan kurang lebih selama satu bulan setengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan yang rencananya akan dimuat di situs Freedom Institute, Indonesia, tadi akan berbicara seputar ide-ide kebebasan dan segala macam derivasinya, seperti hak individu, usaha bebas, dan sebagainya. Seorang teman mencoba menerjemahkan tugas tadi ke dalam makalah. Serius sekali dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Nirwan tentu tak bisa disamakan dengan para pengajar di kampus teman diskusi saya tadi ataupun para pengajar di kampus saya dan juga pengajar di kampus di mana saja di Indonesia bahkan dunia. Sebuah makalah tentu bisa dipertautkan dengan essay. Keduanya bisa diperlakukan dengan sama. Tapi, tetap saja, menulis sebuah prosa pendek, essay, puisi, pantun, gurindam, dan lain sebagainya adalah pengalaman yang berbeda dibanding menulis makalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak tahu ini bermula dari mana, tapi membuat makalah akhir-akhir ini adalah pekerjaan mengutip sana-sini. Begitu juga dengan proses pembuatan skripsi -saya dan beberapa kawan menyebutnya makalah gemuk. Sebuah skripsi bisa jadi dengan begitu mudahnya ketika Anda banyak membaca. Main kutip sana-sini. Dengan kewajiban untuk menyantumkan sumber kutipan Anda. Dan hasil kutip sana-sini tadi -pun dapat dilegitimasi sebagai sebuah karya baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"There is nothing new under the sun but there are lots of old things we don't know,"&lt;/span&gt; tulis Ambrose Bierce seorang penulis dan satiris Amerika Serikat. Bahkan kutipan dari Bierce yang melegenda itupun tidaklah baru. Bierce mengutip Perjanjian Lama dalam Kitab Pengkhotbah (1:9). Apa itu kebaruan? Tak ada yang baru. Sebuah penggambaran unik dapat kita temukan dalam film &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Flash of Genius&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film tadi bercerita tentang kehidupan Robert Kearns. Seorang yang akhirnya ditetapkan Pengadilan di Amerika Serikat sebagai penemu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wiper&lt;/span&gt; setelah memenangi kasus sengketa paten melawan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ford&lt;/span&gt;. Dalam film itu diceritakan bagaimana seroang saksi ahli yang dihadirkan oleh pengacara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ford&lt;/span&gt; di pengadilan, menyatakan bahwa tak ada kebaruan dalam karya Kearns. Kearns hanya mencuplik beberapa rumusan mekanika standar sehingga terciptalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wiper&lt;/span&gt; yang dapat dengan otomatis menyeka kaca mobil ketika hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kearns membawa novel Charles Dickens, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;A Tale of Two Cities&lt;/span&gt;, ke pengadilan. Di depan hakim ia membacakan halaman pertama novel tadi. Kata per kata. Lalu dia bertanya, "Apakah setiap kata tadi adalah temuan Dickens? Dickens hanyalah mencuplik lalu merangkai kata-kata tadi hingga terhimpun menjadi sebuah novel yang kita baca sampai ratusan tahun kemudian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, tak ada yang baru. Sebuah lagu, puisi, essay, dan sebagainya barangkali tak ada yang sama sekali baru. Saya tak ingin memasukkan makalah -termasuk skripsi- di dalamnya. Tentu menelurkan sebuah puisi dan essay jauh lebih spirituil dan asali dari diri ketimbang menelurkan skripsi. Mungkin kita tak asing dengan istilah "inspirasi." Seorang Chairil Anwar-pun beroleh inspirasi dari Hendrix Marsman, J.Slauerhoff, Du Perron, Willem Elschot dan Conrad Aiken, dalam menulis puisinya. Begitu tulis H.B. Jassin yang memang mengenal Anwar secara personal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menulis racauan ini dua hari sebelum saya menjalani sidang skripsi. Skripsi setebal hampir dua ratus halaman tadi dihiasi tiga ratusan catatan kaki yang berasal dari puluhan buku dan jurnal. Saya tak perlu makan daging mentah seperti Anwar untuk melahirkan pengalaman yang kontemplatif dalam menulis skripsi ini. Cukup kutip sana-sini, lalu jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tentunya saya juga terkadang muak dengan kerja mengutip sana-sini tadi. Ada kalanya derasnya kata ingin saya lahirkan tanpa pikir panjang. Barangkali yang paling ekstrem melahirkan kata-kata bak mantra a-la Sutarji Calzoum Bachri. Dan setidaknya saya coba melakukannya di sini dan Twitter. Tidak bisa dalam skripsi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-5419655814398522401?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/5419655814398522401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/06/skripsi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/5419655814398522401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/5419655814398522401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/06/skripsi.html' title='Skripsi'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-ZsJOvMypeAg/TgXpinavz-I/AAAAAAAAAIw/c5XXUOCGzPI/s72-c/skripsi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-3393100959708392590</id><published>2011-04-25T12:02:00.000-07:00</published><updated>2011-04-25T12:47:35.194-07:00</updated><title type='text'>Dua Puluh Dua</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-jlEirNnGkEU/TbXPsPvkwdI/AAAAAAAAAIk/F7zFbR3_0rk/s1600/twenty%2Btwo.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 160px; height: 160px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-jlEirNnGkEU/TbXPsPvkwdI/AAAAAAAAAIk/F7zFbR3_0rk/s200/twenty%2Btwo.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5599610070752346578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Konon, kata-kata terbaik akan deras keluar dari seorang Sapardi ketika hujan turun. Saya tak pernah tahu, bilakah hari gelap adalah waktu yang paling baik untuk berkata-kata bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tulis entri ini ditemani kedhaifan seorang manusia di depan ilusi bernama bahasa. Maria Callas, sang diva seriosa pemurung itu, terus berputar-putar di kepala saya. Suaranya membawa saya menyambangi gedung-gedung opera dari Italia hingga Amerika. Tentunya lewat karunia Tuhan yang paling saya syukuri: imajinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ayah-ibu, saya lahir di hari rabu jam sembilan pagi. Itu dua puluh dua tahun yang lalu. Dan beberapa teman "memaksa" saya untuk mengingat perkataan ayah-ibu tadi lewat ucapan selamat ulang tahun. Barangkali ulang tahun patut menjadi sesuatu yang sakral. Hari yang selalu saya sambut dengan senang di masa kecil dengan harapan mendapatkan tambahan uang jajan atau mainan baru dari ayah dan pesta kecil di rumah yang dirancang ibu. Tapi itu dulu. Ketika saya belum mendengar cerita seorang teman yang hampir tak pernah melakukan selebrasi di hari lahirnya. Ya, dia cukup meracuni saya bahwa hidup tak akan pernah istimewa. Seseorang dilahirkan, beranjak kanak-kanak, remaja, dewasa, tua, lalu "masuk surga" -meminjam coretan di sebuah oblong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh dua, atau lima tahun sebelum Kurt Cobain memapatkan selongsong peluru ke kepalanya dan Soe Hok Gie keracunan di gunung Semeru. Dan lebih cepat satu tahun untuk mencapai umut Chairil Anwar menulis sajak di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,&lt;br /&gt;menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,&lt;br /&gt;malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu.&lt;br /&gt;Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang&lt;br /&gt;dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;&lt;br /&gt;tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang&lt;br /&gt;Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama setelah menulis sajak itu, kita tahu Chairil benar-benar sampai di Karet. Di peraduan yang seolah telah ia ramalkan. Saya tak tahu apakah Chairil memiliki kemampuan untuk melihat masa depannya. Saya juga tak tahu apakah yang sering orang bilang sebagai firasat memang eksis. Tapi dari Karet, Chairil masih berbicara. Bau rokok, bir, dan bohemian hidupnya masih terngiang-ngiang setiap membaca sajaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap ulang tahun, setiap ada laku yang koersif untuk mengingatkan kita akan peristiwa kelahiran kita, selalu ada ucapan 'panjang umur' yang hadir. Tak sulit untuk mencari alasan: sang pengucap dan yang dituju tentu ingin selama mungkin bernapas, umur yang panjang. Tapi barangkali, umur yang panjang bukanlah berapa banyak helai rambut yang memutih atau berapa lama kita ingin menghirup udara pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena saya mulai percaya, 'panjang umur' lebih berarti berapa lama suara anda terdengar dari 'Karet' anda masing-masing. Seperti Chairil -mungkin juga Cobain dan Gie. Suara mereka terdengar meski tak menghirup udara yang sama dengan kita. Hingga sekarang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-3393100959708392590?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/3393100959708392590/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/04/dua-puluh-dua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/3393100959708392590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/3393100959708392590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/04/dua-puluh-dua.html' title='Dua Puluh Dua'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-jlEirNnGkEU/TbXPsPvkwdI/AAAAAAAAAIk/F7zFbR3_0rk/s72-c/twenty%2Btwo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-6120188459494069308</id><published>2011-04-08T08:04:00.000-07:00</published><updated>2011-04-08T08:50:06.419-07:00</updated><title type='text'>Tawa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-y-2KdffoWpM/TZ8uQg4hoYI/AAAAAAAAAIc/E93hGZq46T4/s1600/Briptu-Norman-Kamaru.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-y-2KdffoWpM/TZ8uQg4hoYI/AAAAAAAAAIc/E93hGZq46T4/s200/Briptu-Norman-Kamaru.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5593240123457249666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seorang polisi. Dia menghisap rokoknya lamat-lamat. Lebih sebagai sebuah aksi ketimbang benar-benar ingin merokok. Biar lebih &lt;span style="font-style:italic;"&gt;cool&lt;/span&gt; , mungkin pikirnya. Sebuah suara pria -tentunya bukan suaranya- mengawali sebuah lagu. Selama kira-kira enam menit kita akan tertawa, minimal tersenyum kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang polisi adalah Briptu Norman Kamaru, seorang anggota Brimob yang bertugas di Gorontalo. Saya tak tahu betul apa yang merasukinya hari itu. Dengan begitu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;khusyu&lt;/span&gt; dia berlaku layaknya Sukhwinder Singh, seorang penyanyi Hindi. Suara gendang dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;krincingan&lt;/span&gt; dari lagu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Chaiya-Chaiya&lt;/span&gt; seolah membawanya jauh dari markasnya hari itu. Dari kejenuhan tugas jaga seorang polisi berpangkat rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Briptu Norman gembira, kita tertawa. Ada yang berubah dari hati saya setelah melihat lenggak-lenggok Briptu Norman di video itu. Saya adalah seorang yang cukup skeptis terhadap institusi kepolisian. Tentunya bukan karena hasil investigasi jurnalistik sebuah majalah soal rekening gendut petinggi-petinggi polisi. Saya skeptis karena beberapa kali diminta menyetor biaya yang saya rasa bukan pajak atau juga bukan pendapatan negara bukan pajak kepada polisi yang menilang saya di jalan. Saya tak tabu terhadap setoran biaya tadi, hanya kesal secara individu, dan saya rasa hal tersebut sah-sah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana, saya yakin, masih banyak  polisi yang humoris seperti Briptu Norman. Yang membedakan, mereka mungkin tidak terlalu kreatif seperti Briptu Norman. Dan kreatifitas Briptu Norman tadi mungkin telah mengubah krenyit dahi saya setiap melihat polisi di arteri jalan ibu kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagialah mereka yang hobi tertawa. Dan lebih berbahagia lagi mereka yang melampaui alasan-alasan orang normal untuk tertawa. Dan untuk kasus Briptu Norman, sejenak saya senang menjadi orang Indonesia. Briptu Norman -yang konon katanya telah melanggar etika korps bhayangkari - sekejap menjadi artis (ya, saya menyebutnya artis berasal dari kata "art" dan bukan selebritis yang berasal dari kata "celebration", di mana yang pertama lebih murni ketimbang yang kedua yang cenderung pura-pura). Kalau LSI mau buat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;polling&lt;/span&gt;, saya yakin akan lebih banyak orang yang senang dengan kelakuan Briptu Norman ketimbang menghujatnya. Saya senang karena bangsa ini -setidaknya dalam kasus Briptu Norman- bukanlah bangsa yang terlalu serius, hobi mengerenyitkan dahi, dan hobi berkomentar untuk hal-hal yang entah apa maksudnya, seperti etika, kode etik, atau apapun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat seorang teman, yang juga hobi tertawa dan saya anggap pintar, pernah berkata: orang yang sering tertawa adalah orang yang banyak tahu. Saking banyak tahunya dia berpikir: mengapa kita harus terlalu serius? Selalu ada paradoks. Selalu ada antitesis untuk semua tesis, layaknya ada kematian untuk kehidupan. Dalam pola yang sirkuler tadi (atau dalam kata lain &lt;span style="font-style:italic;"&gt;begitu-begitu saja&lt;/span&gt;) kenapa kita harus terlalu serius?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Briptu Norman memang benar-benar artis. Seorang artis adalah seorang yang bekerja tanpa terbentur kapitalisasi nilai guna, meminjam Goenawan Mohamad. Atau jangan-jangan, yang dilakukan oleh Briptu Norman sangatlah berguna. Setidaknya bagi saya. Setidaknya sekarang. Dia menghadirkan tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;--untuk Agyeeta yang entah mengapa menunggu saya meracau di blog--&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-6120188459494069308?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/6120188459494069308/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/04/tawa.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/6120188459494069308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/6120188459494069308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/04/tawa.html' title='Tawa'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-y-2KdffoWpM/TZ8uQg4hoYI/AAAAAAAAAIc/E93hGZq46T4/s72-c/Briptu-Norman-Kamaru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-7061231680757377843</id><published>2011-01-28T04:13:00.000-08:00</published><updated>2011-01-28T04:46:32.897-08:00</updated><title type='text'>Lampu Jalan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TUK6k8rkg_I/AAAAAAAAAHM/DPxmoB2w3HQ/s1600/lampu-jalan-baru1b-fyusuf.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 141px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TUK6k8rkg_I/AAAAAAAAAHM/DPxmoB2w3HQ/s200/lampu-jalan-baru1b-fyusuf.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567217233310286834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah anda menghitung lampu jalan? Tentu tidak.Buat apa? Apa perlunya? Tapi tentu, baginya, yang "perlu" dan "tak perlu" sudah melebur. Mungkin pada awalnya adalah "tak perlu", jadi seolah "perlu" ketika ada yang misterius disematkan padanya. Dan tentu kita yang dhaif tidak akan pernah menangkap yang misterius tadi. Apa perlunya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia teringat salah satu hobinya di masa kecil. Dahulu, ketika setan dalam tubuhnya belum meraung-raung seperti sekarang, ketika ia masih terlalu lugu untuk tak percaya mana yang baik dan tidak, ketika masalah sex masih tak terbahasakan, ia pernah begitu suka memandangi sebuah kertas. Yang perlu ia lakukan adalah membuat matanya  seolah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jereng&lt;/span&gt; dan yang terjadi adalah sebuah keajaiban! Ia pernah terpana melihat lumba-lumba yang berenang lincah, harimau yang tak segan menerkam, dan juga sebuah kontur abstrak yang tanpa pernah ia mengerti terasa begitu memanjakan korneanya. Kalau ia tak salah, namanya kertas tiga dimensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu ia &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kangen&lt;/span&gt; masa-masa itu. Ketika belum ada sebuah penindasan dari kata "guna" atau dalam bahasa langit para ekonom disebut biaya implisit: sebuah koersi yang menyatakan bahwa magang di sebuah firma hukum ternama jauh lebih "berguna" ketimbang menikmati temaram lampu jalanan yang berderet. Sebuah masa ketika yang renik adalah raksasa dan sebaliknya. Ah, tapi sudahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nun&lt;/span&gt; lima puluh meter dari beranda kamarnya, sebuah lampu jalan kokoh berdiri. Segerombolan laron menari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;twistdance&lt;/span&gt; diiringi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"My Girl"&lt;/span&gt; dari Temptation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;...dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi. Dan jadilah demikian... (Kejadian 1:15)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-7061231680757377843?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/7061231680757377843/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/01/lampu-jalan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/7061231680757377843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/7061231680757377843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/01/lampu-jalan.html' title='Lampu Jalan'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TUK6k8rkg_I/AAAAAAAAAHM/DPxmoB2w3HQ/s72-c/lampu-jalan-baru1b-fyusuf.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-8663121324795371422</id><published>2011-01-06T07:38:00.000-08:00</published><updated>2011-01-06T08:54:59.117-08:00</updated><title type='text'>Eurico</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TSXx-fL_ZGI/AAAAAAAAAHE/9vGwRgTKDe0/s1600/ball.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TSXx-fL_ZGI/AAAAAAAAAHE/9vGwRgTKDe0/s200/ball.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5559115370884719714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ingatkah anda dengan Romario? Salah satu pemain yang dianggap talenta terbaik sepakbola Brazil. Bersama Bebeto di lini depan, Romario menampilkan sepakbola indah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jogo Bonito&lt;/span&gt; yang mengantarkan Brazil menjuarai Piala Dunia 1994. Setelah melanglang buana di eropa bersama Barcelona, PSV Eindhoven, dan Valencia, Romario kembali ke tanah airnya dan sempat mencetak 41 gol dari 46 pertandingan bersama Vasco Da Gama medio 2000-2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2002, Romario meninggalkan Vasco untuk pindah ke salah satu rival klub tersebut di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Campeonato Brasileiro&lt;/span&gt;, Fluminense. Setelah kepergian Romario, bilbor raksasa yang menggantung dari menara stadion berganti. Wajah Romario diganti wajah seorang pria tanpa senyum dengan kepala mulai membotak, rambut beruban, dagu berlipat, dan kacamata gagang emas berukuran besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Eurico Miranda, anggota kongres federal dan Presiden klub Vasco da Gama. Miranda digadang bilbor raksasa tadi sebagai "Simbol Perlawanan Rakyat Miskin". Di seberang gerbang utama Sao Januario, sebuah mobil Ford Escort mengalunkan lagu samba dengan kencang dengan liriknya "Eurico kandidat rakyat miskin". Ada juga spanduk yang membentang dengan tulisan: "Gelora untuk Vasco, pengabdian untuk Eurico". Serangkaian kampanye tadi merupakan upaya Eurico untuk terpilih kembali menjadi anggota kongres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eurico adalah anak tukang roti. Di waktu muda ia bekerja sebagai dealer Volkswagen di Rio de Janeiro. Dia bergabung dalam manajemen Vasco tahun 1975, pada awal usia 30-an. Awalnya ia tak memiliki sepeser-pun saham di Vasco dan hanya bertugas di bidang manajemen klub. Kelihaian Eurico untuk melobi jajaran atas klub membuat dia memegang jabatan wakil presiden klub sejak 1986. Jabatan yang ia pegang sampai tahun 2000 sebelum pada tahun 2001 ia naik pangkat menjadi presiden klub hingga tahun 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1998 Vasco menerima dana kontan 34 juta dolar dari Bank of America yang ingin menancapkan kukunya di pasar Brasil dengan mensponsori tim olahraga populer. Uang tersebut disuntikkan sebagai investasi awal klub hingga 100 tahun berikutnya. Nyatanya tak sampai dua tahun uang tersebut amblas sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam investigasi media lokal yang dimuat Franklin Foer dalam bukunya&lt;span style="font-style:italic;"&gt; How Soccer Explains the World: The Unlikely Theory of Globalization&lt;/span&gt;, sekitar 124 ribu dolar dipakai untuk membiayai kaos dan propaganda Eurico yang disaaat bersamaan mencalonkan diri menjadi anggota kongres. Sebesar 12 juta dolar melayang ke empat rekening perusahaan di Bahama. Perwakilan legal manapun dari Vasco bisa menarik uang seenaknya. Dikabarkan lagi, berdasarkan investigasi yang dilakukan senat Brasil, uang yang ditarik tersebut dipakai untuk membayar dealer mobil milik Miranda, investasi bisnis, kartu kredit, saudaranya, dan jasa internet. Hal ini berimbas dengan ketidakmampuan klub membayar gaji pemainnya. Pemain bintang sekelas Romario bahkan memiliki piutang gajinya terhadap klub sebesar 6,6 juta dolar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menutupi hutang-hutang klub, penjualan tiket secara massif dicoba menjadi jalan keluar. Di pertandingan terakhir tahun 2000, manajemen Vasco menjejalkan 12.000 penonton lebih dari kapasitas tempat duduk stadion Sao Januario, milik Vasco. Keributan pecah di tribun, Penonton mulai menyelamatkan diri dan berjatuhan saling timpa satu sama lain. Pagar pembatas roboh dan imbasnya banyak penonton yang terhempas masuk lapangan. Korbannya 168 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah tragis persentuhan sepakbola dan politik di dunia ketiga tadi saya dapat dari buku Franklin Foer yang mencoba menjelaskan globalisasi dengan sepakbola. Ya, persentuhan sepakbola dan politik menjadi topik hangat yang dibahas di media massa akhir-akhir ini. Permainan apik yang ditunjukkan oleh Tim Nasional Indonesia di Piala AFF seolah menjadi komoditas baru jualan para politisi di Indonesia. Mau bukti? Majalah Tempo terbitan 9 Januari 2011 menampilkan apa yang mungkin membuat kita percaya hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Stadion Nasional Bukit Jalil, Kuala Lumpur, 26 Desember 2010, Indonesia dibantai Malaysia 3-0. Di balkon stadion tersebut, terpacak poster-poster yang menampilkan wajah yang tak asing lagi. Di tengah, Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie. Lalu ada Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia Nurdin Halid, dan Ketua Umum Partai Amanat Nasional Hatta Rajasa. Adapun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tampil di ujung kiri dan kanan mengapit tiga gambar poster politik lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak berani bilang persentuhan antara sepakbola dan politik pasti berakhir buruk dan tragis seperti yang terjadi di Brasil. Di masa kepemimpinan Silvio Berlusconi, AC Milan dapat dibilang mencapai masa keemasannya. Dan kita tahu siapa Berlusconi. Selain taipan media di Italia, Berlusconi adalah salah satu poltisi terakbar di negeri pizza. Jabatan penting seperti menteri kesehatan, ekonomi dan finansial, luar negeri, hingga yang paling puncak menjadi perdana menteri pernah ia jalani sembari memimpin AC Milan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, mungkin kita tak perlu lagi asing dengan para politisi yang memimpin klub sepakbola. Dengan keuangan sebagian besar klub yang mengambil porsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), kita sudah mahfum denggan posisi banyaknya kepala daerah di Indonesia yang juga &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nyambi&lt;/span&gt; menjadi pemimpin klub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang menjadi induk sepakbola nasional-pun dipimpin seorang politisi. Nurdin Halid dikenal sebagai politikus Golkar. Ia menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari partai beringin pada 2004-2009. Pada 2004, Nurdin ditahan karena disangka menyelundupkan 73 ribu gula impor ilegal. Setahun kemudian, ia dipenjara karena terbukti mengimpor beras ilegal dari Vietnam. Selepas menjalani hukuman setahun- dari vonis dua setengah tahun- ia kembali masuk bui pada tahun 2007. Kali ini ia dituduh menyelewengkan dana minyak goreng milik Koperasi Distribusi Indonesia. Tahun 1997, Nurdin pernah dipercaya menjadi manajer Pelita Jaya, klub sepakbola milik keluarga Bakrie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rentetan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;track record&lt;/span&gt; Nurdin yang dianggap penuh cacat ditambah anggapan di masa kepemimpinannya sepakbola nasional tidak juga mengalami perubahan signifikan membuat desakan masyarakat, yang paham sampai awam soal karut-marut sepakbola nasional, agar Nurdin turun menjadi gencar. Penampilan apik Tim Nasional di Piala AFF 2010 yang lalu seakan tak diterima menjadi apoligi bagi Nurdin. Bahkan banyak yang dengan tegas menyatakan bahwa sosok Alfred Riedl-lah yang membawa kemajuan di dalam tubuh Tim Nasional. Dan kemajuan tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan PSSI. Sampai beredar komentar populer, "Itu prestasi timnas, bukan PSSI."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepakbola dan politik, terlebih bagi negara-negara di dunia ketiga seperti Brasil dan Indonesia, akan selalu berkelit-kelindan satu sama lain dan sangat sulit untuk dipisahkan. Politisi akan selalu memanfaatkan ruang-ruang publik di mana masa berkerumun untuk "menjual diri". Sepakbola, yang di Indonesia merupakan olahraga paling populer, tak pelak menjadi salah satu komoditas paling ampuh sebagai alat para politisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi yang hampir mustahil untuk memisahkan sepakbola dan politik, satu-satunya langkah yang paling logis adalah mereduksi secara perlahan peran para politisi di lapangan hijau. Salah satunya mungkin bisa ditempuh dengan membuat sepakbola lebih swasta -kita harus cukup berterima kasih dengan para penggagas Liga Primer Indonesia (LPI). Karena, saya teringat satu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;twit&lt;/span&gt; dari seorang pengamat sepakbola: salah satu alasan Nurdin sulit untuk diturunkan adalah karena ia didukung banyak pengurus sepakbola di daerah. Hal ini relevan karena Nurdin mendukung penggunaan APBD untuk menghidupi klub-klub di daerah. Dan siapa yang berani bilang jikalau dana APBD untuk menghidupi klub-klub di daerah tadi bebas dari praktek-praktek korup seperti yang dilakukan Eurico di Brasil?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-8663121324795371422?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/8663121324795371422/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/01/eurico.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/8663121324795371422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/8663121324795371422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2011/01/eurico.html' title='Eurico'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TSXx-fL_ZGI/AAAAAAAAAHE/9vGwRgTKDe0/s72-c/ball.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-6968953411334566029</id><published>2010-12-30T12:18:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T12:21:02.250-08:00</updated><title type='text'>Diego</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TRzppet2xzI/AAAAAAAAAG8/Nz8bswbyK5o/s1600/diego.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 141px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TRzppet2xzI/AAAAAAAAAG8/Nz8bswbyK5o/s200/diego.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556572939097655090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Malam menuju pergantian milenium. Rakyat Buenos Aires, Argentina, bersama milyaran penduduk dunia disibukkan dengan acara menghitung mundur untuk pergantian tahun. Sorak sorai membahana di seantero negara kelahiran salah satu keajaiban terbesar yang pernah dilahirkan sepakbola, Diego Armando Maradona. Maradona juga merayakan tahun baru. Namun, segulung kertas alumunium foil dan beberapa gram kokain dipilihnya menjadi teman penghabis malam. Di saat orang-orang menghitung mundur menuju pergantian tahun, Maradona tengah menghitung mundur kematiannya. Maradona kolaps. Esok paginya, di awal lembaran milenium baru, Argentina dan dunia tertegun. Jutaan kuli tinta meliput tumbangnya sang maestro sepakbola. Hepatitis menjadi kamuflase overdosisnya sang megabintang….Beruntung, malaikat maut masih enggan menjemput….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mexico City, 1986. Seluruh mata maniak kulit bundar tertuju ke stadion Azteca. Sore itu, dunia disuguhi salah satu tontonan terdahsyat sepakbola. Argentina akan berhadapan dengan Tim Tiga Singa, Inggris, dalam semifinal Piala Dunia. Ini bukan cuma soal sepakbola. Sentimen perang di Malvinas menjadi bumbu penyedap laga. Mata dunia tertuju pada ke 22 petarung lapangan hijau. Tak pelak, pemain bernomor 10 tim biru putih menjadi sorotan. Ya, degup jantung dan adrenalin serasa berpacu ketika bola dikuasai si boncel Maradona. Dunia menunggu sihir apa yang hendak dilakukannya. Syahdan, sebuah penetrasi Maradona membuat bek-bek Inggris kocar-kacir. Bola melambung setelah terlebih dahulu mengenai Steve Hodge, bek Inggris. Bola setinggi lebih dari dua meter seakan mustahil dijangkau Maradona yang bertinggi tak lebih dari 165 cm. Kiper Inggris Peter Shilton bersiap menghalau bola. Maradona tak kehabisan akal, tangannya dikepal,ia meloncat, bola ia dorong dengan tinju kirinya. Si kulit bundar melambung melewati kepala Shilton. Gol…Para pemain Inggris tidak terima. Saya yakin, seluruh pemain yang berada di lapangan, dan ribuan pasang mata di stadion, bahkan jutaan pecandu bola yang menonton lewat layar kaca tahu apa yang terjadi. Nampaknya, hanya wasit Ali Bin Nasser yang tidak melihat. Gol yang disarangkan Maradona dengan tangan kemudian populer dengan nama, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"La Mano De Dios”&lt;/span&gt;, gol “Tangan Tuhan”. Gol keduanya pun tak kalah ajaib. Melewati hampir seluruh pemain Inggris, termasuk Shilton, Maradona mengantar Argentina ke final piala dunia 1986. Keesokan harinya, media-media negeri Pangeran Charles ramai-ramai menulis headline, "Maradona 2-1 England". Di final, daya magis &lt;span style="font-style:italic;"&gt;El Diego&lt;/span&gt; belum sirna. Trengginasnya panser Jerman Barat tak cukup kuat menahan liukan Maradona. Argentina dibuatnya berpesta pora. Piala dunia ia bawa pulang ke Argentina. Mexico 1986 menjadi saksi bisu bagaimana seorang Diego Maradona memporakporandakan hegemoni negara-negara Eropa dalam sepakbola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini, sebuah film berjudul, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Maradona The Hand Of God”&lt;/span&gt; keluar. Sang sutradara, Marco Risi, mencoba menampilkan film yang mengangkat kehidupan Maradona lewat drama, bukan dokumenter. Film berbahasa Spanyol dan Italia ini bukan ingin menonjolkan Maradona sebagai pesepakbola. Risi mencoba menghadirkan Maradona sebagai seorang manusia beserta paradoks kehidupannya. Seperti taglinenya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“ A God To Millions, A Demon To Himself”&lt;/span&gt;, film besutan Risi ingin menghadirkan dua sisi hidup Maradona. Dia pernah dipuja bak Tuhan oleh warga Naples, dia juga pernah dihujat karena ketergantungannya dengan narkotika dan perilakunya yang bengal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maradona adalah fenomena abad 20. Dia bukan hanya seorang pesepakbola, dia juga adalah sebuah merk dagang terakbar. Di masa jayanya, semua yang berbau Maradona akan laku dijual, terutama bagi para pecandu sepakbola. Kostum Maradona, wig Maradona, cola Maradona, kondom Maradona, hingga agama Maradona, adalah hasil dari industrialisasi namanya. Maradona pun menjadi tambang uang bagi mereka para “pengusaha hitam”. Dia adalah pelanggan royal bagi bandar narkoba kelas atas. Dia juga adalah sumber uang bagi mucikari-mucikari kelas kakap atas kegemarannya berwisata seks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin mengajak anda untuk melupakan sosok Maradona sebagai maestro lapangan hijau. Maradona adalah korban. Korban sebuah pola pikir kapitalistik bernama rasio instrumental. Para pentolan Mazhab Frankfurt, Horkhaimer, Adorno, Marcuse, mendefinisikan rasio instrumental sebagai rasio yang melihat realitas sebagai potensi untuk dimanipulasi, ditundukkan, dan dikuasai secara total. Rasio instrumental memandang realitas (alam dan manusia) sebagai objek untuk diklasifikasi, dikonseptualisasi, ditata secara efisien untuk tujuan apapun bagi pemegang uang. Maradona adalah entitas dari produk kapitalistik modern tersebut. Di mana semua pantas untuk dilabeli harga sesuai kehendak pasar, termasuk para pemain sepakbola. Problem yang sempat membuat almarhum Paus Yohanes Paulus II mengkritik FIFA dan para pemilik klub sepakbola Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari semuanya, secara pribadi saya selalu menganggap Maradona adalah yang terbesar yang dilahirkan dunia sepakbola. Meskipun Pele dinobatkan sebagai pemain terhebat abad 20, ke”gila”an Maradona selalu mendapat tempat di hati saya. Maradona adalah Tuhan, Maradona adalah setan…Dia adalah Tuhan bagi jutaan orang, dia adalah setan bagi dirinya…&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Viva El-Diego, Viva El-Loco&lt;/span&gt;….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....APRIL, 2008...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-6968953411334566029?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/6968953411334566029/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/12/diego.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/6968953411334566029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/6968953411334566029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/12/diego.html' title='Diego'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TRzppet2xzI/AAAAAAAAAG8/Nz8bswbyK5o/s72-c/diego.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-635226942788350071</id><published>2010-12-30T10:10:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T11:41:30.067-08:00</updated><title type='text'>Imajinasi Kita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TRzUq84VizI/AAAAAAAAAGs/EtrrkUkbKcc/s1600/jersey%2Btimnas.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TRzUq84VizI/AAAAAAAAAGs/EtrrkUkbKcc/s200/jersey%2Btimnas.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556549874630363954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Tak ada yang begitu amat mengena di hati selain rasa manis yang muncul dari isak tangis bersama" - Rousseau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memangnya teriakan mereka ini sampai ke Bukit Jalil, ya?", ujar saya kepada seorang teman saat menyaksikan laga Malaysia vs Indonesia di sebuah kafe di bilangan Depok. Hari itu adalah Final Piala AFF. Dan kita sudah tahu bagaimana akhirnya: Malaysia keluar sebagai juara Piala AFF 2010. Indonesia harus puas melihat jirannya, yang akhir-akhir ini seolah menjadi musuh bersama rakyat Indonesia, lebih berjaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua yang hadir dalam hajatan nonton bareng di kafe tersebut memakai baju kebanggaan Tim Nasional (Timnas) dengan Garuda di dada. Hampir semuanya berteriak riuh rendah saat Cristian Gonzales mencetak gol, namun dianulir karena terlebih dahulu berada di posisi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;off side&lt;/span&gt;. Hampir semuanya menundukkan kepala -bahkan saya melihat seorang wanita meneteskan air mata- ketika tiga gol Malaysia membuktikan mereka lebih superior malam itu. Saya pun larut dalam suasana-suasana tadi dalam beberapa kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini persoalan sepakbola menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;trending topic&lt;/span&gt; -meminjam istilah di Twitter- menggantikan persoalan kisruh kekhususan Yogyakarta, Gayus, dan lain sebagainya. Aksi Firman Utina dan kawan-kawan berhasil menyulap orang-orang yang sebelumnya tak begitu mahfum soal si kulit bundar mendadak fasih berbicara soal sepakbola. Tayangan yang menampilkan kiprah Firman Utina dan kawan-kawan di Piala AFF 2010 dinilai dapat menaikkan rating televisi-televisi swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepakbola mendadak memersatukan, begitu tulis seorang kolumnis di sebuah harian nasional. Mungkin tak hanya soal kiprah pemain di lapangan hijau. Yang berkelit-kelindan tapi sebenarnya adalah persoalan di luar lapangan hijau-pun seolah menjadi bahasa persatuan baru orang-orang di Indonesia. Kalau anda adalah jamaah Al-Twitteriah yang bertakwa seperti saya, anda pasti tak lagi asing dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hashtag&lt;/span&gt; seperti #nurdinturun di samping &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hashtag&lt;/span&gt; lain seperti #GarudaFightsBack, #ThankYouRiedl, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sepakbola akhir-akhir ini sudah menjelma menjadi alasan untuk lahirnya sebuah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;imagined community&lt;/span&gt;. Seperti ditulis Ben Anderson, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Nation is political imagined community"&lt;/span&gt;. Setiap negara-bangsa, terutama yang pluraliter seperti Indonesia, adalah sebuah manifestasi dari sebuah imajinasi yang sama yang menjelma menjadi sebuah komunitas bayangan atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;imagined community&lt;/span&gt;. Kalau dulu buku sejarah menulis perihal gerakan kemerdekaan Indonesia yang didasari persamaan nasib sebagai orang yang dijajah kolonialis, maka sekarang seakan-akan orang-orang di Indonesia-pun memiliki imajinasi yang sama untuk melihat Irfan Bachdim melesakkan gol ke jala lawan atau juga melihat Nurdin Halid turun dari jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imajinasi tadi menular. Penularannya dilakukan secara dramatis. Makin dramatis sebuah imajinasi ditampilkan di ruang publik, niscaya makin akseleratif-lah semua orang mengimplan imajinasi yang sama dalam batang serebralnya. Dan kita tak perlu heran ketika imajinasi tersebut temporer sifatnya: ia layaknya sebuah pementasan drama yang ketika tirai ditutup, penonton-pun pulang ke rumah dan mulai memikirkan hal lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-635226942788350071?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/635226942788350071/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/12/imajinasi-kita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/635226942788350071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/635226942788350071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/12/imajinasi-kita.html' title='Imajinasi Kita'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TRzUq84VizI/AAAAAAAAAGs/EtrrkUkbKcc/s72-c/jersey%2Btimnas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-3627927676521382747</id><published>2010-12-21T23:42:00.000-08:00</published><updated>2010-12-22T00:03:48.104-08:00</updated><title type='text'>Yesus Sang Anarkis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TRGtB9VMZyI/AAAAAAAAAGY/yssMp2pzImM/s1600/jesus%2Bmentos.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 157px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TRGtB9VMZyI/AAAAAAAAAGY/yssMp2pzImM/s200/jesus%2Bmentos.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5553410064679462690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ada yang cukup menggelitik ketika saya membaca harian Kompas akhir-akhir ini. Setidaknya ada dua kolom –sebuah opini dan sebuah artikel-  yang dimuat di Kompas yang begitu menggelitik saya hingga memutuskan untuk melahirkan tulisan ini. Pertama adalah opini dari Saudara Roch Basoeki Mangoenpoerojo yang berjudul, “Pemangku Kepentingan Subyek Demokrasi” (Kompas, 16 Desember 2010). Dalam tulisannya Saudara Roch Basoeki Mangoenpoerojo menulis, “Mahasiswa dan aktivis berdemo karena merasa ikut bertanggung jawab terhadap kelangsungan kehidupan bernegara. Namun, ketika posisi tidak jelas, maka tidak jelas gerakannya dan tak jelas pula tanggung jawabnya. Anarki akibatnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua adalah artikel berjudul, “Kebebasan Beragama di Indonesia Dinilai Suram” (Kompas, 19 Desember 2010). Di awal artikel tersebut, ditulis, “Kehidupan kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia sepanjang tahun 2010 justru menunjukkan potret suram. Kekerasan dan anarkisme yang mengatasnamakan agama masih banyak terjadi.” Dalam artikel tersebut, dikutip pula pandangan dari Saudara Djohan Effendi, Ketua Dewan Pendiri International Conference on Religion and Peace (ICRP). Dituliskan lebih lanjut dalam artikel, “Djohan malah menilai, kebebasan beragama dalam kurun waktu satu-dua tahun terakhir merupakan yang terburuk sepanjang kemerdekaan. Indikatornya, banyak terjadi anarkisme atas nama agama dan pembatasan orang untuk berkeyakinan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang cukup menggelitik adalah penggunaan kata anarki dan anarkisme dalam dua kolom di harian yang menurut saya terbaik di Nusantara. Dalam konteks kalimat-kalimat yang saya kutip di atas, terlihat jelas apabila kata-kata anarkisme dan kata dasarnya anarki dimaknai sebagai substitusi dari  kata ‘kekerasan’. Sebuah nilai rasa yang cenderung ke arah negatif seakan disematkan ke dalam kata anarki dan anarkisme. Hal tersebut membuat saya bertanya-tanya: apakah sang kata sudah ditempatkan dalam definisi yang layak dan sepatutnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs ensiklopedia bebas Wikipedia –dalam edisi bahasa Indonesia- sudah memberikan definisi yang memadai perihal kata anarkisme. Anarkisme berasal dari kata dasar "anarki" dengan imbuhan -isme. Kata anarki merupakan kata serapan dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;anarchy &lt;/span&gt;(bahasa Inggris) atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;anarchie &lt;/span&gt;(Belanda/Jerman/Prancis), yang berakar dari kata bahasa Yunani, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;anarchos/anarchein&lt;/span&gt;. Ini merupakan kata bentukan a- (tidak/tanpa/nihil/negasi) yang disisipi /n/ dengan archos/archein (pemerintah/kekuasaan atau pihak yang menerapkan kontrol dan otoritas - secara koersif, represif, termasuk perbudakan dan tirani); maka, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;anarchos/anarchein&lt;/span&gt; berarti "tanpa pemerintahan" atau "pengelolaan dan koordinasi tanpa hubungan memerintah dan diperintah, menguasai dan dikuasai, mengepalai dan dikepalai, mengendalikan dan dikendalikan, dan lain sebagainya.” (http://id.wikipedia.org/wiki/Anarkisme)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membicarakan anarkisme membuat kita tidak bisa lepas dari spektrum pembicaraan filsafat politik. Max Stirner, Bakunin, dan Kropotkin merupakan sederet anarkis yang sering dianggap sebagai bentuk revisionisme ideologi politik yang dibangun Karl Marx. Anarkisme dengan Marxisme memang berkelindan rapat, mengingat bahwa silsilah komunisme libertarian mencakup pula analisa atas kapitalisme, dengan fokusnya pada logika eksploitatif dan dampak merusaknya pada hubungan antar manusia (Sheehan, 2003; hal 10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada intinya kaum anarkis adalah mereka yang anti terhadap segala bentuk subordinasi dari penguasa atau dalam bentuknya yang lebih institutif yaitu Negara. Bagi kaum anarikis, Negara adalah kamuflase bagi semua bentuk penindasan, eksploitasi, perbudakan yang diujung merupakan penyebab degradasi manusia. Seperti diungkapkan dalam kata-kata Bakunin, “Negara itu seperti rumah jagal raksasa atau kuburan mahaluas,  di mana semua aspirasi riil, semua daya hidup sebuah negeri masuk dengan murah hati dan suka hati dalam bayang-bayang abstraksi tersebut untuk membiarkan diri mereka dicincang dan dikubur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemaknaan mengenai anarkisme tadi seringkali jadi rancu atau bias ketika dia sudah dikontekstualisasikan dalam ranah publik. Pemaknaan anarkisme, seperti ditampilkan dalam kutipan-kutipan di atas, sudah disimplifikasi sedemikian rupa sehingga dengan begitu mudahnya dia didefinisikan sebagai kekerasan atau amuk massa. Daniel Hutagalung, dalam pengantarnya di buku Sean M. Sheehan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Anarchism&lt;/span&gt; (diterjemahkan menjadi Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan), menganggap anarkisme sebagai sebuah konsep dalam ilmu sosial maupun filsafat kerapkali disalahartikan- atau bisa jadi sengaja disalahartikan- sebagai suatu prinsip yang berhubungan dengan hal-hal yang bernuansa destruktif, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;chaotic&lt;/span&gt;, dan ketidakteraturan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;disorder&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal definisi merupakan hal yang amat penting dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan. Mendefinisikan sesuatu dimulai dengan memberikan nama pada sesuatu. Definisi berasal dari kata bahasa Inggris, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;to define&lt;/span&gt;”, yang dapat diartikan sebagai membatasi. Definisi juga memiliki akar kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;finire&lt;/span&gt; (bahasa Latin) yang berarti mengakhiri. Dengan memberikan definisi berarti kita menyediakan secara ketat horison (batas) dan orientasi bagi topik pembicaraan kita. Ketidaktahuan terhadap definisi akan sesuatu hal membuat kita cenderung bias dalam memaknai sesuatu. Dan ketiadaan pengetahuan akan sebuah definisi dapat membawa kita kepada sebuah kesalahan  yang berulang-ulang dan cenderung memperlihatkan dekadensi dari pikiran kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dengan terlebih dahulu mendefinisikan anarkisme secara lebih tepat, tak salah apabila saya katakan Yesus sebagai salah seorang anarkis tersohor dalam tarikh sejarah umat manusia. Yesus memenuhi unsur utama seorang anarkis: dia haruslah orang yang jengah melihat otoritas yang berkuasa. Dia merasa saatnya kelas yang disubordinat (proletar) melakukan perlawanan terhadap kelas yang dominan (borjuasi). Perjanjian Baru dengan gamblang menceritakan sosok revolusioner Yesus yang dengan lantang melawan kesewenang-wenangan penguasa Romawi dan orang-orang Farisi. Dan kita tahu jikalau Sang Juru Selamat selalu ditampilkan sebagai seseorang yang mendasarkan perjuangannya dalam perjuangan tanpa kekerasan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ahimsa&lt;/span&gt;) &lt;span style="font-style:italic;"&gt;a-la&lt;/span&gt; Gandhi. Jadi, tidaklah lagi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nyambung&lt;/span&gt; apabila anarkisme masih menjadi substitusi dari kekerasan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-3627927676521382747?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/3627927676521382747/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/12/yesus-sang-anarkis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/3627927676521382747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/3627927676521382747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/12/yesus-sang-anarkis.html' title='Yesus Sang Anarkis'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TRGtB9VMZyI/AAAAAAAAAGY/yssMp2pzImM/s72-c/jesus%2Bmentos.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-6462312646897728706</id><published>2010-12-11T21:57:00.000-08:00</published><updated>2010-12-11T22:37:23.050-08:00</updated><title type='text'>Sedikit Pemanasan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TQRsYOexkfI/AAAAAAAAAFw/jPiqX98toug/s1600/pemanasan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 152px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TQRsYOexkfI/AAAAAAAAAFw/jPiqX98toug/s200/pemanasan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549679804287128050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, apabila harus dikalkulasi, seumur hidup barulah dua kali aku duduk di warung kopi kelas menengah ke atas. Tentunya keduanya ditraktir. Satu oleh kawan dan satu lagi oleh Ayah. Dan aku memang tak berniat sering-sering menghabiskan waktu di sana. Mungkin karena aku tak sudi mengonversi nilai dua buah buku novel klasik keluaran &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wordsworth&lt;/span&gt; dengan segelas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Iced Coffee&lt;/span&gt; .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kali ini beda kondisinya. Dengan insentif berupa harga miring untuk mahasiswa, aku akhirnya menyambangi sebuah warung kopi .Mungkin dengan kualitas menengah ke atas sedikit. Dengan berbekal kartu sakti yang menunjukkan status kemahasiswaanku, segelas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Brandy Cookies&lt;/span&gt; dengan kadar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;caffein&lt;/span&gt; yang ringan sudah dapat kutegak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sebenarnya tak niat-niat betul mengentri kata-kata ke sini. Mungkin hitung-hitung sebuah pemanasan-lah. Sebelum berjuta kicau yang bergejolak di kepalaku aku tumpahkan. Tentunya tanpa sebuah niat untuk memberi konklusi. Tentunya tanpa sebuah niat untuk menjadi berguna, meminjam kata-kata Farid. Dia mengolokku 'sok mau berguna dalam tulisanku terakhir yang mengritik relokasi penduduk asli Mentawai. Bah, tunggu dulu kawan! Tak ada niatku untuk berguna sama sekali di tulisan itu! Baik tulisanku yang dimuat di terbitan majalah kampus hingga essai yang kukumpulkan untuk kuliah Sosiologi Hukum, adalah manifestasi kemuakan akan jargon-jargon "nasionalisme", "cinta tanah air", "bela negara", dan lain sebagainya. Jargon-jargon yang sering diteriakkan tanpa sebab. Seperti orang yang beragama tanpa tahu kenapa ia harus memeluk agama yang ia jalankan. Niatku memang cuma mau sedikit mengganggu hidup kalian! Tanpa kewajiban untuk bertanggung jawab. Karena, seperti aku baca sedikit dalam pendapat Derrida, penulis harus "mati" setelah menelurkan tulisannya. Dia harus mati dan meninggalkan tulisannya seperti bocah yatim-piatu di tengah kerasnya dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang ingin aku entri. Soal Assange dan Wikileaks-nya yang selalu mengingatkanku akan perjuangan si anarkis bertopeng V dalam "V For Vendetta". Soal perdebatan panjang di Jogjakarta mengenai status keistimewaan sultan, di mana debat yang dikedepankan justru kebanyakan berada di ranah romantisme sejarah semata. Atau juga mengenai film -yang menurutku luar biasa- tentang bagaimana Amerika memerlakukan tawanannya, dan jelas menjadi bukti jikalau dalam perang segala macam tahi kucing perihal hak asasi manusia harus dikurungkan terlebih dahulu. Tapi, kalau ada waktu, nantilah aku berkicau. Sekarang sedang tidak fokus dengan tuntutan untuk menyelesaikan berbagai macam tugas hingga memulai skripsi. Tidak tepat waktunya. Bedebah memang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, sebentar lagi natal. Natal adalah hari istimewa bagiku. Dibesarkan di tengah keluarga besar yang memeluk dua keyakinan membuatku memerlakukan lebaran dan natal sama istimewanya. Tentunya dengan mengenyampingkan sisi religiusitas dan spiritualitas dari keduanya. Di titik ini keduanya adalah sebuah momen kumpul keluarga yang selalu kurindukan. Tak lebih. Menjadi seorang agnostik membuatku lebih menghargai agama secara "manusiawi". Kolektivitas-lah yang membuat agama-agama itu bertahan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-6462312646897728706?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/6462312646897728706/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/12/sebuah-pemanasan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/6462312646897728706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/6462312646897728706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/12/sebuah-pemanasan.html' title='Sedikit Pemanasan'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TQRsYOexkfI/AAAAAAAAAFw/jPiqX98toug/s72-c/pemanasan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-7422429919985240809</id><published>2010-11-30T02:41:00.000-08:00</published><updated>2010-11-30T02:51:31.079-08:00</updated><title type='text'>SEBUAH PENGANTAR YANG TERAMAT SINGKAT DALAM MEMBACA MARX</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TPTW_Dyf6OI/AAAAAAAAAFo/d38ZkxbM_mk/s1600/karl%2Bmarx%2Bpeace.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 140px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TPTW_Dyf6OI/AAAAAAAAAFo/d38ZkxbM_mk/s200/karl%2Bmarx%2Bpeace.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5545293420037138658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sebenarnya ini adalah essai yang aku kumpulkan untuk tugas mata kuliah Filsafat Hukum. Tapi, untuk dokumentasi dari apa yang sudah aku baca, bolehlah aku masukkan dia ke dalam blog pribadiku ini. Aku-pun bukan pembaca Marx yang tekun. Das Kapital-pun baru kubaca beberapa halaman sebelum kuletakkan lagi dalam rak sebuah toko buku. Ya, semoga nanti aku akan membacanya secara tamat seperti para santri yang pernah membaca Quran sampai Jus ke-30.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marx sebenarnya adalah ahli waris filsafat Hegel, tetapi dia adalah seorang ahli waris yang kritis. Pertama, Marx memakai metode dialektis Hegel untuk menjelaskan sejarah dan proses-proses kemasyarakatan. Kedua, Marx juga menganut asumsi-asumsi filsafat sejarah Hegel, bahwa melalui sejarah umat manusia mewujudkan dirinya ke arah sebuah (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;telos&lt;/span&gt;) tujuan tertentu. Ketiga, seperti Hegel, Marx juga merefleksikan kenyataan negatif, yaitu alienasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialektika Hegel melukiskan kenyataan sejarah yang bergerak dalam kontradiksi-kontradiksi antara tesis dan antitesis. Salah satu pembacaan yang penulis anggap baik dalam menginterpretasikan dialektika Hegel dapat ditemukan dalam tulisan Alexandre Kojeve. Dasar dari interpretasi Kojeve adalah penekanan pada “Hasrat” (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Begierde&lt;/span&gt;) sebagai ketiadaan dan sekaligus negasi atas ketiadaan dalam dialektika Tuan-Budak. Bagi Kojeve, kesadaran-diri baru terwujud ketika manusia dapat berkata “Aku”. Ia dapat berkata demikian jika ia berhadapan dengan yang lain daripadanya, dengan objek. Namun ketika manusia mengkontemplasikan objek, memikirkannya, ia terserap ke dalam objek dan kehilangan subjektifitasnya.  Lebih jauh, Kojeve menulis, bahwa setiap orang memiliki hasrat untuk diakuinya nilai-nilai yang dia pegang, maka setiap Hasrat manusiawi adalah hasrat akan pengakuan, hasrat akan rekognisi (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Annerkenung&lt;/span&gt;). Jika setiap manusia memiliki hasrat untuk diakui nilainya oleh seluruh manusia lain, maka pola relasi antara manusia adalah bertarung habis-habisan sampai mati (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;fight to death&lt;/span&gt;) demi tercapainya universalisasi nilai. Inilah yang terjadi dalam momen dialektika Tuan-Budak Hegel dimana suatu kesadaran-diri berhadap-hadapan dengan kesadaran diri yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi,dalam dialektikanya, Hegel menganggap terjadi sintesis yang berarti “mendamaikan” kontradiksi-kontradiksi antara hasrat yang saling berbenturan itu. Bahkan sintesis menjadi final dalam Roh Absolut. Dalam pikiran Marx, sintesis macam itu hanya terjadi dalam pikiran Hegel saja. Dalam kenyataan indrawi yang konkret, konflik-konflik sosial dalam masyarakat industri (Marx berpijak di kondisi zamannya hidup di mana terjadi demarkasi antara kelas pemilik kapital atau modal dan kelas pekerja atau buruh) tetap berlangsung. Marx menyerang sintesis Hegel yang seolah-olah coba mendamaikan kontradiksi-kontradiksi yang ada di tengah masyarakat sebagai pembenaran penindasan yang berlangsung. Bagi Marx, filsafat Negara Hegel adalah bentuk pembenaran moral untuk negara Prusia. Karena itu Marx pada dasarnya tidak percaya pada sintesis final yang sering dimanifestasikan dalam konstruksi negara atau pandangan nasional. Negara yang secara normatif harusnya adalah perwujudan sintesis dari kontradiksi-kontradiksi di tengah masyarakat, justru dihegemoni oleh kepentingan kelas yang dominan (baik secara kuantitas, kualitas, maupun kapital) sebagai alasan pembenaran tindakan-tindakan penghisapan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan-tulisannya, meski berpijak pada dialektika Hegel, Marx menilai proses dialektika tidak hanya terjadi antara individu semata namun lebih besar lagi adalah terjadi antara kelas-kelas yang terdapat dalam masyarakat. Asumsi ini memiliki dasar bahwa individu-individu yang memiliki kesadaran akan hasratnya tak lepas dari pengaruh komunitas (kelas) tempatnya bernaung. Contohnya seorang Islam tentu memiliki kesadaran yang berbeda dengan seorang Kristen dalam memandang kehidupan, dimana masing-masing dari mereka amat dipengaruhi oleh agama yang mereka anut sebagai pandangan hidup. Kesadaran manusia, bagi Marx, adalah kesadaran kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Relasi-relasi ini,” kata Marx, “bukannya relasi antara satu individu dengan individu lain, melainkan antara pekerja dengan kapitalis, penggarap dengan tuan tanah, dan seterusnya. Cobalah hilangkan relasi-relasi ini, Anda pasti akan melenyapkan seluruh masyarakat; kehendak Anda yang bagai Promotheus itu, sebenarnya tak lain adalah hantu yang tak punya lengan dan kaki...” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, analisa konkret adalah relasi dengan masyarakat sebagai sebuah keseluruhan. Karena, hanya ketika relasi ini sudah ditetapkan, barulah kesadaran manusia akan eksistensinya di suatu titik waktu tertentu muncul dengan segenap karakteristiknya paling inti. Kesadaran ini muncul, di satu pihak, sebagai sesuatu yang secara subjektif dijustifikasi dalam situasi sosial dan historis, sebagai sesuatu yang dapat dan harus dipahami, atau sebagai ‘sesuatu yang benar’. Pada saat yang sama, secara objektif, ia melewati esensi evolusi masyarakat dan gagal menangkap dan mengekspresikannya dengan tepat. Artinya, secara objektif, kesadaran muncul sebagai ‘kesadaran palsu’. Di lain pihak, kita bisa melihat kesadaran yang sama sebagai sesuatu yang secara subjektif gagal mencapai tujuan dirinya, sementara terus memburu dan mewujudkan tujuan-tujuan objektif masyarakat yang tidak diketahui dan bahkan ia tidak pilih sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain filsafat dialektika Hegel, Marx juga dipengaruhi asumsi-asumsi filsafat sejarah Hegel dalam melahirkan postulatnya mengenai materialisme historis. Dalam teori Marxis kegiatan manusia yang paling penting adalah kegiatan ekonomi- produksi unsur-unsur materi. Dalam pidatonya di makam Marx, Engels menyatakan bahwa “manusia pertama kali harus makan, minum, mempunyai tempat tinggal dan pakaian, sebelum berpolitik, ilmu pengetahuan, seni, agama, dan sebagainya.” Menurut Marx, pemahaman cara suatu masyarakat mengorganisasi produksi mereka adalah kunci bagi memahami keseluruhan struktur sosial. Pandangan Marxis adalah bahwa “produksi sarana subsistensi...membentuk landasan yang diatasnya institusi negara, konsepsi hukum, seni dan bahkan gagasan tentang agam, dari orang-orang yang bersangkutan berevolusi” (pidato Engels di pemakaman Karl Marx, 17 Maret 1883).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Marx, struktur sosial tidak tercipta secara acak. Ia berpendapat terdapat pola yang cukup pasti dalam hal cara masyarakat di berbagai tempat di dunia, pada berbagai masa dalam sejarah, mengorganisasi produksi benda-benda material. Teori tentang sejarah dan masyarakat ini disebut materialisme historis.  Dengan istilah “materialisme” ini Marx menegaskan bahwa kegiatan dasar manusia adalah kerja sosial, bukan pikirannya. Di sini dia menerima pengandaian Feurbach bahwa kenyataan akhir adalah objek indrawi, tetapi objek indrawi haruslah dipahami sebagai sebuah praksis yang diejawantahkan sebagai kerja atau produksi. Marx mengkiritisi Hegel, dan banyak filosof lain, karena sikapnya yang hanya memberikan teori-teori atau maxim-maxim tanpa tuntunan untuk dimanifestasikan lewat praksis. Termasyurlah ucapan Marx : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Die Philosophen haben die Welt nur verschieden interpretiert, es komnt darauf an, sie zu verandern” &lt;/span&gt;(Para filosof tidak lebih daripada sekadar menafsirkan dunia dengan berbagai cara, padahal yang terpenting adalah mengubahnya). Sejarah, dalam penafsiran Marx dan merupakan bentuk kritisasi terhadap definisi sejarah Hegel, bukanlah lagi hanya menyangkut perwujudan diri Roh, melainkan perjuangan kelas-kelas untuk mewujudkan dirinya mencapai kebebasan. Tesis dan antitesis bukan menyangkut Roh subjektif dan Roh objektif, melainkan menyangkut kontradiksi-kontradiksi dalam hidup bermasyarakat, khususnya dalam kegiatan ekonomi dan produksi. Sintesis antara keduanya hanya akan dicapai dalam penghapusan alienasi, yakni manakala hak milik dihapus dan masyarakat tanpa kelas ditegakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, dalam pembahasan mengenai alienasi, Marx amat dipengaruhi buah pikir Hegel dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Phanomenologie des Geistes&lt;/span&gt; yang menyatakan bahwa manusia memahami kenyataan dirinya melalui kerja (berdasarkan dialektika tuan dan budak). Dalam esainya, Entfremedete Arbeit, Marx setuju dengan anggapan itu. Melalui kerjanya manusia mewujudkan bakat-bakat dirinya, mengenai dirinya, dst. Lewat kerjanya juga manusia menyatakan kebebasannya sebagai tuan atas alam dengan mengubah alam sesuai keinginannya. Selain itu, Marx berpendapat bahwa kerja juga menyatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial, sebab hasil kerjanya adalah hasil objektifikasi dirinya yang bisa diakui atau dimanfaatkan oleh orang lain. Semua ciri kerja ini sudah lenyap dalam masyarakat industri. Dalam “kerja upahan” (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lohnarbeit&lt;/span&gt;), pekerja menjual tenaganya. Hasil kerjanya lalu menjadi milik perusahaan, sehingga dia teralienasi dari produknya sendiri. Selain itu, dalam kerja upahan, pekerja juga teralienasi dari aktivitas kerjanya sendiri, sebab jenis kerjanya ditentukan majikan. Lalu, karena dia mau tetap hidup, dia terpaksa memperalat dirinya untuk mendapatkan nafkah; artinya dia pun teralienasi dari dirinya sendiri dengan lenyapnya kebebasannya. Akhirnya, terjadi persaingan di antara para pekerja dan permusuhan antara pekerja dan majikan, sehingga kerja upahan juga mengasingkan manusia dari sesamanya. Marx lalu menemukan bahwa biang keladi alienasi ini terdapat dalam institusi hak milik pribadi, yakni hak milik atas alat-alat produksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, Marx menemukan sebuah dimensi baru dari teori alienasi Hegel. Dia memperlihatkan sebuah kenyataan material dari alienasi Hegelian itu. Bukan Roh yang teralienasi, melainkan buruh atau pekerja, dan sejalan dengan Hegel, Marx juga menjelaskan bahwa alienasi tidak disebabkan oleh individu-individu, melainkan oleh proses objektif yang mengatasi individu-individu, yaitu mekanisme hak-hak milik di dalam masyarakat yang menyebabkan munculnya dua kelas yang berkontradiksi: kelas pemilik alat produksi dan kelas pekerja. Kalau Hegel menganggap alienasi ini akan diakhiri dengan jalan memahami dan refleksi, Marx lalu menganggap alienasi akan diakhiri melalui penghapusan institusi hak milik itu, sehingga masyarakat tidak terbagi menjadi kelas-kelas yang saling bertentangan. Ini tidak dilakukan lewat refleksi saja, melainkan lewat jalan praksis. Dan itu adalah revolusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;maaf, bahan-bahan bacaan yang mendasari tulisan ini tak aku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;posting&lt;/span&gt; karena aku tak paham membuat catatan kaki dalam blog. :D&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-7422429919985240809?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/7422429919985240809/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/11/sebuah-pengantar-yang-teramat-singkat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/7422429919985240809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/7422429919985240809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/11/sebuah-pengantar-yang-teramat-singkat.html' title='SEBUAH PENGANTAR YANG TERAMAT SINGKAT DALAM MEMBACA MARX'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TPTW_Dyf6OI/AAAAAAAAAFo/d38ZkxbM_mk/s72-c/karl%2Bmarx%2Bpeace.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-526435654310084853</id><published>2010-11-15T01:33:00.000-08:00</published><updated>2010-11-15T01:38:34.387-08:00</updated><title type='text'>MENTAWAI DAN PERADABAN YANG DIRAMPAS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TOD--47F2tI/AAAAAAAAAFg/4TjkCbOtakE/s1600/mentawai%2B4.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 167px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TOD--47F2tI/AAAAAAAAAFg/4TjkCbOtakE/s200/mentawai%2B4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539707898051287762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Terpaan bencana tampaknya belum mau pergi jauh dari negeri ini. Mentawai, Kepulauan yang merupakan bagian Sumatera Barat itu, kembali menjadi cerita miris persentuhan manusia dengan alam yang murka. Tsunami menggulung pesisir kepulauan Mentawai yang terdiri atas empat pulau utama, yaitu Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Berdasarkan data terakhir yang dilansir antaranews.com medio 8 November 2010, 448 orang meninggal dan 56 belum ditemukan pasca keganasan Tsunami menerpa Mentawai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana di Mentawai mungkin membuat kita berempati sebagai sesama penghuni Bumi Manusia. Namun, sebuah penelusuran yang dilakukan Kompas melahirkan cerita miris lain dari Mentawai. Kompas,dalam terbitan 13 November 2010,menghentak kita soal penelusuran yang menyatakan bahwa suku Mentawai, suku mayoritas di sana, dipaksa menerima peradaban baru yang sama sekali berbeda dengan peradaban asli mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1970-an, Departemen Sosial membuat program Pembinaan Kesejahteraan Masyarakat Terasing (PMKT). Dengan program itu, suku-suku yang dinilai pemerintah terbelakang dan primitif direlokasi agar menjadi lebih maju. Hal inilah yang juga diterima Suku Mentawai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suku Mentawai sejatinya hidup dari berburu dan meramu. Mereka hidup berkelompok dalam pola pemukiman yang disebut Uma. Uma merupakan pemukiman yang berada dekat dengan hulu sungai atau tak jauh dari aliran sungai yang bisa dilalui sampan. Uma berada jauh dari tepi pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel Kompas tersebut mengutip penelitian Tarida Hernawati, antropolog dari Yayasan Citra Mandiri, lembaga swadaya masyarakat yang fokus dalam pendampingan suku Mentawai. Lewat bukunya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Uma Fenomena Keterkaitan Manusia dengan Alam&lt;/span&gt;, Tarida mencatat salah satu kebijakan PKMT adalah program relokasi penduduk di Pulau Siberut. Masyarakat yang sebelumnya hidup berkelompok dalam Uma masing-masing disatukan ke perkampungan yang dibentuk oleh pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah lalu mendatangkan perusahaan hak pengusahaan hutan (HPH) dan perusahaan perkebunan ke Kepulauan Mentawai. Hutan, yang merupakan bagian dari Uma, tak lagi jadi milik masyarakat Suku Mentawai. Hutan sudah dikapling oleh pemilik modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui PMKT, pemerintah juga membangun antara lain pemukiman pesisir orang Mentawai di Sagecik, Pulau Sipora, Desa Muara Taikako di Pagai Utara serta Sagulima di Siberut. Bahkan sejak 2007 &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Surfaid International&lt;/span&gt; melatih orang Mentawai pesisir agar tahu bahaya gempa dan bagaimana mengantisipasi bahaya Tsunami. Namun, bagi sebagian masyarakat Suku Mentawai, proses ini tak terlalu berarti. Bagi mereka yang masa kecilnya dihabiskan di Uma yang jauhnya dua hari dari pantai, kearifan lokal yang diterima adalah seputar bagaimana cara membuat ramuan, belajar mantra-mantra, belajar berburu, dan menokok sagu. Mereka pada dasarnya tak menerima kearifan lokal soal menghadapi gempa selain bertiarap di luar rumah dan bersyukur menyambut gempa. Ya, gempa di Mentawai biasanya diikuti musim buah dan tangkapan ikan yang melimpah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi di Mentawai mengingatkan saya akan kritik yang diberikan Emmanuel Levinas perihal apa yang disebutnya sebagai ‘totalitas’ (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;totalite&lt;/span&gt;). Dalam makalahnya di sebuah kuliah filsafat, Thomas Hidaya Tjaya menjabarkan apa yang dimaksud Levinas sebagai ‘totalitas’. Totalitas merupakan sebuah situasi dalam mana manusia kehilangan wajah dan keunikannya. Dalam sebuah totalitas, manusia konkret tidaklah penting. Ia hanya dianggap sebagai angka dalam statistik saja atau sebagai bagian dari sebuah narasi besar (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;a grand narrative&lt;/span&gt;). Totalitas ini terjadi melalui mekanisme yang menempatkan diri sendiri, termasuk institusi negara, sebagai pusat, tanpa sungguh-sungguh menghormati keberlainan yang ada. Thomas menambahkan, prinsip &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bhinneka Tunggal Ika&lt;/span&gt; seperti dianut oleh negara kita juga memuat bahaya tersendiri, yakni bahwa kesatuan negara yang begitu ditekankan dapat mengakibatkan keanekaragaman itu ditindas. Ketika keseragaman menjadi prinsip utama dalam politik negara, warga negara pun dengan mudah kehilangan keberlainan atau keunikan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;alterity&lt;/span&gt;) yang terpancar dari wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola-pola uniformitas yang terkadang dipraktekkan secara koersif oleh institusi negara tersebut, seolah tidak menyadari bahwa manusia pada dasarnya ditentukan secara kultural- bahkan ide-ide tentang benar dan salah, baik dan buruk, termanifestasi dalam konstruksi budaya yang sering dapat dilihat dari keunikan kearifan lokal masing-masing peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangatlah bias ketika pemerintah, di masa lampau, menyatakan suku Mentawai sebagai suku terasing. Karena mendapatkan cap suku terasing, mereka justru dipaksa menerima peradaban baru yang pada dasarnya bukanlah jati diri mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironis apabila kita kaitkan program masa lalu pemerintah yang merelokasi suku Mentawai dari hulu sungai ke pesisir dengan bencana Tsunami yang menerpa Mentawai. Program masa lalu pemerintah tadi seakan harus dibayar dengan hilangnya ratusan nyawa akibat Tsunami.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-526435654310084853?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/526435654310084853/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/11/mentawai-dan-peradaban-yang-dirampas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/526435654310084853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/526435654310084853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/11/mentawai-dan-peradaban-yang-dirampas.html' title='MENTAWAI DAN PERADABAN YANG DIRAMPAS'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TOD--47F2tI/AAAAAAAAAFg/4TjkCbOtakE/s72-c/mentawai%2B4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-2377241626206473365</id><published>2010-11-05T23:53:00.000-07:00</published><updated>2010-11-08T00:51:59.004-08:00</updated><title type='text'>MBAH TARDJI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TNUPKxzhPII/AAAAAAAAAFY/jAerzCVH-nk/s1600/karikatur-sutardji-calzoum-bachri.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TNUPKxzhPII/AAAAAAAAAFY/jAerzCVH-nk/s200/karikatur-sutardji-calzoum-bachri.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5536347994764426370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Some lovers send gifts of flowers&lt;br /&gt;Some lovers send gifts of blood&lt;br /&gt;Some lovers send gifts of tears&lt;br /&gt;I send you my penis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;may it grow longer and longer&lt;br /&gt;may it strecth thirteen thousands miles&lt;br /&gt;from me to you, ignoring US postal regulations&lt;br /&gt;against parcels longer than 3'6"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;my lady, my love, don't cry, relax&lt;br /&gt;open your soul, your mind, be naked&lt;br /&gt;let us hope that my almighty penis&lt;br /&gt;can stand tall and straight&lt;br /&gt;as magnificent as the flagpoles outside the United Nations,&lt;br /&gt;soaring into the air, offering you peace,&lt;br /&gt;amen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;A Gift of Love from an Indonesian Gentleman in IOWA City USA to a Young Indonesian Maiden in Jakarta&lt;/span&gt; ~ Sutardji Calzoum Bachri, 1975&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaulah puisi adalah ekspresi paling jujur dari seorang penyair, adakah kita katakan Mbah Tardji terlalu "kotor" otaknya? Barangkali, bagi sebagian orang, Mbah Tardji terlalu vulgar. Barangkali, bagi sebagian orang, bahasa -terlalu- menggambarkan budi. Sehingga ketika terlalu banyak kosa kata yang definitif menjelaskan "barang-barang" di bawah pusar digunakan, maka hal tersebut tak patut adanya. Ya, Mbah Tardji memang sering tanpa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tedeng aling-aling&lt;/span&gt; berteriak "penis", atau "jembut" dalam sebuah deklamasi puisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbah Tardji menegaskan bahwa, "kata-kata bukanlah alat yang mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. "Pengertian adalah bentuk penjajahan atas kata-kata dan ide-ide adalah pembebanan. Mbah Tardji menyatakan bahwa melalui puisinya, ia telah membebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti kamus, gramatika, dan moralitas. Sehingga apabila kata telah dibebaskan, kreativitas pun menjadi mungkin. Sebab kata-kata bisa menciptakan dirinya sendiri, dan menentukan kemauannya sendiri. Akibat dari kegairahan dalam menemukan kebebasan tadi, "kata-kata meloncat-loncat dan menari di atas kertas, mabuk, dan menelanjangi dirinya sendiri, mondar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tidak sama, membelah dirinya dengan bebas, memisahkan diri semaunya, menyatukan dirinya dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya sendiri dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sendiri untuk menunjukkan bahwa dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya". Satu-satunya tugas Mbah Tardji sebagai penyair adalah membiarkan kata-kata membentuk maknanya sendiri dan mendapatkan "aksentuasi yang maksimal". (Harry Aveling, 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, perjuangan Mbah Tardji adalah sebuah perjuangan "pembebasan kata". Mbah Tardji ingin membebaskan kata-kata dari tali kekang yang diikatkan padanya. Salah satunya adalah tali kekang perihal nilai budi dari sebuah kata. Sebuah kata adalah sebuah kata. Adakah sebuah kata membawa dosa bawaan? Manusialah yang berdosa! Adakah kata "ngentot" hina? Tentu, ketika dia digunakan seorang manusia berlumur dosa untuk mengatai orang, "Ngentot lu!". Selebihnya dia adalah kata yang ditafsirkan sebagai kegiatan persenggamaan antara lingga dan yoni. Selebihnya dia adalah sebuah kata yang memiliki definisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bukan hanya kata. Perang pembebasan Mbah Tardji-pun menggunakan "!" (tanda seru) sebagai senjatanya. Dalam "Q", yang ditafsirkan Aveling sebagai ekspresi atas ketakjuban terhadap kebesaran Sang Khalik, Mbah Tardji gunakan "!" sebagai perlambang ekspresinya. Atau mungkin "!" tak berarti apa-apa. Siapa yang tahu. Bahkan Mbah Tardji-pun mungkin tak perlu tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Absurditas Mbah Tardji yang seolah kelihatan nonrealis,fantastis, hingga surealis, tentu memiliki keindahannya sendiri, jikalau keindahan adalah hal wajib yang harus selalu dimampatkan dalam setiap sajak. Tapi sajak bukan benda keramat; sajak bisa dibuat dengan mudah, dan bisa dipergunakan untuk apa pun, termasuk untuk mengejek, membuat kejutan, dan melucu, begitu komentar Remy Sylado dalam sebuah kesempatan untuk mengkritik formalitas beberapa penyair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mudah untuk menafsirkan absurditas Mbah Tardji. Tapi, bagi saya, dalam ketidakmudahan itulah puisi jadi benar-benar indah. Ketika puisi terlalu telanjang, masih pantaskah ia disebut puisi? Mungkin hal inilah yang tak disetujui Rendra. Bagi Rendra, puisi harus bisa berkomunikasi. Puisi bukan dibuat untuk kebisuan. Hal inilah yang buat Rendra pernah mengkritik puisi Goenawan Mohamad sebagai puisi bisu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Mbah Tardji, saya pun sering nikmati kedhaifan saya untuk menafsirkan noumena dalam puisi Goenawan Mohamad. Puisi Goenawan Mohamad, seperti ditulis oleh Burton Raffel, adalah sebuah kecakapan untuk mengungkapkan gejolak perasaan yang terkadang menyebabkan terlalu banyak berkata-kata, namun terlalu sedikit yang dikatakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah puisi atau sajak adalah indah ketika ia merupakan sebuah sajak yang menjadi, meminjam kata-kata Goenawan Mohamad dalam pengantar di buku kumpulan puisi Radhar Panca Dahana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sajak yang menjadi—bukan sebuah sajak yang jadi—tidak tinggal terhenti dan tergantung pada apa yang membentuknya: kata dan konsep-konsep, “benda-benda” pampat yang tersaji dan siap untuk selesai. Sebuah sajak yang “menjadi” selama-lamanya sebuah proses, bahkan seusai dibaca. Ia senantiasa bergerak, hadir, menyelinap, setengah sembunyi, tampil kembali (dengan isyarat-isyarat baru), mencipta tak henti-hentinya, berubah, menangguhkan konklusi. (Goenawan Mohamad, 1994).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sebuah puisi haruslah berproses. Dia bukanlah cerminan dari sebuah proses yang selesai. Dia diselesaikan seorang penyair karena dia haruslah selesai. Sebuah estetika dalam jeda, kembali meminjam istilah Goenawan Mohamad. Namun, dalam pembacaannya, dia selalu relevan dengan ruang dan waktu. Senantiasa bergerak dan menangguhkan konklusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembacalah yang bertugas membaca proses tadi. Seorang pembaca puisi yang baik bukanlah seorang mahasiswa manja yang cepat menyerah terhadap sebuah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;text book&lt;/span&gt; yang tak mudah dipahami, atau kuliah seorang dosen yang diolok tak pandai menguliahi. Dan itulah indahnya sebuah pembacaan puisi. Dia justru indah karena kita akan selalu dhaif dalam upaya untuk menerjemahkannya secara tuntas. Hal yang mungkin hampir serupa dalam upaya menerjemahkan eksistensi Tuhan. Yang indah adalah mengarungi lautan tak bertepi, bukan ketika merapat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-2377241626206473365?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/2377241626206473365/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/11/mbah-tardji.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/2377241626206473365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/2377241626206473365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/11/mbah-tardji.html' title='MBAH TARDJI'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TNUPKxzhPII/AAAAAAAAAFY/jAerzCVH-nk/s72-c/karikatur-sutardji-calzoum-bachri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-71105723549798753</id><published>2010-10-23T14:52:00.001-07:00</published><updated>2010-10-23T14:59:59.922-07:00</updated><title type='text'>Sabtu Ke Minggu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TMNaC8SycDI/AAAAAAAAAFQ/fKOqDGCGcF8/s1600/huck.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 100px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TMNaC8SycDI/AAAAAAAAAFQ/fKOqDGCGcF8/s200/huck.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5531363773932269618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jam-jam insomnia. Jam-jam kafein mempengaruhi kiriman impuls saraf ke batang serebral. Bisakah kau tidur? Aku tidak. Barangkali Tuhan-pun minum kopi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mick Hucknall. Ya, Simply Red. Mungkin nama-nama itu asing. Tapi,bagiku, tak lebih asing ketimbang Justin Bieber dan si banci Adam Lambert. Sejak kapan keasinganku ditentukan dengan kualitas? Entahlah, mungkin ini aneh. Tapi,seringkali, saat kalian mengasingkan yang tenar disitulah tugasku untuk membuat tenar yang asing. Sekali lagi, ini aneh. Tapi, entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ada-ada saja kelakuan temanku satu ini. Gay, ya, penyuka sesama. Ehm, mungkin bukan “penyuka”, aku pun suka bersama teman-temanku yang sesama. Barangkali “penikmat”. Ehm, mungkin bukan “penikmat”, aku pun merasa nikmat jika bersama teman-temanku yang sesama. Ah, sudahlah. Tak selamanya indikatif yang dilekatkan pada sebuah kata harus punya definisi. Selama kognisi bisa tangkap apa pemaknaan komunikasi, untuk apa merepotkan definisi? Bahasa, ya bahasa. Tak berlaku bagiku segala “politik bahasa” itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kampanye humanis yang ingin membela  eksistentsi gay di jejaring sosial. Lucu juga, karena ini diprakrasai aktivis-aktivis feminis kampus. Tentunya aku bukan seorang homofobia. Tentunya aku bukan sejumlah laskar bersorban yang mengecam festival film kaum liwat belum lama ini. Barangkali aku belum senekat teman sekampusku dalam membela gay. Tapi, kutegaskan sekali lagi, aku bukanlah seorang homofobia. Sikapku sama dengan Joe Miller dalam film &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Philadelphia&lt;/span&gt;. Aku berhak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;dong&lt;/span&gt; merasa jijik dengan mereka. Tapi, jikalau ada yang opresif terhadap hak mereka untuk bercinta sesama, tentunya aku akan berdiri bersama mereka. Selama aku hidup, aku akan berusaha mengimani betul Sartre yang teriakkan jikalau manusia dikutuk bebas. Aneh, seorang sosialis adalah bapak liberalisme menurutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lengkingan Hucknall terus menghujam-hujam ke gendang telinga. Kegombalannya dalam Stars terus berulang dan berulang. Aku selalu menyukai suara yang melengking-lengking: Sam Cooke, Sahuleka, Nobo, dan tentunya Hucknall. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;.....mulai mengantuk....&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omong kosong terus hadir, hari berganti hari. Aku ingin bebas. Aku ingin tak-tik-tuk yang aku suka. Baca yang aku suka. Dan tak sukai yang aku sukai dahulu. Sudahlah, sudah terlalu mengantuk. Aku mau baca soal buku mengenai adat dan politik di Indonesia itu. Aku ingin baca Sen. Aku ingin....tapi sudahlah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-71105723549798753?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/71105723549798753/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/10/sabtu-ke-minggu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/71105723549798753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/71105723549798753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/10/sabtu-ke-minggu.html' title='Sabtu Ke Minggu'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TMNaC8SycDI/AAAAAAAAAFQ/fKOqDGCGcF8/s72-c/huck.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-375617501636785428</id><published>2010-10-17T05:00:00.000-07:00</published><updated>2010-10-17T05:49:53.731-07:00</updated><title type='text'>Barangkali...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TLrwyBxUTtI/AAAAAAAAAFI/crk0KR7YmSI/s1600/charlie_chaplin_the_rink.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TLrwyBxUTtI/AAAAAAAAAFI/crk0KR7YmSI/s200/charlie_chaplin_the_rink.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5528996234810117842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama aku tak nonton sepakbola. Maka kuputuskan untuk &lt;span style="font-style:italic;"&gt;memantengi&lt;/span&gt; televisi di kamar adikku. Akan kutonton semua pertandingan liga inggris hari ini. Dari Merseyside Derby, sampai klub taipan-taipan Timur Tengah yang aku dukung musim ini. Tentunya bukan karena sebuah fanatisme fans terhadap klub yang telah berurat akar. Tentunya tak seperti Bobby mencintai Manchester United dan seorang teman di kampus -wanita pula- yang pernah berfoto dengan Ian Rush.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok akan ujian Pengantar Ilmu Politik. Salahkah aku ambil matakuliah ini? Bukankah kemampuanku dalam memahami apa itu politik sudah dalam tataran ekspertis? Siapa bilang! Kadangkala kita -saking ekspertisnya- sering lupa apa itu definisi dasar. Mungkin sama seperti orang sekelas Farid yang sempat lupa saat ditanya apa itu "represi" oleh seorang dosen perempuan di kelas Sosiologi Hukum. Memang logosentrisme layaknya definisi-definisi dasar yang seolah universal keberlakuannya itu -meminjam terminologi Farid yang ia dapat dari Bang Anton- bisa sangat memuakkan bagi orang sepertiku. Ah, tapi sudahlah. Mari kita kembali baca apa itu Trias Politica dan apa itu pendekatan tradisionalis dan behavioralis dalam ilmu politik. Yuk, mari...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kali berkerumuk dengan hukum persaingan sudah membuatku cukup mual. Pertama, membahas apa itu kartel di depan mahasiswa baru. Kedua, jadi moderator untuk membahas keberlakuan PP No. 57 Tahun 2010 soal Merger yang berhubungan dengan persaingan (aku tak ingat betul apa tepatnya nama lengkap aturan yang amat prosedural-teknis tadi). Lumayan, untuk menambah CV. Ah, CV! Benci betul aku menyusun lembaran bernama CV itu. Sejak kapan kesibukan selama mahasiswa untuk ikut seminar ini, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;workshop&lt;/span&gt; itu, dan kepanitiaan anu, tentukan kualitas seseorang buat jadi pekerja? Meminjam kata-kata Ausi, hal tersebut barangkali adalah moda&lt;span style="font-style:italic;"&gt; controlling&lt;/span&gt; bagi para ternak pencari kerja. Ekses kapitalisme? Barangkali! Sekalilagi barangkali ini adalah bukti dari mekanistisnya kapitalis yang tak terlalu peduli substansi (sekali lagi meminjam kata-kata Ausi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pengembaraanku soal hukum persaingan belum selesai. Masih ada CV yang akan aku buat untuk ikut &lt;span style="font-style:italic;"&gt;workshop&lt;/span&gt; hukum persaingan. Dan yang dibahas lagi-lagi adalah merger. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Alamaaakjaaaaaanggggg&lt;/span&gt;, aku pun sekarang jadi ternak!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang memberi hiburan mungkin adalah percakapan bersama Si Dua Orang Bodoh dan seorang dosen yang kukagumi , beberapa hari yang lalu. Aku sudah kebelet untuk bergabung dengan Si Dua Orang Bodoh di lembaga penelitian sang dosen tadi. Sembari ditraktir sang dosen, aku jadi cukup memahami apa sloganismenya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;How nobody is Nobody? Almost got kicked out from high school due to chronic laziness and lack of determination, actually got kicked out from naval academy due to the same reasons, dropped out from law school due to the same reasons, got divorced due to the same reasons, got fired several times from various jobs due to the same reasons,... Slaves should have learned the Art of Nobodiness.&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-375617501636785428?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/375617501636785428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/10/barangkali.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/375617501636785428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/375617501636785428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/10/barangkali.html' title='Barangkali...'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TLrwyBxUTtI/AAAAAAAAAFI/crk0KR7YmSI/s72-c/charlie_chaplin_the_rink.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-7090428859108922413</id><published>2010-10-15T01:41:00.000-07:00</published><updated>2010-10-17T04:51:31.836-07:00</updated><title type='text'>HITAM DAN PANJANG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TLgcI_Y4y2I/AAAAAAAAAFA/VGVSRYZp-Zg/s1600/hitam+dan+panjang.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TLgcI_Y4y2I/AAAAAAAAAFA/VGVSRYZp-Zg/s200/hitam+dan+panjang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5528199483377634146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hitam dan panjang, begitu kopi ini dinamakan. Dibuat hanya dengan kopi Arabika dan Robusta kualitas wahid yang dicampur dengan rasa cinta,gairah, dan antusiasme. Tentunya dengan sebuah resep rahasia. Ah, luar biasa betul kopi hitam dan panjang seharga enam ribu rupiah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kedai kopi. Tiga orang perempuan muda. Di meja di depan dan di meja di belakang. Yang di belakang sesekali berbicara korea. Yang di depan sesekali membicarakan "seorang teman". Tentang "seorang teman" yang mengecewakannya. Tentang "seorang teman" yang mungkin menganggapnya produk &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sachetan&lt;/span&gt;. Dirobek, dipakai, dibuang. Ah, sudahlah, meskipun kenal bukan urusanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang bodoh itu tak kunjung datang. Sampai habis aku sesap si hitam dan panjang. Sampai hendak aku pesan lagi cangkir berikutnya. Beserta kudapan mungkin. Tapi tak jadi. Bulan ini masih sisakan kira-kira 384 jam. Dan uangku tak begitu banyak tersisa. Bedebah memang. Perlukah kuambil sampingan itu? Inilah yang namanya uang bisa mengalahkan idealisme. Ideal? Seorang nihilis tak paham -lebih tepatnya tak boleh paham- apa yang ideal dan apa yang kurang ideal!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penjual bakpau dan somay pikul lewat. Zona operasionalnya memang sekitar kampus ini. Topi hitam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;a-la&lt;/span&gt; Chaplin yang lebih mini hiasi kepalanya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Polo-shirt&lt;/span&gt; hitam dan celana bahan. Parasnya selalu ingatkan aku dengan seorang bintang film Indonesia. Kalau tak salah namanya Agus Melasz. Kumis hitam lebat dan mata yang tajam. Malah mungkin bisa dibilang ke arah tatapan bengis. Memang si artis pun dikenal sebagai juara dalam peran antagonis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan seorang teman selalu sebut ia sebagai intel. Yang tengah mengintai kegiatan mahasiswa di kampus. Yang ditugaskan untuk mengerem aktivis-aktivis kampus dari gairah untuk makar. Barangkali &lt;span style="font-style:italic;"&gt;prototype&lt;/span&gt; NKK/BKK dahulu. Dan dari tiga susun pikulannya, barangkali satu untuk menyimpan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Colt&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Smith &amp; Wesson&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang dua orang bodoh tak kunjung datang. Aku sudah agak mual mendengar dua mahasiswi Korea bercakap-cakap dengan seorang mahasiswi lokal di meja belakang. Sepertinya mereka tengah belajar berbahasa Indonesia dengan lancar. Sekali-kali mereka mengeluarkan suara melenguh tanda jika mereka masih terbata-bata dalam berbahasa Indonesia. Ingin saya katakan kepada mereka : hei nona-nona, film-film dari negeri nona-nona telah buat banyak remaja negeri saya tertambat dalam sebuah histeria tolol. Banyak remaja putri di negeri saya yang mengelu-elukan lelaki kekar bermata sipit dan berambut norak dari negeri anda. Ah, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sarrangeyyyoong&lt;/span&gt; betul mereka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah sudahlah, aku mau baca buku "Adat Dalam Politik Indonesia" dahulu. Akhirnya aku hinggap di titik jenuh perihal hukum persaingan yang seksi dan bertabur uang itu. Tak pantas aku membahasnya apabila belum terlalu paham &lt;span style="font-style:italic;"&gt;oikos&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nomos&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanti tengah malam aku akan berikan entri soal Gajah Mada dari bukunya Vlekke....&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ciao&lt;/span&gt;!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-7090428859108922413?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/7090428859108922413/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/10/hitam-dan-panjang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/7090428859108922413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/7090428859108922413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/10/hitam-dan-panjang.html' title='HITAM DAN PANJANG'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TLgcI_Y4y2I/AAAAAAAAAFA/VGVSRYZp-Zg/s72-c/hitam+dan+panjang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-7301529042358794513</id><published>2010-10-14T09:45:00.000-07:00</published><updated>2010-10-14T09:53:49.130-07:00</updated><title type='text'>LIU XIAOBO DAN NOBEL PERDAMAIAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TLc079bPDiI/AAAAAAAAAE4/adFTHVPHiw0/s1600/liu+xiaobo.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 138px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TLc079bPDiI/AAAAAAAAAE4/adFTHVPHiw0/s200/liu+xiaobo.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5527945272326295074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;        Liu Xiaobo, aktivis hak asasi manusia asal Cina yang tengah mendekam di penjara itu, akhirnya ditetapkan sebagai pemenang hadiah Nobel Perdamaian pada 8 Oktober lalu. Liu menggagas dokumen yang kemudian dikenal sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Charter 8&lt;/span&gt;. Sebuah dokumen yang memprovokasi 300 pemikir liberal berkebangsaaan Cina untuk melawan rezim yang menurutnya opresif, otoritarian, dan anti prinsip-prinsip dasar hak asasi manusia (tentunya semua standar dari hal tadi merupakan definisi dari apa yang biasa kita sebut sebagai “barat”).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;         Atas “aksi heroiknya” tersebut, Liu harus mendekam selama 4024 hari di penjara. Kalkulasinya berdasarkan 4024 jumlah kata yang terdapat dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Charter 8&lt;/span&gt;. Satu kata berarti satu hari di penjara yang terletak 500 km dari Beijing. Liu telah mendekam di penjara sejak Desember 2008 dan kira-kira masih harus menghabiskan sembilan tahun lagi dari sebelas tahun vonis yang ia terima dari pemerintah Cina.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;        Liu jelas-jelas menyatakan dirinya sebagai Maois. Dia tak pernah berdiri terlalu jauh untuk menentang pemerintahan komunis di Cina. Komunisme hanya perlu sedikit mengalami sinkretisme dengan penghargaan terhadap hak individual yang mungkin dapat ditafsirkan sebagai hak asasi manusia. Hal inilah yang menyebabkan banyaknya aktivis pro-demokrasi yang lebih keras dari penjuru dunia mengeluarkan petisi penolakan Liu sebagai pemenang Nobel Perdamaian. Posisi Liu yang masih mendukung komunisme sebagai jalan politik terbaik di Cina, mereka anggap masih “kebanci-bancian”. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;       Kemenangan Liu adalah kedua kalinya institusi penghargaan Nobel Perdamaian di Norwegia membuat kesal pemerintahan komunis di Cina. Tahun 1989, seorang Dalai Lama terpilih sebagai pemenang Nobel Perdamaian. Dan tentunya ini membuat Cina &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mencak-mencak&lt;/span&gt; seperti sekarang. Dalai Lama, hampir sama seperti Liu, memenangkan Nobel Perdamaian disaat dia tengah “diasingkan” oleh pemerintah Cina dalam eksil.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;       Saya tak paham betul apa parameter terpilihnya Liu dan Dalai Lama, seperti saya tak paham betul apa parameter Obama dipilih tahun lalu. Kalaulah aktivitas mereka yang pro-demokrasi dan pro-hak asasi manusia yang menjadi parameter mutlak, maka hal tersebut masih buat saya tak paham betul karena kegagalan batang serebral saya –sampai hari ini- menerjemahkan makna dari demokrasi dan hak asasi manusia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;       Seingat saya, Nobel adalah penghargaan yang ditujukan kepada mereka yang dianggap telah memberikan sumbangsihnya bagi kemaslahatan umat manusia. Karena terminologi yang saya gunakan adalah umat manusia, maka universalitas dari nilai yang dianut umat manusia tadilah yang mungkin menjadi parameter utama dimenangkannya seorang pemenang hadiah Nobel.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;       Universalitas nilai tak jadi masalah jika kita bicara soal yang “eksak”. Sebuah obat penawar AIDS dan teori ekonomi yang dapat menekan jumlah orang miskin mungkin patut diamini sebagai solusi yang berlaku universal dan dapat diterapkan hampir di seluruh dunia tanpa tapal batas. Tapi menyoal perdamaian? Apa sih perdamaian? Sejauh mana panel penentu pemenang Nobel Perdamaian tadi dapat membuat parameter sahih menyoal konsep perdamaian yang relatif dan metafisik?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;        Saya tak tertarik untuk menjawabnya, namun ada yang menarik ketika saya baca &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Economist &lt;/span&gt; belum lama ini. Qin Yao, mantan Direktur Utama salah satu bank terbesar milik pemerintah di Cina, dalam sebuah pidato dihadapan wisudawan sebuah sekolah bisnis di Cina mengajak rakyat Cina agar tidak latah untuk ikut-ikutan menjadi pembela apa yang terkenal dengan sebutan “nilai universal” layaknya kebebasan dan demokrasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;        Baginya “nilai universal” (Qin mengoloknya sebagai “barat”) berarti negara bertanggung jawab memelihara masyarakat, aset-aset individu diakui dan dilindungi, dan urbanisasi adalah demi kebahagiaan masyarakat. Qin beranggapan Cina-pun memiliki “nilai universal”-nya tersendiri. Terminologi “nilai universal”, yang dalam bahasa Cina kemudian dipopulerkan aktivis pro-demokrasi dan hak asasi manusia seperti Liu Xiaobo sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pushi jiazhi&lt;/span&gt;, menurut Qin juga dimiliki sendiri oleh Cina. “Nilai universal” atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pushi jiazhi&lt;/span&gt; dari Cina, menurut Qin, berarti rakyat harus patuh terhadap penerintah, negara mengontrol kepemilikan aset secara ketat, dan kepentingan rakyat subordinatif hubungannya dengan pemerintahan lokal. Tak ada alasan bagi rakyat Cina harus inferior dengan nilai-nilai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pushi jiazhi&lt;/span&gt; yang datangnya cenderung dari “barat” seperti kebebasan dan demokrasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;        Maka, ketika Liu didaulat sebagai pemenang Nobel Perdamaian, perdamaian macam apa yang sebenarnya jadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pushi jiazhi&lt;/span&gt; dari masyarakat global? Kalaupun hal tersebut sulit dijawab, mengingat Liu adalah orang Cina, sejauh mana perdamaian a-la Cina dapat diakomodir sebagai sesuat yang berlaku universal? Justru saya anggap ini sebagai tindakan dari “barat” – sebenarnya saya tak suka terlalu sering gunakan kata “barat – yang anti perdamaian di Cina. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;       Kehadiran Liu di Cina sudah cukup menjadi sumbu terciptanya konflik horizontal baru. Tentu makin banyak yang simpati terhadap “aksi heroiknya”. Tentu makin banyak yang akan didoktrin bahwa Liu adalah martir. Parameternya jelas: menang Nobel, dipenjara, dan kisah melodramatik a-la aktivis-aktivis pro-demokrasi dan kebebasan di seluruh dunia yaitu dipenjara.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-7301529042358794513?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/7301529042358794513/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/10/liu-xiaobo-dan-nobel-perdamaian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/7301529042358794513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/7301529042358794513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/10/liu-xiaobo-dan-nobel-perdamaian.html' title='LIU XIAOBO DAN NOBEL PERDAMAIAN'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TLc079bPDiI/AAAAAAAAAE4/adFTHVPHiw0/s72-c/liu+xiaobo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-6548403635830403714</id><published>2010-09-28T03:06:00.000-07:00</published><updated>2010-09-28T04:37:09.825-07:00</updated><title type='text'>S</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TKHTWypKGcI/AAAAAAAAAEw/Z5moOcuw1N8/s1600/levy.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 133px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TKHTWypKGcI/AAAAAAAAAEw/Z5moOcuw1N8/s200/levy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5521927006637922754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya punya seorang teman, yang mungkin seperti teman anda juga. Sebut saja S. Dia teman sekampus. Dalam beberapa hal seirisan pandangan mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi S bisa jadi tak seperti teman anda kebanyakan. Juga mungkin tak sama seperti teman saya kebanyakan. Ah, S!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang kau cari S ?", ingin saya teriakkan hal itu dikupingnya hingga pengang. Atau mungkin dia sudah mulai berpikir dan gatal untuk bertanya, "Apa yang kita cari, Gar?". Ah, S!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tak mandi. Tak menyikat gigi. Bahkan -mungkin- sudah lupa bersih-bersih setelah buang hajat. Setidaknya dia akui beberapa hal itu tanpa malu. Rambut ikalnya mulai menjuntai tak karuan. Coba diakali topi hingga dikuncir a-la Miyamoto Mushashi-pun tak lagi menolong.Penghiburan mungkin datang dari teman saya satu lagi, si F, yang sebut dengan rambutnya itu ia mirip seorang filosof Prancis,Bernard-Henri Levy. Ah, S!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi S berhasil buat saya tertegun. Di tengah kemandekan semangatnya buat hidup, justru dia mempertanyakan hidupnya, juga saya. Mau kemana kita? Apakah kita mau terus-menerus "beronani" tanpa "orgasme"? Sampai kapan kita mau muak? Menyoal orang-orang pragmatis yang merasa hidup adalah mencari pekerjaan dengan gaji besar. Menyoal pendidikan manusia yang seolah hanya ditujukan untuk mencari nafkah, sehingga hakekat pendidikan sendiri teralienisasi. Ah, S!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin S, benar. Tapi dia tentu belum "sadar" benar. Hari ini saya paksakan bangun pagi dari tidur yang sangat kurang. Karena ada sebuah kuliah yang seolah tak pantas untuk ditinggalkan. Karena ada sebuah kuliah yang banyak orang akan bilang, "Penting nggak sih, ini kuliah ?". Yang saya tahu, S dan saya punya prinsip: makin banyak yang menggerutu dalam sebuah mata kuliah, makin menariklah kuliah itu. Kami memang hobi "onani". Ah, S!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....dan suara Camille yang menggemaskan itu kembali buat saya -seolah- cium wangi bagel panggang, harum Pinot Noir, dan ramai manusia di Rivoli..... Ah, S!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-6548403635830403714?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/6548403635830403714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/09/s.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/6548403635830403714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/6548403635830403714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/09/s.html' title='S'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TKHTWypKGcI/AAAAAAAAAEw/Z5moOcuw1N8/s72-c/levy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-7624342370924423208</id><published>2010-08-14T19:00:00.000-07:00</published><updated>2010-08-14T19:09:34.033-07:00</updated><title type='text'>Stallonisme</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TGdMVVWPOUI/AAAAAAAAAEY/AK9Nz3Cgpd0/s1600/rambo_17_04_2006.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 159px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TGdMVVWPOUI/AAAAAAAAAEY/AK9Nz3Cgpd0/s200/rambo_17_04_2006.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5505452998875101506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berlaku ‘bak seorang kritikus film dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rotten Tomatoes&lt;/span&gt;, film terakhir yang saya tonton di layar lebar adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Inception&lt;/span&gt;. Berikutnya –layaknya seorang kritikus- saya saksikan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Expendables&lt;/span&gt; di sebuah gedung bioskop yang khidmat tanpa ditemani berondong jagung. Dalam sebuah malam minggu yang membosankan, saya bergabung dengan ratusan orang lainnya untuk menonton “pornografi kekerasan” paling akhir dari Sylvester Stallone. Tanpa kekasih. Tanpa teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Inception&lt;/span&gt; berbeda dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Expendables&lt;/span&gt;. Yang pertama adalah pengejawantahan matrikulasi absurd dari batang serebral Christopher Nolan. Dahi akan berkrenyit memikirkan drama apa yang sebenarnya kita saksikan. Hal tersebut tak berlaku bagi yang kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simplisitas adalah senjata Stallone (Sly). Saya tak ingat betul adakah film yang dibintangi, ditulis, atau disutradai sendiri oleh Sly pernah membuat saya mengerenyitkan dahi. Dibandingkan Nolan, tentu Sly miskin fantasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua &lt;span style="font-style:italic;"&gt;masterpiece&lt;/span&gt; yang melambungkan namanaya, Rambo dan Rocky, adalah kisah heroik khas Amerika. Sesuatu yang tak bisa lekang bahkan sejak zaman John Wayne menghabisi bandit-bandit di film &lt;span style="font-style:italic;"&gt;cowboy&lt;/span&gt; klasik. Sang jagoan datang, berjuang, menang, dan patut diingat: semuanya dilakukan dengan seru, dan tak terlampau sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Expendables&lt;/span&gt; , layaknya Rambo dan Rocky, adalah “pornografi kekerasan” khas Sly. Darah yang muncrat dan jangat yang koyak akan selalu menemani kita hingga akhir cerita. Selebihnya film ini adalah sebuah etalase otot. Sly mengajak figurisasi pria macho Hollywood seperti Statham, Lundgren, Rourke, Austin,  hingga Schwarzenegger dan Willis yang seliweran jadi cameo. Barangkali hanya Jet Li yang memberikan nuansa berbeda –dan menjadi salah satu faktor yang menarik saya untuk menonton. Jet Li adalah representasi film silat Mandarin yang lebih mementingkan kecepatan ketimbang otot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak perlu berikan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;review&lt;/span&gt; terlalu banyak soal film ini. Kalau anda adalah penikmat film Sly, barangkali anda akan bisa menebak bagaimana ending dari film ini di menit ke tiga puluh. Tak ada yang istimewa. Seperti yang saya katakan, sang jagoan datang, berjuang, menang, dan patut diingat: semuanya dilakukan dengan seru, dan tak terlampau sulit. Yang membedakannya dengan Rambo adalah, dalam kelompok tentara bayaran yang dinamai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Expendables&lt;/span&gt; ini Sly tak lagi melakukan aksi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;one man show&lt;/span&gt;. Dia harus berbagi lampu sorot dengan Statham dan Li.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyaksikan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Expendables&lt;/span&gt;, saya seolah menemukan keunikan tersendiri dalam beberapa film Sly. Kalau kita saksikan Rambo dan Rocky, barangkali itu adalah suasana hati Amerika alih-alih propaganda politiknya. Tentu kita ingat begitu pekatnya propaganda politik dalam franchise Rambo dan Rocky. Musuh sang protagonis adalah musuh Amerika : komunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Rambo : First Blood Part II , musuh Rambo adalah tentara komunis Vietnam. Dalam kesempatan kali ini, John Rambo memiliki misi membebaskan segelintir tentara Amerika yang masih menjadi tawanan pasca kekalahan Amerika di Perang Vietnam. Kita saksikan bagaimana seorang diri Rambo beraksi menghabisi sekumpulan tentara komunis Vietnam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Rambo III, nuansa perang dingin lebih menyeruak. Di gurun Afghanistan yang tandus, Rambo bahu-membahu bersama tentara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mujahideen&lt;/span&gt; mengusir rezim Soviet yang lalim. Kita tentu ingat bagaimana heroisme khas Amerika ditampilkan di akhir cerita. Kolonel Zaysen yang lalim diledakkan berkeping-keping oleh Rambo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Rambo IV adalah bukti terakhir propaganda Amerika lewat Rambo. John Rambo, yang sudah dihinggapi keriput dan kantung mata, dengan gesit menghancurkan tentara-tentara rezim komunis Than Swee di belantara Myamnar demi menyelamatkan sekelompok aktivis kemanusiaan. Tak sulit menemukan relasi antara kampanye gencar barat untuk membebaskan Aung San Suu Kyi dengan film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rocky-pun setali tiga uang. Kita tak akan lupa bagaimana pertarungan bersimbah darah antara Rocky Balboa dan Ivan Drago di Moscow. Amerika Serikat akhirnya menang terhadap Uni Sovyet. Rocky yang dengan semangat menggebu Amerika, akhirnya menang terhadap Drago yang penuh dengan suntikan steroid. Fleksibilitas kapitalisme pasti akan menang terhadap kekakuan komunisme. Barangkali itu pesan dari film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Expendables pun tak jauh beda. Anda mau bukti film ini adalah kampanye anti komunisme a-la Amerika? Fokuskan diri Anda ke adegan di mana Sang Diktator lalim pulau Villena, Jendral Zayas, menghabisi beberapa petani yang ketahuan mencuri. Sembari meletuskan senjatanya, Zayas berkata, “Semua yang keluar dari tanah bukan milikmu!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kita dihadapkan dengan sebuah fakta jikalau yang merekrut para tentara bayaran &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Expendables&lt;/span&gt; adalah CIA. Tak jelas betul apakah ini olok-olok Sly untuk mengingatkan kita terkait banyaknya penggulingan rezim di belahan dunia yang diprakarsai Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelumit bahasan di atas mengingatkan saya pada sebuah teori Slavoj Zizek yang begitu apik diterjemahkan Robertus Robert dalam bukunya Manusia Politik. Kapitalisme kontemporer tengah terjangkit krisis “determinasi negasi”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Determinasi negasi” merupakan gejala yang merontokkan sendi-sendi dasar kemampuan manusia untuk mengubah keadaan. Dalam fatalisme ini, kecelakaan yang paling tragis hadir dalam selipan ideologis yang secara tidak langsung menganggap kapitalisme sebagai sistem yang paling gagah dan tahan banting bahkan setelah dunia porak poranda oleh bencana yang paling dahsyat sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ini, karena krisis dan kegagalan berbagai alternatif lama, kapitalisme bahkan telah dianggap sebagai sistem yang memang organis dan alamiah yang menyatu dalam kebersamaan hidup manusia secara mendasar. (Robertus Robert, 2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelaan terhadap defisiensi dan perasaan inferior terhadap ide-ide kapitalistik tersebut dimanifestasikan dalam “industri kebudayaan” seperti film-film Sly. Di saat Amerika Serikat baru kalah di Perang Vietnam, Rambo : First Blood Part II  muncul dengan John Rambo yang seorang diri menghancurkan tentara komunis Vietnam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa-masa puncak perang dingin, Rambo III dan Rocky IV seolah ingin mendramatisir kemenangan kapitalisme lewat layar lebar. Dan ketika, Aung San Suu Kyi tak kunjung dibebaskan oleh rezim yang berkuasa, John Rambo kembali hadir membantai tentara-tentara komunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sly, dalam film-film tadi, seolah menjadi agen “industri kebudayaan” kapitalis untuk melakukan pembelaan terhadap gejala “determinasi negasi” kapitalisme barat. Alam bawah sadar kita seolah ditanamkan jikalau kapitalisme adalah yang terbaik, meskipun dalam dunia nyata tengah mengalami banyak defisiensi. Sly dan kapitalisme, berubah menjadi ideologi baru dalam film-film tadi: Stallonisme. Sang Jagoan datang, berperang, dan di akhir kapitalisme menang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun Sly sadar, barangkali &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Expendables&lt;/span&gt; adalah manifestasi pertobatannya. Di sini, yang salah tak selamanya Sang Komunis. Ada kritik kecil yang ditampilkan soal pola korporatisme kapitalistik yang dibawa globalisasi. Saya tidak akan cerita dalam tulisan ini. Anda bisa menontonnya dengn khidmat dan khusyu’. Tanpa kekasih. Tanpa teman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-7624342370924423208?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/7624342370924423208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/08/stallonisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/7624342370924423208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/7624342370924423208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/08/stallonisme.html' title='Stallonisme'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TGdMVVWPOUI/AAAAAAAAAEY/AK9Nz3Cgpd0/s72-c/rambo_17_04_2006.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-2397184230408886951</id><published>2010-08-02T18:54:00.001-07:00</published><updated>2010-08-02T19:02:50.961-07:00</updated><title type='text'>Puisi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TFd4wRRx6jI/AAAAAAAAAEQ/1jdGswm3qJo/s1600/hand.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TFd4wRRx6jI/AAAAAAAAAEQ/1jdGswm3qJo/s200/hand.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500998240523381298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Siul yang jadi matang di saat sekejap&lt;br /&gt;Kertak suara es di angin kedap&lt;br /&gt;Malam yang mengubah hijau jadi beku&lt;br /&gt;Duel suara bulbul dalam lagu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boris Pasternak&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-2397184230408886951?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/2397184230408886951/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/08/puisi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/2397184230408886951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/2397184230408886951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/08/puisi.html' title='Puisi'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TFd4wRRx6jI/AAAAAAAAAEQ/1jdGswm3qJo/s72-c/hand.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-1432361810438793408</id><published>2010-07-18T19:43:00.000-07:00</published><updated>2010-07-18T20:19:14.304-07:00</updated><title type='text'>Qui Apeur de La Philosophie?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TEPEK9LjhvI/AAAAAAAAADU/JceqixqffB8/s1600/hands_of_god_and_adam-400.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 154px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TEPEK9LjhvI/AAAAAAAAADU/JceqixqffB8/s200/hands_of_god_and_adam-400.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5495451662822901490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Qui apeur de la philosophie?&lt;/span&gt; Siapa takut filsafat? Tanya Derrida. Dalam sebuah intonasi dia bisa berarti sebuah pertanyaan. Tapi dengan intonasi yang berbeda dia bisa menjadi sebuah retorika sarkastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang salah dengan filsafat? Mengapa ia begitu berbahaya? Filsafat ada di dalam karya sastra: puisi, cerpen, novel, pantun, hingga gurindam. Filsafat ada dalam segala bidang keilmuan. Dari humaniora hingga eksakta. Jadi apa yang salah dengannya, alih-alih bagaimana mempersalahkan sesuatu yang berkomplemen dengan segala sesuatu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsafat ada dalam segala segi kehidupan. Alangkah konyolnya dicap sebagai antitesis agama. Bahkan agama-pun adalah filsafat. Kalaupun filsafat (mungkin kebanyakan yang datang dari rasionalitas barat) melakukan revisionisasi hingga dekonstruksi terhadap paham religiusitas dalam keagamaan, lalu apa bedanya dengan serangkain khutbah keagamaan yang mengutuk kaum revisionis. Ini pertarungan sampai mati menuju rekognisi bung! Sebuah dialektika yang bertujuan mengobjektifikasi satu sama lain! Tak dapat ditolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiritualitas. Ya, spiritualitas. Asal katanya adalah spirit. Ruh. Oleh karena itu ia terletak di dalam relung yang barangkali tak terpemanai. Sesuatu yang lahir dari sebuah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"inner path"&lt;/span&gt;. Sebuah pencarian akan esensialitas masing-masing individu. Agama menawarkannya dalam dogma-dogma praktis yang bak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;manual book&lt;/span&gt; terpatri dalam kitab-kitab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi agama adalah filsafat, begitu pula sebaliknya. Bedanya yang satu menolak fleksibilitas dalam kewahyuan. Yang satu menolak kekakuan dalam rasionalitas. Karena itu Yesus dan Muhammad tak bisa salah. Tapi Nietzsche dan Sartre selalu didekonstruksi. Bahkan berubah-ubah postulatnya. Karena saya yakin, filsafat harus meyakini apa yang diteriakkan Sartre: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;l'homme est condamné à être libre&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua berawal dan berakhir dalam metafora.Baik agama dan filsafat secara "teknis" ingin melakukan reduksi segala persoalan ke dalam suatu sistem metafora. Derrida menulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;To metaphor. The word is written only in the plural. If there were only one possible metaphor, the dream at the heart of philosophy, if one could reduce their play to the circle of family group of metaphor, that is, to one "central", "fundamental", metaphor, would be no more true metaphor, but only, through the one true metaphor, the assured legibility of the proper &lt;/span&gt;( Jacques Derrida, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Margins of Philosophy&lt;/span&gt;)`&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metafora dalam filsfat menjadi penting untuk menjaga fleksibilitasnya. Fleksibilitas yang diperlukan dalam penafsiran. Sebuah aforisme dari Nietzsche, membawa kita menerawang untuk menemukan konteksnya dalam kehidupan. Begitu pula -seharusnya- agama. Kitab yang menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;manual book&lt;/span&gt; perihal tuntunan praktis soal mana yang salah dan mana yang benar seharusnya-pun menjadi metafora. Dan karena dia metafora dia tak boleh terlalu represif. Kontekstualisasi dari yang tekstual tak dapat dihindarkan. Tapi sayang. Upahnya sering dicap masuk "neraka".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-1432361810438793408?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/1432361810438793408/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/07/qui-apeur-de-la-philosophie.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/1432361810438793408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/1432361810438793408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/07/qui-apeur-de-la-philosophie.html' title='Qui Apeur de La Philosophie?'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TEPEK9LjhvI/AAAAAAAAADU/JceqixqffB8/s72-c/hands_of_god_and_adam-400.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-6414769406031142021</id><published>2010-07-12T21:28:00.000-07:00</published><updated>2010-07-12T21:53:30.929-07:00</updated><title type='text'>Jamaah Al-Twitteriah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TDvwpeIRDwI/AAAAAAAAADM/wGmC-lmCVAM/s1600/twitter_256x256.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TDvwpeIRDwI/AAAAAAAAADM/wGmC-lmCVAM/s200/twitter_256x256.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5493248765761490690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya menjadi anggota tarekat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Jamaah Al-Twitteriah"&lt;/span&gt;. Awalnya saya anggap itu buang-buang waktu. Omong kosong yang dituangkan dalam bentuk sebuah narasi singkat sepanjang 140 karakter. Apakah Facebook kurang? Bahkan Friendster-pun lebih berguna, saya pikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kita hidup dalam zaman mie instan lebih dipilih ketimbang mie telor. Kopi sachet lebih sering tersedia di rumah ketimbang mesin penumbuk biji kopi. Ini abad instan, dan Twitter adalah salah satu penandanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tersedia lebih cepat di Twitter. Dari kabar meninggalnya si "anu" hingga hilangnya cabai dari peredaran. Dari hasil pertandingan bola dini hari tadi hingga kabar beredarnya video seks artis ternama. Belum lagi semuanya bisa dengan mudah dan murah diaktivasi di telepon genggam yang sebentar lagi "bak kacang goreng" akan dimiliki oleh semua orang: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Blackberry&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu repot-repot membalik-balik halaman di Jakarta Post sambil &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ngeden&lt;/span&gt; di pagi hari. Cukup "follow" akun JakPost, olahraga jempol di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;trackpad&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Blackberry&lt;/span&gt;, dan kita akan disajikan berita yang "perlu" kita baca. Bukan sekadar kita "pilih".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Twitter-pun, seperti Facebook, Friendster, dan serangkaian "jejaring sosial" lainnya, memberikan kita opium baru bernama narsisme. Ya, narsisme. Sering semacam ada narsisme ketika kita ganti status Facebook atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nge-Tweet&lt;/span&gt;. Dari sekadar membanggakan buah pikir, film yang baru ditonton, sedang di mana, sedang apa, hingga musik yang sedang didengarkan. Semua orang pun diberikan kesempatan untuk mengkonversi "curcol" (cuhat colongan) menjadi narsisme yang bisa dilihat semua orang, dengan harapan untuk di "like" atau di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;retweet&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya punya cerita lucu. Kemarin saya lihat empat orang teman sekampus duduk di sebuah meja melingkar di kantin kampus. Semuanya sibuk dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gadget&lt;/span&gt; masing-masing di tangannya. Tak ada interaksi antara mereka berempat dalam bentuk verbal. Saya membayangkan masing-masing mereka berkoneksi dengan ketiga orang lainnya lewat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gadget&lt;/span&gt; kebanggaan mereka tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modernisasi lewat globalisasinya sering dibilang akan meleburkan "saya" dan "anda" jadi "kita". Tapi mungkin juga dia mereduksi "kita" jadi "saya" dan "anda".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah...Twitter...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-6414769406031142021?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/6414769406031142021/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/07/jamaah-al-twitteriah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/6414769406031142021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/6414769406031142021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/07/jamaah-al-twitteriah.html' title='Jamaah Al-Twitteriah'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TDvwpeIRDwI/AAAAAAAAADM/wGmC-lmCVAM/s72-c/twitter_256x256.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-4938876532304398602</id><published>2010-07-10T07:03:00.000-07:00</published><updated>2010-07-10T11:19:50.104-07:00</updated><title type='text'>Obtuse</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TDiBNFmeMrI/AAAAAAAAADE/gZksBnCz0Zo/s1600/obtuse.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TDiBNFmeMrI/AAAAAAAAADE/gZksBnCz0Zo/s200/obtuse.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5492281807420142258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;She was walkin' around with a loaded shotgun. Ready to fire me a hot one, it went, BANG...BANG...BANG...straight to my heart&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Let's destroy our Blackberry! Pretend like you don't need it. A chit-chat on this, a chit-chat on that. Too much time is spending in those imaginary world!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hey, God! Give me your pin, please. Let's make some conversations. Don't be so obtuse! Because we've governed hell right now. And we've rummaged your promised-heaven. No more hell to scare. No more heaven to wish&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt;The End&gt;&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-4938876532304398602?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/4938876532304398602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/07/obtuse.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/4938876532304398602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/4938876532304398602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/07/obtuse.html' title='Obtuse'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TDiBNFmeMrI/AAAAAAAAADE/gZksBnCz0Zo/s72-c/obtuse.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-8939172193662084578</id><published>2010-07-09T01:28:00.000-07:00</published><updated>2010-07-09T01:57:44.046-07:00</updated><title type='text'>Mesum</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TDbkBKxycSI/AAAAAAAAAC8/2O01hCUNpgA/s1600/linga_yoni.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 178px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TDbkBKxycSI/AAAAAAAAAC8/2O01hCUNpgA/s200/linga_yoni.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5491827504349081890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Langit temaram. Sesekali Thor menghantamkan godamnya ke kaki langit. Dan tipisnya pita suara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Meneer&lt;/span&gt; Sahuleka melengking-lengking dengan indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang ia pikirkan. Bahkan ia tak bisa merenda sebuah sistematika berpikir perihal yang ia pikirkan sebenar-benarnya. Televisi. Ya, televisi. Dan si Cut dari Tanah Rencong itu menangis getir. Menangisi kebodohannya. Atau justru "berpura-pura" bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemesuman" jadi topik hangat akhir-akhir ini. Entah apa arti kata "mesum". Kita hanya dididik untuk mengutuk nuansa keiblisan yang terkandung dalam kata "mesum". Adegan "mesum". Video "mesum".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah salah berbuat "mesum". Atau apakah sebenarnya "mesum" eksis? Kalau kita baca Foucault, maka sang filosof (mungkin seksolog) membuat benang merah antara "mesum" dan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya bukan "mesum". Tapi hubungan seks. Apa yang salah dengan hubungan seks? Bukankah senggama diperlukan untuk meneruskan "karya penciptaan" Adam? Tapi kekuasaan mengintervensi seksualita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seksualitas jadi persoalan otoritas. Bermula dari Abad ke-17. Ketika kekuasaan pastoral mencoba memisahkan mana yang "cabul" dan mana yang "pantas". Bagian mana dari seksualitas yang berhak didiskusikan di ruang publik. Mana yang tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaidah-kaidah kesantunan baru, tak diragukan lagi, telah menyaring kata-kata: sejenis politik ujaran. Tulis Foucault. Dan yang hadir adalah sebuah "politik bahasa". Sebuah fenomena dengan seenaknya bisa dibilang "mesum". Dan tentunya dia "iblis".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai rasa jadi nilai intrinsik. Apabila saya berhubungan badan dengan orang yang bukan istri saya, apakah hal itu "mesum"? Hubungan seks, ya hubungan seks! Kenapa lalu ada distingsi antara yang "mesum" dan "tidak mesum"? Kalau memang yang terjadi adalah pameran pertemuan lingga dan yoni yang bisa diakses oleh semua orang, bukankah ada perbendaharaan yang bernama "porno"? Dan tentunya tetek bengek hal tadi telah diatur dalam sebuah "politik perilaku" yang termanifestasi dalam Undang-Undang Pornografi? Dan juga bukankah perlu ada sebuah ketidakbersalahan yang harus diimani sampai ada sebuah pembuktian sebuah perilaku adalah "porno" atau sebenarnya hanyalah hasil dari sebuah konsensi yang "parno"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, barangkali terminologi "mesum" jauh lebih meningkatkan omset serangkaian berita di sini. Ketimbang "hanya" menggunakan terminologi "hubungan seksual". Maka yang digunakan adalah VIDEO MESUM. Bukan VIDEO HUBUNGAN SEKSUAL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....hujan di sini...mari menumpuk gula dalam darah dengan segelas coklat hangat...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-8939172193662084578?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/8939172193662084578/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/07/mesum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/8939172193662084578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/8939172193662084578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/07/mesum.html' title='Mesum'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TDbkBKxycSI/AAAAAAAAAC8/2O01hCUNpgA/s72-c/linga_yoni.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-7567131928731565902</id><published>2010-07-08T09:35:00.000-07:00</published><updated>2010-07-08T10:06:33.124-07:00</updated><title type='text'>Hanzo</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TDYFCFZy7cI/AAAAAAAAAC0/R1jXNb0i3Po/s1600/hanzo.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 83px; height: 90px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TDYFCFZy7cI/AAAAAAAAAC0/R1jXNb0i3Po/s200/hanzo.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5491582328993148354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat saya awalnya begitu tertarik menyaksikan film Predators (2010), adalah Adrien Brody. Tentu saya ingin menyaksikan transformasi dirinya dari seorang Wladyslaw Szpilman yang ringkih dan tertindas dalam The Pianist, menjadi seorang tentara yang tanpa sedikitpun takut mati, berperang melawan segerombolan monster pemangsa. Peran yang dengan begitu heroik dimainkan Arnie Schwarzenegger dalam versi 1987.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Brody pun nge-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;lead&lt;/span&gt; dalam film ini. Dari adegan pertama saat tanpa mahfum jatuh ke belantara antah berantah. Sampai adegan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;face to face&lt;/span&gt; dengan para Predator(s)- sebuah penanda jikalau sekarang begitu banyak yang harus dihadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang membuat saya terpikat di dalam film, justru bukan Brody yang memerankan seorang tentara ITF (Israel Task Force). Adalah seorang tokoh bernama Hanzo.Seorang  Yakuza. Yang secara "bisu"  diperankan oleh Louis Ozawa Changchien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanzo sama sekali tak berbicara. Erangannya pun bisa dihitung dengan jari. Barangkali ada tiga yang saya ingat. Saat menghadapi "anjing-anjing pemburu" para Predators. Saat kejar-kejaran di sebuah pesawat ulak-alik. Dan di penghujung ajalnya dalam sebuah pertempuran sampai mati a-la Mushashi Miyamoto melawan Sasaki Kojiro. Bedanya, yang dihadapi Hanzo bukanlah manusia. Si Yakuza harus beradu dengan cakar berbentuk pedang milik -entah "seekor" atau "seorang"- Predators. Layaknya samurai-samurai yang selalu menganggap kematian dalam laga adalah kebanggaan, Hanzo bertarung dan dia-juga harus- mati  diujung pertarungan. Tentunya dengan menghabisi pula sang lawan. Dengan punggung berhiaskan tato naga yang koyak, Hanzo menjadi satu-satunya tokoh yang mati dengan cara paling "terhormat". Dan erangan terakhir Hanzo, adalah dialog paling penting yang dimainkan Changchien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat saya terpikat dengan Hanzo adalah kebisuannya. Penandanya adalah seluruh tubuhnya. Tatapan matanya. Erangannya. Semuanya. Hanzo, seolah menjadi penanda "orang Jepang" masa kini. Tak perlu seribu cakap. Tak perlu basa-basi lewat omongan. Dia datang, perang, mengerang, lalu mati terlentang. Itulah Hanzo. Sebuah penanda akan sebuah figurisasi robotik "orang Jepang". Bekerja, lalu mati. Entah alami, atau harakiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-7567131928731565902?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/7567131928731565902/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/07/hanzo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/7567131928731565902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/7567131928731565902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/07/hanzo.html' title='Hanzo'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TDYFCFZy7cI/AAAAAAAAAC0/R1jXNb0i3Po/s72-c/hanzo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-3950246250191772110</id><published>2010-07-05T20:37:00.000-07:00</published><updated>2010-07-06T22:07:27.768-07:00</updated><title type='text'>SISTEM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TDKmXpQjWNI/AAAAAAAAACs/8Y_4G1ccLvA/s1600/labyrinth.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 195px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TDKmXpQjWNI/AAAAAAAAACs/8Y_4G1ccLvA/s200/labyrinth.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5490633820860537042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Entah apa nanti yang ia karang. Ia ingin langsung masturbasi, tapi sistem memaksanya sabar dulu. Ia ingin membunuh Tuhan, tapi sistem memaksanya jadi penyembah. Ia ingin mengolok-olok sistem, tapi sistem balik menghardiknya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAI BAU KENCUR! KAU MASIH TERLALU HIJAU. SISTEM TAK BOLEH SALAH. KALAU -KAU ANGGAP- SALAH, ADA SISTEM LAIN YANG BERTUGAS MENGOREKSI. KALAU TIDAK TERKOREKSI, MAKA TENTUNYA ADA CELAH DALAM SISTEM YANG AKAN DITAMBAL DENGAN SISTEM LAINNYA. ADA SISTEM DI DALAM SEBUAH SISTEM YANG HIDUP DALAM SEBUAH SISTEM YANG LAHIR DARI SEBUAH SISTEM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah...sistem...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-3950246250191772110?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/3950246250191772110/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/07/sistem.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/3950246250191772110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/3950246250191772110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/07/sistem.html' title='SISTEM'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TDKmXpQjWNI/AAAAAAAAACs/8Y_4G1ccLvA/s72-c/labyrinth.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-283842429160954616</id><published>2010-07-05T20:27:00.000-07:00</published><updated>2010-07-05T20:34:48.458-07:00</updated><title type='text'>Ka...win..ka...win...ka...win...ka</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TDKkOogKuMI/AAAAAAAAACk/OZUfjDMI3QA/s1600/sex+symbol.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TDKkOogKuMI/AAAAAAAAACk/OZUfjDMI3QA/s200/sex+symbol.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5490631467015518402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ka...win...ka...win...ka...Ucap Sutarji&lt;br /&gt;Dan kelas ini bicara soal perjanjian ka...win...ka...win...ka&lt;br /&gt;Dan mereka semua begitu tetarik tentang harta perka...win...ka...win...ka...&lt;br /&gt;Dan Sang Binaragawan menceritakan bagaimana peleburan dan pemisahan harta perka...win...ka...win...ka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saya harus percaya Si Atheist yang mati di Semeru. Jikalau perka...win...ka...win...ka...win...ka...win...ka...&lt;br /&gt;Adalah melulu soal persetubuhan. Melulu soal persenggamaan. Dan "tahi kucing"-lah soal karya penciptaan. Karena ketika Lingga dan Yoni saling menyapa, siapa peduli Ilahi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ka...win...ka...win...ka...win...ka...win...ka...win...ka...win...ka&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-283842429160954616?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/283842429160954616/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/07/kawinkawinkawinka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/283842429160954616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/283842429160954616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/07/kawinkawinkawinka.html' title='Ka...win..ka...win...ka...win...ka'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TDKkOogKuMI/AAAAAAAAACk/OZUfjDMI3QA/s72-c/sex+symbol.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-2136847567340580689</id><published>2010-07-01T06:49:00.000-07:00</published><updated>2010-07-01T06:53:07.506-07:00</updated><title type='text'>FPI AND THEIR UNREASONABLE PLURALISM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TCydut7osUI/AAAAAAAAACc/CaOBPYWdn2k/s1600/fpi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 141px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TCydut7osUI/AAAAAAAAACc/CaOBPYWdn2k/s200/fpi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5488935471787061570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Inherently, Indonesia is a plural nation. There are hundreds ethnics groups with diversification in cultures and religions disseminated in thousand islands.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A heterogeneous society is always vulnerable being trapped in many horizontal conflicts. In some cases, society seemingly caught by an atrophy to having unity exceeding their own primordial environment, a tightening in focus at their own group which the ability to feel commonality as “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;one nation&lt;/span&gt;” or “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;one region&lt;/span&gt;” embezzled by the perspective that “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;we&lt;/span&gt;” is increasingly narrower and “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;the other&lt;/span&gt;” is perceived as a threat. (Franz Magnis Suseno, 1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;These symptoms have been estimated far away by John Rawls. Since 20th century, according to Rawls, there is something new in history. Some hard-line ideological movements had emerged since that. They would remove the traditional order in society with a new order purely based on their own ideology. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The determination of the term “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;justice&lt;/span&gt;” interpreted by “one community only” as the basis of life for the “entire communities” automatically destabilizes the community itself and sharply produces unbearable increases of social conflicts. In his book, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Political Liberalism”&lt;/span&gt;, Rawls states that pluralistic society can only live together well when it is based on the idea of “justice” that is acceptable to all. And according to Rawls it is still possible.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rawls assumes that among the communities with pluralistic traditions and systems of value, there is still enough similarity in order to achieve &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“an overlapping consensus”&lt;/span&gt; on the basis of life togetherness. Communities that live in the different traditions and systems could set an order of living together that is acceptable to all, without having to abandon each faith, beliefs, values and morality.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rawls introduces two concepts of pluralism: "reasonable pluralism" and "unreasonable pluralism." Reasonable is not drawn from the word "rational", but from the word "to reason about", in a sense of willing to argue and to compromise. Related to moral and religious essences, for example, a community absolutely does not want to bargain. But for the sake of the framework of living together with other communities they are willing "to reason", to consider the various angles and sides, and not just minding their own ideals. There is still an open space for compromise.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the other hand, whether it is because they are based on a hard ideological or religious idea, lays the unreasonable group. Their problem is, basically, they could live according to their own beliefs, but they are not satisfied. They want all people to live according to their order which they believe is the “right” one. They refused to hold a joint consideration, do not want to compromise, and do not receive plurality. They are intrinsically intolerant. These groups are dangerous to a plural society. With more and more unreasonable groups, it will also be more difficult to build a life togetherness which can be accepted as the fairest and the best for all.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lately, a hard-lined Islamic group, FPI (Islamic Defenders Front), again, challenged the order of the plural life of Indonesian society. In Bekasi, they made the “Patung Tiga Mojang” ("Statue of Three Ladies") as their coercion target. They put forward a reason which is far away from the process of “to reason”. They said that the statue is the representation of the symbol of the “Trinity”. This is certainly far from the process "to reason", why, because as it is written by Julia Suryakusuma (Jakarta Post, June 30, 2010), the "Trinity" symbol could have been from “Hindu’s Trisula” or even a well-known comedy group, the Three Stooges. At this point, FPI is standing at the top of their groups, “the unreasonable pluralism”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pancasila (The Five Guidelines Principle) was born from a "reasonable pluralism". As an overlapping consensus, Pancasila is not able to stick everything. Pancasila is a statement of a nation which people have the eagerness to unite, that any component, the strong ones to the weak ones, the majority to the minority, receive all communities within the scope of the nation as human beings and citizens with the same rights and obligations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pancasila is created as the most possible way to mediate all groups based on "reasonable pluralism". While the groups based on “unreasonable pluralism” just like FPI should be considered as a serious threat to its existence. Last but not least, the Law of the Republic of Indonesia Number 8 Year 1985 on Civil Society Organizations is clear: any group opposed to Pancasila should be considered as a forbidden group.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-2136847567340580689?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/2136847567340580689/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/07/fpi-and-their-unreasonable-pluralism.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/2136847567340580689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/2136847567340580689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/07/fpi-and-their-unreasonable-pluralism.html' title='FPI AND THEIR UNREASONABLE PLURALISM'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TCydut7osUI/AAAAAAAAACc/CaOBPYWdn2k/s72-c/fpi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-6083835661151290333</id><published>2010-06-22T21:59:00.000-07:00</published><updated>2010-06-26T02:40:38.981-07:00</updated><title type='text'>Jakarta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TCXLCGKC3-I/AAAAAAAAACU/9FUB9NnJJNY/s1600/jakarta-at-night.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 124px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TCXLCGKC3-I/AAAAAAAAACU/9FUB9NnJJNY/s200/jakarta-at-night.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5487014957893738466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tentu ada masa ketika saya begitu "cinta" dengan Jakarta. Tentu ada masa ketika saya begitu menganggap Jakarta sebagai utopia metropolis. Semua tersedia. Dari tukang hamburger keliling komplek, sampai toko mainan yang menjajakan mainan-mainan keluaran &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bandai&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mattel&lt;/span&gt;, dan segala yang tak ada di daerah. Tentu ada masa ketika ada kesenangan anak bocah yang bisa menyaksikan siaran televisi swasta tanpa diacak. Tentu saya rindu masa-masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ayah-ibu membawa saya ke Jakarta, selalu ada kenikmatan tersendiri. Menyusur Bandara Soekarno-Hatta sampai ke rumah nenek. Semuanya megah. Semuanya mewah. Deretan pencakar langit. Mall-mall dengan gemerlapnya. Mobil-mobil mewah yang di daerah jarang dimiliki. Atau rumah makan cepat saji, yang di daerah hanya bisa saya saksikan pariwaranya lewat layar kaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir sebelas tahun saya jadi penghuni Jakarta (meski sebenarnya saya tinggal dan berkuliah di Depok). Hampir sebelas tahun saya mondar-mandir di jalanan Jakarta. Dari mengendarai bajaj hingga Transjakarta yang sungguh-sungguh "metropolitan" itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, Hukum Gossen I yang ada. Ada kemuakan ketika harus melintasi Jalan Sudirman yang padat. Ada kebosanan ketika mengunjungi pusat-pusat perbelanjaan. Keceriaan seorang bocah di kota besar berganti jadi kemurungan seorang pemuda yang menganggap "orang ramai terkadang jadi neraka".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali ada degradasi nilai intrinsik di Jakarta. Setidaknya bagi saya sendiri. Atau mungkin bagi anda. Juga bagi kita semua. Goenawan Mohamad pernah mengutip Fred Hirsch dalam sebuah tulisannya. Fred Hirsch, dalam bukunya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Social Limits to Growth&lt;/span&gt;, mendaras konsep yang ia beri nama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Positional Goods"&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harta benda posisional itu adalah barang-barang —dalam bentuk benda dan jasa— yang dimiliki sebuah minoritas. Harta benda itu hilang kelebihannya ketika ia dimiliki oleh mayoritas. Contoh yang baik adalah mobil, rumah peristirahatan di bukit yang luang, dan gelar akademis. Makin banyak orang yang memilikinya, makin hilang apa yang membuatnya dulu diinginkan: mobil kehilangan fungsi kenyamanan dan kecepatannya (parkir sulit, jalan macet), dan rumah tetirah kehilangan ruang lengangnya yang pantas untuk istirahat. Ketika hanya segelintir orang punya gelar akademis, sangat mudah untuk memperoleh kerja yang menyenangkan; tapi ketika semua orang lulus universitas, sebaliknya yang terjadi. (Goenawan Mohamad, 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali terlalu banyak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Positional Goods"&lt;/span&gt; di Jakarta. Setidaknya bagi saya. Atau bagi anda. Juga bagi kita semua. Dahulu mobil adalah kendaraan paling menjanjikan untuk berpusing-pusing di ibu kota. Tak banyak yang punya mobil. Mungkin di tahun 80-an sebuah Mobil &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Datsun &lt;/span&gt;dapat menempuh perjalanan secara cepat dengan kelambatannya. Tapi sekarang semua orang punya mobil. Perkara kredit hingga leasing mobil bukanlah persoalan sulit lagi. Jakarta diperkirakan akan "matot" (macet total) dalam dasawarsa ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula gelar sarjana. Di masa ketika lulusan SMA masih dihargai, menjadi seorang Sarjana adalah pencapaian akademis yang seolah menjanjikan sebuah kepastian untuk hidup sejahtera. Dan Jakarta adalah sebuah "Tanjung Harapan" para Sarjana untuk memutar roda kehidupan di tempat perputaran uang.Tentu kini jadi Sarjana bukan perkara sulit. Entah berapa institusi bernama universitas yang telah berdiri. Dari yang memang menyelenggarakan kuliah, sampai yang fiktif. Semuanya ada di Jakarta. Marketing dari universitas tadi bergeser dari rumah ilmu pengetahuan menjadi sebuah rumah pelatihan bagi para pencari jaminan kerja. "Ilmu" pun terhasrati keinginan untuk mendapatkan "pekerjaan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya -barangkali- yang menyeruak adalah sebuah transendensi dari degradasi a-la &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Positional Goods"&lt;/span&gt; yang teragregasi dalam banyak segi kehidupan di Jakarta. Ancamannya serius: Sebagai sebuah entitas dari "Positional Goods" tadi, Jakarta terancam tak lagi "bernilai". Layaknya mobil dan gelar akademis, Jakarta mungkin akan diserang gejala kemerosotannya sebagai metropolis akibat kuantitas dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Positional Goods"&lt;/span&gt; tadi mengalienisasi kualitasnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kemerosotan nilai intrinsik dari kota ini hanya saya yang mengalami dan bukan anda. Semoga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-6083835661151290333?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/6083835661151290333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/06/jakarta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/6083835661151290333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/6083835661151290333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/06/jakarta.html' title='Jakarta'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/TCXLCGKC3-I/AAAAAAAAACU/9FUB9NnJJNY/s72-c/jakarta-at-night.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-7180255494935928799</id><published>2010-05-28T09:15:00.000-07:00</published><updated>2010-05-28T09:56:39.180-07:00</updated><title type='text'>MOTIF - ASI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S__1oU3rV2I/AAAAAAAAACM/6LeNIfN98qU/s1600/kappa.png"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S__1oU3rV2I/AAAAAAAAACM/6LeNIfN98qU/s200/kappa.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5476365745051621218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kemalasan berujung pada kerajinan. Setidaknya itu yang ia rasakan hari ini. Dia malas, dan dia berharap akan ada metamorfosa menuju kerajinan. Jadi lebih baik sekarang nikmati saja fase kemalasan ini. Nikmati saja masa-masa "ulat" ini. Toh nanti akan jadi "kupu-kupu" cantik juga. Jadi kalau sekarang malas, yang paling hakiki adalah menikmati bahwa di kemudian hari akan datang rajin. Kalau takut rejeki di patuk ayam, maka jadilah ayam. Patuk saja "si rejeki"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....astaga, ia sadar bahwa racauannya makin tidak jelas. Bahkan untuk menulis pun dia malas (tenang saja, nanti pun akan rajin)....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia butuh motivasi. Motivasi bisa datang dari subjek yang hidup . Bisa pula dari subjek yang sudah mati. Jadi pilihan pun ia kerucutkan kepada dua hal: (1) buku yang memotivasi; (2) musik yang memotivasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari lemari yang ditumbuhi buku di kamarnya, diambilnya sebuah novel-mini karangan Ryunosuke Akutagawa, "Kappa". Sebuah novel Jepang yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa. Sebuah novel yang punya label: "BUKU OBRAL 5000 (Penghapusan)". Astaganaga! Murah betul buku ini. Bahkan buku yang ia tak ingat betul judulnya -kecuali ia ingat di sampul buku itu ada gambar Susno Duadji- kalau tidak salah dihargai sepuluh kali lipat lebih mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini bercerita dalam narasinya yang paling absurd.Seperti George Orwell &lt;span style="font-style:italic;"&gt;zonder&lt;/span&gt; konten politiknya yang pekat. "Kappa" berbicara tentang seorang pendaki gunung yang terjebak di sebuah perkampungan makhluk legenda negeri Sakura, Kappa. Kappa adalah makhluk yang keberadaannya masih disangsikan. Kappa (menurut dr. Chak, seorang dokter dari kaum Kappa) rata-rata memiliki berat 20 hingga 30 pon, bahkan yang sehat bisa hingga 50-an pon. Ciri utama yang membedakan Kappa dengan binatang lain adalah cawan berbentuk oval yang ada di kepalanya, paruhnya yang menyerupai itik, dan kulitnya yang bisa berubah-ubah menyesuaikan tempat layaknya bunglon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah, bagi saudara ini memotivasi buat hidup atau tidak. Tapi saya -dengan terlebih dahulu membingungkan makna motivasi sebenarnya- pikir ini memotivasi dalam kondisi kemalasan kronis pasca ujian seperti ini. Diceritakan -lewat mulut sang pendaki yang ternyata sakit jiwa- Kappa memiliki kebudayaan, layaknya manusia memiliki kebudayaannya. Kappa punya bahasa. Kappa punya dokter hingga penyair. Kappa punya tuntunan untuk berhubungan sex, layaknya manusia yang menciptakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kamasutra&lt;/span&gt; Bahkan ada pertunjukan semacam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;burlesque&lt;/span&gt; yang digemari kaum Kappa yang homoseksual. Bedanya adalah: (1) Tidak seperti di dunia manusia kebanyakan, kaum betina Kappa terlahir lebih agresif, dan tingkat perkosaan yang dilakukan oleh betina kepada jantan lumayan tinggi; (2) Kappa menertawakan hal yang dianggap manusia serius, tetapi menganggap serius hal yang ditertawakan manusia. Selebihnya Kappa mirip manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah ada buku yang memotivasi, maka harus ada musik yang memotivasi. Sembari makan malam, sayup-sayup tadi dia dengar adiknya memainkan melodi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ragtime&lt;/span&gt; dalam Entertainer-nya Scott Joplin. Maka dia pun mengunduh satu album Sang Dewa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ragtime&lt;/span&gt; dari situs yang mungkin adalah cucu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Napster&lt;/span&gt; yang ia anggap kisahnya sungguh heroik itu. Maka kepalanya pun setidaknya tidak "malas" bergoyang ke kanan-kiri-kanan lagi ketika &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Elite Syncopations&lt;/span&gt; dengan nada riang gembira dimainkan. Ah, kalau melihat film &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Candyman&lt;/span&gt;, tak yakin betul si &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nigger&lt;/span&gt; Joplin meramu nada-nada dalam suasana hati gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa memang motivasi malam ini -sekali lagi dalam kondisi yang membingungkan makna "motivasi". Yang satu diberikan novel absurd karya novelis yang matinya tak jauh beda dengan Nietzsche yang halusinatif dan skizofrenis. Bedanya, Akutagawa memutuskan menggunakan privilesenya sebagai "manusia yang dikutuk bebas" untuk bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu motivasi yang kedua tentunya datang dari nada-nada riang yang diciptakan dalam kemurungan sebuah ras manusia. Denting piano Joplin yang seakan-akan membawa ia membayangkan sebuah pesta &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tap-dance&lt;/span&gt; di sebuah rumah bordil reot khusus negro di pinggir Missisipi. Tak beberapa lama kemudian pesta tadi dibubarkan oleh molotov yang dilemparkan manusia bertopeng tumpeng putih-putih. Sungguh sebuah motivasi yang diberikan oleh Joplin! Terima kasih! Jadi lebih memotivasi ketika sebuah halaman di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wikipedia&lt;/span&gt; menceritakan perihal Joplin yang meninggal karena kewahaman yang disebabkan penyakit "raja singa" yang ia derita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....sekali lagi ia bingung apa artinya "motivasi"....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-7180255494935928799?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/7180255494935928799/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/05/motif-asi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/7180255494935928799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/7180255494935928799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/05/motif-asi.html' title='MOTIF - ASI'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S__1oU3rV2I/AAAAAAAAACM/6LeNIfN98qU/s72-c/kappa.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-749142347502947222</id><published>2010-05-24T18:02:00.000-07:00</published><updated>2010-05-24T18:25:00.936-07:00</updated><title type='text'>Anger Managemenet</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S_smtu7sVbI/AAAAAAAAACE/M45BLbm5jlA/s1600/anger-management.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 148px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S_smtu7sVbI/AAAAAAAAACE/M45BLbm5jlA/s200/anger-management.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5475012339133339058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Yang paling memuakkan adalah tidak diberikan kesempatan bebas. Tapi yang lebih memuakkan adalah didikte soal apa yang dianggap "bebas", dan apa yang dianggap "mengekang". Setidaknya itulah yang saya interpretasikan dalam memandang HAM (Hak Asasi Manusia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya yakini - dan mungkin banyak penggiat HAM di luar sana yakini - adalah perkataan Sartre (dan ini mungkin sudah menjadi syahadat bagi saya) : MANUSIA DIKUTUK BEBAS. Ini bukanlah pilihan. Tapi memang sebuah kodrat - tentunya bukan dalam artian sebuah hal yang hadir dari dogma yang doktrinal soal "kodrat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAM hadir dari sebuah pemikiran bahwa ada sisi-sisi khusus (asasi) dari manusia yang kesempatan untuk menentukannya ada dalam diri manusia itu sendiri: menentukan agama contohnya. Tapi yang menjadi memuakkan adalah sisi-sisi khusus tadi coba diuniversalisasikan. Dengan "latahnya" coba ditemukan irisannya dari seluruh masyarakat di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip Kojeve, hasrat manusia adalah hasrat akan rekongnisi (Annerkenung). Rekognisi lahir dari pertarungan sampai mati antara subjektivisme logis yang dialektik. Pertarungan -menurut Kojeve- akhirnya akan dimenangkan "dia" yang berani meresikokan dirinya. Yang satu akan selamat menjadi "tuan" dan yang lain "budak". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsepsi HAM tentu tidak sepakat dengan "pertarungan sampai mati untuk rekognisi" yang diajarkan Kojeve tadi. Kojeve (dan juga Sartre) mengajarkan kita untuk berani menidak satu sama lain. Sebuah aktivitas yang coba dinegasikan dengan pasivitas HAM yang "kebanci-bancian". Pasivitas, dalam artian kita hanya diperbolehkan untuk di satu titik berhenti dan menerima bahwa ada batasan yang tidak mungkin diterabas secara aktif, walaupun masing-masing manusia memiliki "annerkenung" untuk menerabasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Universalitas yang diajarkan HAM mencegah kita untuk melakukan penidakan terhadap subjektivitas subjek lain, sehingga pada akhirnya di mata kita orang tersebut akan menjadi objek. HAM -yang saya katakan sekali lagi kebanci-bancian- mengajarkan kita untuk sama-sama menjadi "subjek" dan bergandengan tangan untuk merayakan hak individuil masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAM- lewat penggiatnya yang juga kebanci-bancian - saya rasa adalah konsepsi yang paling kasar dalam mengkoersi kebebasan individuil yang dikutuk bebas tadi. Dengan sloganisme &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"the right of self determination"&lt;/span&gt;, HAM justru mengajarkan kita pada sebuah tataran &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"the right of common determination"&lt;/span&gt;. Yang memang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"self" &lt;/span&gt;dialienasi dari dirinya menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"common"&lt;/span&gt;. Hadirnya HAM sebenarnya adalah falsifikasi dari HAM itu sendiri!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-749142347502947222?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/749142347502947222/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/05/anger-managemenet.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/749142347502947222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/749142347502947222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/05/anger-managemenet.html' title='Anger Managemenet'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S_smtu7sVbI/AAAAAAAAACE/M45BLbm5jlA/s72-c/anger-management.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-8955321499249763395</id><published>2010-05-14T03:18:00.000-07:00</published><updated>2010-05-14T03:19:35.056-07:00</updated><title type='text'>EUROPA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-0jr5_Y8QI/AAAAAAAAAB8/a6R_2A1-n0M/s1600/paris_%2Bfrance.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-0jr5_Y8QI/AAAAAAAAAB8/a6R_2A1-n0M/s200/paris_%2Bfrance.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5471068359533064450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suara terompet Chris Botti meningkah. Suara rendah Shawn Colvin mendayu-dayu. Tidak ada kesempatan buat berselancar di sini. Jadi entri ini tidak live. Dia harus di-delay. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibukanya sebuah buku. Ditatapnya pahatan Yesus dengan tangan kanan memegang buku. Dan tangan kirinya yang tak utuh lagi. Jubah panjangnya menutupi mata kaki. Kedua telapaknya berpijak di dua kepala hewan yang ia perkirakan milik dua ekor anjing. Sebuah simbol kejayaan terhadap iblis - begitu tafsir Laurie Schneider Adams tentang pahatan dari abad XIII di Katerdal Chartres. Sebuah katerdal bergaya gothic di Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu berganti. Sebuah lagu Prancis. Denting piano dibarengi suara drum yang digebuk perlahan dengan stik-kuas. Tang-ting-tang-ting. Suara gitar dengan nada tinggi mengantarkan suara rendah pria- ia tak tahu betul siapa pria ini. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;La Belle Dame Sans Regret . &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terompet Chris Botti kembali meningkah. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;A Thousand Kisses Deep&lt;/span&gt; , seolah membawanya ke tempat yang bahkan belum pernah ia kunjungi. Sederetan penjual roti bagel. Sederetan kanopi berwarna cerah. Mungkin di negeri ‘nun jauh tempatnya kehilangan “kepercayaan” kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah gambar menceritakan sebuah pagi di Velika Hoca, Kosovo. Sebuah negeri berdarah. Setidaknya itu yang ia ketahui dari media. Seorang biarawan muda membaca liturgi Serbia Ortodoks di dalam kapel berhias fragmen ikon abad pertengahan. Gayanya berpakaian lebih mirip Lorenzo Lamas dalam film &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Renegade&lt;/span&gt; ketimbang seorang padri. Ia teringat sebuah film yang ia tonton waktu kanak-kanak. Tentang perang Kosovo. Ada pornografi di film itu: seorang ibu muslim Bosnia Herzegovina yang jarinya diiris pisau komando tentara Yugoslavia. Ia jijik. Tapi perang selalu melahirkan pornografi dalam artiannya yang paling menjijikkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andrea Bocelli. Ia selalu merinding mendengar lagu itu: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Italia&lt;/span&gt;. Dalam butanya Bocelli begitu fasih mengajaknya menelusuri &lt;span style="font-style:italic;"&gt;piazza-piazza&lt;/span&gt; di Roma, mungkin juga Milan atau Firenze. Dan ia tertegun. Sekali lagi ia merasa tengah hadir di negeri yang tak pernah ia sambangi. Ada perasaan rindu yang menggelitik. Suatu saat dia akan ke sana. Dan merayakan “borgol” yang terlepas dari kedua lengannya. Mungkin lengannya akan berdarah. Tapi ia tak- akan -begitu peduli.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-8955321499249763395?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/8955321499249763395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/05/europa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/8955321499249763395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/8955321499249763395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/05/europa.html' title='EUROPA'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-0jr5_Y8QI/AAAAAAAAAB8/a6R_2A1-n0M/s72-c/paris_%2Bfrance.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-6217410591423358595</id><published>2010-05-13T18:06:00.000-07:00</published><updated>2010-05-13T18:20:04.199-07:00</updated><title type='text'>The Sun is But A Morning Star</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-ylPeyN7wI/AAAAAAAAAB0/7b9rmhS-sZE/s1600/sun1copy15.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 164px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-ylPeyN7wI/AAAAAAAAAB0/7b9rmhS-sZE/s200/sun1copy15.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5470929332728622850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ia duduk. Dibelakangi sederetan kuda besi bernomor. Ia membawa satu. Sebuah mata uang Portugal- tentunya sebelum mereka menjadi sosialita Europa. Di kejauhan, ada istana yang tak kunjung selesai. Koran, pagi ini ,berbicara tentang bahaya yang dipadamkan. Sebuah koran utopis yang menganggap demokrasi lebih tinggi dari agama. Dan maka sebuah kekerasan yang "dikatakan" adalah hasil dari "fundamentalisme" beragama harus dihujat. Meski ia tak paham betul apa yang "fundamental" dan mana yang "sekunder". Tanpa sebuah kabar berimbang: jikalau sebuah letusan bom dari tubuh yang terkoyak adalah sebuah ekspresi kekecewaan. "Ekspresi", sesuatu yang seolah berkomplemen dengan "kebebasan", dalam terminologi demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menikmati pagi. Beberapa hari ini dia selalu bersykur jika masih bisa bangun pagi. Seorang temannya tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pesan dari udara datang. Dia harus pergi. Bertemu dengan seorang yang kurang waras. Meski dia-pun sering merasa demikian. Sebuah konferensi orang kurang waras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....nanti kita lanjutkan...kalau masih ada umur...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-6217410591423358595?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/6217410591423358595/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/05/sun-is-but-morning-star.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/6217410591423358595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/6217410591423358595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/05/sun-is-but-morning-star.html' title='The Sun is But A Morning Star'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-ylPeyN7wI/AAAAAAAAAB0/7b9rmhS-sZE/s72-c/sun1copy15.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-2036866117829983925</id><published>2010-05-13T15:08:00.000-07:00</published><updated>2010-05-13T15:12:28.391-07:00</updated><title type='text'>Dari Ketinggian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-x5RX3CGXI/AAAAAAAAABs/AktKWMBvzvc/s1600/up-and-high-in-sky.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-x5RX3CGXI/AAAAAAAAABs/AktKWMBvzvc/s200/up-and-high-in-sky.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5470880986717886834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Panggil dia melankoli. Setidaknya untuk malam ini. Remang 5 &lt;span style="font-style:italic;"&gt;watt&lt;/span&gt;. Denting piano. Juga sejuk yang artifisial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggil dia melankoli. Setidaknya sebelum mati. Seekor angsa hitam terbatun dalam karton putih. Mengajarkan untuk bergembira dalam yang tak terduga. Juga tentang “ketiba-tibaan” yang dirayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tang-ting-tung. Sebuah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ballad&lt;/span&gt; untuk Adeline. Sebuah cinta dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;La Vrei Musique deI’Amour&lt;/span&gt;. Fluktuasi hidup mungkin. Richard terus bermain. Tang-ting-tung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zzzzaaaassshhh....air pun muncrat di utara. Sang kucing hitam berlalu. Kaki kiri belakangnya puntung. Dalam pincang ia melewati genangang demi genangan. Siapa peduli padanya. Siapa mau pelihara dia. Atau memberinya semangkuk &lt;span style="font-style:italic;"&gt;whiskas&lt;/span&gt;. Dia masuk ke dalam kesendiriannya yang paling dalam. Dan seolah ada senyum di bawah misai putihnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata kakinya ia bentur-benturkan ke kaki kursi tua. Sebuah metronom. Sebuah abakus. Dalam hidup yang sebentar. Di dalam kamar yang hambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ingat suatu waktu. Ketika mendiang kakeknya bercerita tentang hujan. Maka dalam setiap hujan, dia jadi melankoli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denting piano. Seorang sopranos membuatnya merinding. Maut, jangan dulu kau menjemput. Ujarnya dalam hati. Tapi siapa peduli dengan ‘pintanya. Dia bisa mati kapan saja. Dalam satu sampai seribu hembusan napas. Dan bukankah sang angsa meminta kita merayakan “ketiba-tibaan”?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-2036866117829983925?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/2036866117829983925/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/05/dari-ketinggian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/2036866117829983925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/2036866117829983925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/05/dari-ketinggian.html' title='Dari Ketinggian'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-x5RX3CGXI/AAAAAAAAABs/AktKWMBvzvc/s72-c/up-and-high-in-sky.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-1503891888569524548</id><published>2010-05-13T03:36:00.000-07:00</published><updated>2010-05-13T03:44:08.796-07:00</updated><title type='text'>Isolasi Dingin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-vX8q54aOI/AAAAAAAAABk/ey4p6VTGd34/s1600/es+batu.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-vX8q54aOI/AAAAAAAAABk/ey4p6VTGd34/s200/es+batu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5470703609680783586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tidak bisa bangun-bangun.Bangun-bangun, tidak bisa. Udara dingin menusuk diri. Menusuk diri, udara dingin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepi. Sepi...&lt;br /&gt;Aku menyukainya.&lt;br /&gt;Rasanya manis. Rasanya menyegarkan.&lt;br /&gt;Tubuhku membutuhkannya. Jiwaku menginginkannya.&lt;br /&gt;Sepi. Sepi...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-1503891888569524548?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/1503891888569524548/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/05/isolasi-dingin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/1503891888569524548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/1503891888569524548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/05/isolasi-dingin.html' title='Isolasi Dingin'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-vX8q54aOI/AAAAAAAAABk/ey4p6VTGd34/s72-c/es+batu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-1345164063000656436</id><published>2010-05-12T12:17:00.001-07:00</published><updated>2010-05-12T12:25:51.515-07:00</updated><title type='text'>Sssssyyyyiiiuuuuu,,,,(Ucap Gelap)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-sAtyKpObI/AAAAAAAAABc/Ulwq_UbbbLE/s1600/night-wind.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-sAtyKpObI/AAAAAAAAABc/Ulwq_UbbbLE/s200/night-wind.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5470466958932130226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suara pendingin ruangan menandakan freon belum dimandikan. Satu-dua penghisap darah 'nan renik masih lalu-lalang. Ada De Niro, Norton, dan Brando di televisi. Tapi itu film terlalu "kecil" untuk mereka yang "besar". Zaaaappp....Toaster bergambar-pun ia padamkan. Dan ia terus tak-tik-tuk. Mengisi yang "ingin" diisi, bukan "perlu" diisi. Distingsi "ingin" dan "perlu" terkadang membuatnya muak. Di satu sisi ia ingin selalu melakukan yang "ingin", tapi di lain sisi lingkungannya menuntutnya untuk melakukan yang "perlu". Maka ia pun ingin meleburkan sang "ingin" dan sang "perlu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada hantu. Ia terlalu sombong untuk percaya yang halus dengan dirinya yang kasar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-1345164063000656436?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/1345164063000656436/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/05/sssssyyyyiiiuuuuuucap-gelap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/1345164063000656436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/1345164063000656436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/05/sssssyyyyiiiuuuuuucap-gelap.html' title='Sssssyyyyiiiuuuuu,,,,(Ucap Gelap)'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-sAtyKpObI/AAAAAAAAABc/Ulwq_UbbbLE/s72-c/night-wind.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-7954538593102419802</id><published>2010-05-12T11:18:00.000-07:00</published><updated>2010-05-12T12:06:17.462-07:00</updated><title type='text'>Ninoy ke Noynoy</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-r60gMD9oI/AAAAAAAAABU/JdnSw1U7Dl4/s1600/I+Am+Ninoy.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-r60gMD9oI/AAAAAAAAABU/JdnSw1U7Dl4/s200/I+Am+Ninoy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5470460477295556226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebuah heroisme dalam politik, kadang beriringan dengan horor. Perkenalan saya dengan terminologi "politik" sudah dimulai sejak bangku sekolah dasar. Salah satunya dimulai dengan menyelami biografi tokoh besar dunia. Tentu yang dikategorikan sebagai protagonistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Gandhi hingga Martin Luther King. Dari Abraham Lincoln sampai Benigno Aquino. Persamaannya satu: mereka semua tewas dengan selongsong peluru menembus jangatnya. Dan saya terkesima. Saya anggap politik adalah sebuah instrumen "perjuangan" (tentunya dengan huruf "P"). Ada yang jadi martir dalam sebuah perjuangan menentang penindasan. Ada sebuah rezim yang ber-evolusi karena wafatnya Sang Martir. Dihapusnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jim Crow-Act&lt;/span&gt; yang mensegregasi si hitam dan putih setelah tewasnya Pendeta King. Juga gerakan massif &lt;span style="font-style:italic;"&gt;people-power&lt;/span&gt; yang menggulingkan Marcos di Filipina pasca dibunuhnya Benigno Servillano "Ninoy" Aquino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang bocah, saya berkenalan dengan sadisme-politik lewat buku yang tak terduga. Bukan, saya belum paham betul membaca Das Kapital. Atau memahami Mein Kampf yang "menjerit-jerit".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun terakhir saya di sekolah dasar, saya dibelikan sebuah buku oleh ayah. Judulnya, "Buku Pintar Tokoh-Tokoh Ternama". Anda tahu apa yang membuat saya mengagumi seorang tokoh di buku tersebut? Satu hal: seorang tokoh harus mati di tengah perjuangannya menentang opresi. Seorang martir. Dan saya terpukau dengan seorang Ninoy Aquino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ninoy Aquino tewas di tengah "perjuangannya" melawan rezim otoritarian Ferdinand Marcos. Saya tidak perduli alasannya adalah untuk Filipina yang lebih demokratis, bla,bla,bla. Tapi seorang yang sampai harus mati memperjuangkan yang ia bela, bukanlah seorang yang sembarangan (di titik ini, barangkali saya harus kagum dengan seorang Adolf Hitler).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selongsong peluru menembus kepalanya, dan Ninoy tewas di bandara hanya beberapa menit setelah dia menginjakkan kaki di tanah kelahirannya, Filipina, dari pengasingannya di Amerika Serikat oleh Marcos. Tak penting betul penyingkapan pembunuhannya-yang hampir pasti didalangi Marcos. Biarlah dia menjadi kasus "menunggu Godot" lainnya seperti kasus Kennedy. Tapi ekses kematiannya luar biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang istri,Corazon "Cory" Aquino, akhirnya berkuasa lewat sebuah peruntuhan rezim Ferdinand Marcos. "Kekuatan Rakyat" atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"People Power"&lt;/span&gt; di Filipina sering digembar-gemborkan sebagai sebuah bukti nyata dari anarkisme-efektif: sebuah penolakan terhadap &lt;span style="font-style:italic;"&gt;status-quo&lt;/span&gt; yang berkerumuk dan menjamur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinasti Aquino pun dikenal sebagai salah satu dinasti politik terbaik di dunia. Barangkali hanya bisa disaingi dinasti Nehru-Gandhi di India. Di luar dinasti Korea Utara dan Kuba yang komunistik, tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, sang putra, Benigno "Noynoy" Aquino hampir dipastikan menjadi presiden menggantikan Gloria Arroyo. Saat saya tak-tik-tuk posting ini, Noynoy unggul sampai 40.2 pesen dibandingkan Joseph Estrada (Jakarta Post, 12 Mei 2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat seorang sosiolog Yahudi, Amitai Etzioni. Dia melakukan rekonstruksi terhadap definisi "rasional" dalam tindakan ekonomi. Baginya, ada kalanya manusia sebagai makhluk-ekonomi menjadi irrasional. Sebuah komodifikasi yang terletak dalam sebuah benda-benda lux membuat orang meninggalkan motif ekonomi awal: mendapatkan keuntungan tertinggi, dari modal terkecil. Maka tak heran anthurium yang tak lebih indah daripada daun talas dikejar demi prestise. Dan ini mungkin pula terjadi dalam pilihan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali terlalu kasar menganggap Noynoy adalah anthurium. Adalah terlalu dini untuk menganggap Noynoy adalah hasil sebuah "emotional-based" ketimbang "rational-based" dari pemilih. Trah Aquino telah melekatkan "komodifikasi-anthurium" tadi dalam diri Noynoy. Ini tak bisa ditolak. Tak ada sebuah gerakan seakbar ayah-bunda-nya. Selain menjadi anggota DPR dari Distrik Tarlac dan Anggota Senat (TEMPO, 16 Mei 2010), "prestasi" terbesar Noynoy adalah hampir menjadi korban pembunuhan politik bersama sang bunda dalam percobaan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;coup&lt;/span&gt; di tahun 1987.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi di Filipina hanya membuat saya berpikir: politik tidak selamanya hasil "perjuangan" dengan "P". Terkadang dia hanya pre-kondisi yang hanya dapat "dinikmati" oleh subjek tertentu. Salah satunya adalah hasil dari komodifikasi sebuah "trah" atau "dinasti".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-7954538593102419802?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/7954538593102419802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/05/ninoy-ke-noynoy.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/7954538593102419802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/7954538593102419802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/05/ninoy-ke-noynoy.html' title='Ninoy ke Noynoy'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-r60gMD9oI/AAAAAAAAABU/JdnSw1U7Dl4/s72-c/I+Am+Ninoy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-863042475492786824</id><published>2010-05-12T05:28:00.000-07:00</published><updated>2010-05-12T05:46:35.471-07:00</updated><title type='text'>Bunyinya Bunyi-Bunyian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-qjIgU-JdI/AAAAAAAAABM/Pn_UwRvdnqI/s1600/Late_at_night_by_s3vendays.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 160px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-qjIgU-JdI/AAAAAAAAABM/Pn_UwRvdnqI/s200/Late_at_night_by_s3vendays.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5470364063907063250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jrang-jreng-jrang-jreng. Sayup-sayup suara alto melintas. Sebuah lagu "groovy" band Indonesia selesai dan disusul "jiplakan" suara Andrea-The Coors.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krak-krik-krak-krik. Jangrik pun berdiskusi. Dan angin enggan bertiup malam ini. Udara tak panas. Tak juga sejuk betul. Segelas jus mangga yang kebanyakan gula. Sepiring ayam boiler-bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cup! Seorang lelaki tanpa "tedeng aling-aling" membenturkan bibirnya ke bibir sang wanita!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-863042475492786824?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/863042475492786824/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/05/bunyinya-bunyi-bunyian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/863042475492786824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/863042475492786824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/05/bunyinya-bunyi-bunyian.html' title='Bunyinya Bunyi-Bunyian'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-qjIgU-JdI/AAAAAAAAABM/Pn_UwRvdnqI/s72-c/Late_at_night_by_s3vendays.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-6486473203871206144</id><published>2010-05-11T23:28:00.000-07:00</published><updated>2010-05-12T03:32:41.383-07:00</updated><title type='text'>Dari Akuarium</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-qDv3bn1YI/AAAAAAAAABE/uM2uPZoeya8/s1600/fish-bowl.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 195px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-qDv3bn1YI/AAAAAAAAABE/uM2uPZoeya8/s200/fish-bowl.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5470329555751785858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kakinya tak henti-hentinya bergoyang. Kasut lusuhnya menghentak-hentak ke ubin marmer. Jarinya mengetik: tak-tik-tuk. Bob Dylan meraung-raung dengan suara "cempreng". Gitar "folk"-nya menghujam-hujam ke gendang telinga. Dia tertiup angin. Dia mengetuk pintu surga. Dia berjalan-jalan di 4th Street. Suara gitar diganti organ pipa. Sebuah sindiran satire. Sebuah makian manis. Bob Dylan. Bob Dylan. Sebuah pesan dari udara datang. Tentang seorang ratu yang teramat muak. Dengan sangkar yang dibuat. ciao!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-6486473203871206144?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/6486473203871206144/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/05/dari-akuarium.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/6486473203871206144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/6486473203871206144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/05/dari-akuarium.html' title='Dari Akuarium'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-qDv3bn1YI/AAAAAAAAABE/uM2uPZoeya8/s72-c/fish-bowl.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-8734552415421758287</id><published>2010-05-06T02:37:00.000-07:00</published><updated>2010-05-06T03:23:38.281-07:00</updated><title type='text'>Mati...kata Tan Malaka..</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-KYSlhhM8I/AAAAAAAAAA8/o9V7Blk-AZk/s1600/madilog.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 145px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-KYSlhhM8I/AAAAAAAAAA8/o9V7Blk-AZk/s200/madilog.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5468100342658970562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dua hari yang lalu seorang tetangga meninggal dunia.Seorang wanita paruh baya berusia pertengahan 50an tahun. Pembuluh darah di otaknya pecah sehabis menyantap otak sapi. Ibu saya menangis. Dia teman baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang selalu menggelitik diri saya ketika melihat orang meninggal. Sebuah perenungan akan keterbatasan. Sebuah pertanyaan akan ketidakterbatasan. Kemana kita setelah otak berhenti mengirimkan perintah ke impuls-impuls saraf. Dan ketika jantung berhenti memompa darah. Kemana kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak akan -lebih tepatnya tidak peduli- menjelaskannya secara agamais. Perkaranya bukan karena saya sudah meresistensi agama begitu kuatnya. Tapi saya memang tidak punya kapabilitas yang sahih buat menjelaskannya dengan gaya ustads, pendeta, romo, sampai biksu. Maka saya pinjam penjelasan Tan Malaka, yang setidaknya saya yakini ditulis berdasarkan penelaahannya terhadap "common-value" yang dipercayai orang-orang di Indonesia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ada diantara tuan yang percaya, bahwa kalau seseorang mati, maka jiwa itu meninggalkan jasmani dan melayang-layang dialam ini, seolah-olah seekor burung yang tak bersarang. Ada pula diantara jiwa itu yang masuk kedalam badannya binatang. Seperti harimau dan buaya. Ada pula yang percaya, bahwa jiwa itu bersama-sama dengan jasmaninya orang mati tadi, berhenti-lena, seperti dalam badannya orang tidur, menanti-nanti panggilan malaikat sesudah hari kiamat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada sesuatu pengadilan akhirat akan ditimbang kebaikan dan keburukan seseorang yang bersalah akan dilemparkan kedalam api neraka, sedangkan yang baik akan dimasukkan kedalam surga buat selama-lamanya. Ada pula yang percaya, bahwa jiwa itu berpindah-pindah dari satu badan demi satu badan menurut kebaikan atau keburukan seseorang didunia fana ini. yang berbuat baik, jiwanya berpindah kejasmani manusia yang berkasta lebih tinggi kekasta yang tertinggi dan akhirnya berada disamping atau lebur dengan maha jiwa, Atman. Dia tak akan kembali lagi kedunia fana, kedunia rantai, kedunia belenggu yang jahanam ini. yang berbuat buruk, jwianya akan berpindah kebadan yang rendah demi rendah, dari kasta Paria, kasta terkutuk itu sampai ke-anjing, babi, kera,atau ular, kodok, cacing dan sebagainya.&lt;/span&gt; (Madilog,TAN MALAKA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan dari Tan Malaka menarik saya untuk membuat suatu kesimpulan: kita, umumnya di Indonesia dan mungkin di berbagai belahan dunia, memiliki keseragaman dalam ketidakseragaman konsep tentang kematian. Kita selalu bermain-main dalam ranah transendental. Sebuah ranah yang di atas logika. Abu-abu. Jauh dari eksakta dalam artian yang paling pasti. Tapi agama (dan beberapa kepercayaan di luarnya) telah mengajarkan kita: sebuah transendensi haruslah menghablur menjadi imanensi. Sebuah finalitas tanpa kritik. Itulah iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya pahami, setelah membaca Madilog, Tan Malaka menolak untuk melakukan dikotomi antara jiwa dan jasmaniah. Jiwa dan jasmani kita merupakan sebuah kesatuan. Dia menganalogikan: ketika kepala kita sakit (sakit jasmani), pastilah kita tidak mungkin untuk mempelajari terori relativitasnya Einstein yang rumit ('mempelajari' berhubungan dengan kata 'ajar' yang sifatnya naluriah dan kongnitif yang seolah-olah psikologis, tapi tak dipungkiri terjelaskan memiliki kausalitas dengan kerja logika serebral otak manusia). Jiwa dan jasmani saling komplementer satu sama lain. Disfungsi yang satu menimbulkan disfungsi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil contoh terminologi "Sakit Jiwa". Secara awam kita biasa katakan "jiwa" seseorang sakit karena ada saraf di otaknya yang putus. Sebenarnya kita - yang sering meyakini transendensi konsep "jiwa"- sudah melegitimasi bahwa tidak bisa ada dikotomi antara jiwa dan jasmani. Seseorang sakit secara "jiwa"-iah pun pasti memiliki kausal dengan sakitnya yang "jasmani"-iah. Lalu apa lagi yang transenden?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tan Malaka menulis lebih jauh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tak ada benda yang hilang lenyap di alam ini. Benda yang disangka hilang itu Cuma bertukar bentuk. Tak sedikitpun, tak seatompun jasmani kita hilang dialam ini. dalam kuburan, tanah jasmnai tuan dan badan saya, jasmani raja atau rakyat, kapitalis atau proletar, alim atau bangsat, bertukar bentuk menjadi air, tanah, logam dan garam. Tetapi air, garam dan tanah logma itu tak akan tetap tinggal disana. Air tadi akan menguap keudara, naik disiisap tumbuhan atau bercampur dengan air lain mengalir ke sungai atau perigi tuan. Garam dan tanah logam (minerals) tadi akan diisap pohon dan bunga atau bercampur dengan air yang mengalir ke sungai, kelaut atau keperigi tuan. Boleh jadi sekali airnya jasmaninya si Alim atau bangsat sudah dalam cangkir atau kendi tuan atau sudah sama sekali lebur dalam darah dan daging tuan sendiri. dengan begitu maka darah daging si alim atau bangsat tadi sudah berleburan jwia pula dengan tuan. Kalau tidak dengan langsung air jasmani si alim atau bangsat tadi masuk kedalam perigi atau cangkir tuan, tentu dengan memutar, bagian jasmaninya sampai juga pada tuan.&lt;/span&gt; (Madilog, TAN MALAKA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah rantai kehidupan, menurut Tan Malaka. Yang mungkin anak-anak negeri ini pelajari pula di bangku sekolah dasar dalam kurikulum Ilmu Hayati (tersohor dengan nama Biologi). Soal zat renik yang melakukan dekomposi mayat atau bangkai. Bung Karno bilang, jikalau kita adalah masyarakat penganut sosialisme yang terlebih dahulu menyisihkan paham materialistiknya yang menolak konsep transendental-spirituil. Lalu buat apa pelajaran biologi, fisika, dan kimia, masih diajarkan? Semuanya telah tejelaskan lewat material dalam ilmu-ilmu eksakta tadi. Tapi kita masih seolah-olah tabu terhadap materialistik yang katanya dibawa orang komunis yang tak bertuhan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang mati, dan semuanya selesai di dunia. Barangkali itu yang coba disampaikan oleh Tan Malaka. Ditulisnya lagi dengan lebih provokatif:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Daging dan tulang sumsumnya, alim atau bangsat, budiman atau bajingan itu, membentuk zat yang dibutuhkan betul oleh tumbuhan. Barangkali jeruk atau air kelapa yang tuan idamkan dari semenjak matahari turun tadi, yang tuan bermula makan dan minum pembuka puasa tuan, banyak mengandung zat aslinya si budiman atau bajingan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan najiskan, tuan haramkan babi atau anjing! Bisakah tuan jamin tak ada zat aslinya babi itu masuk ke dalam jasmani atau rohani tuan. Siapa tahu, sayur yang tuan makan itu langsung atau memutar sudah berpadu dengan zat asli dan kodratnya si babi atau anjing itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau lembu, atau kambing yang tuan anggap halal itu sudah berpadu dengan zat aslinya si babai atau anjing dengan perantaraan daun rumput yang dimakannya sehari-hari, udara yang dinafaskan atau air yang diminumnya.&lt;br /&gt;Pasti tuan tak bisa tahu bahwa tikar sembayang tuan itu boleh jadi sekali tak lain melainkan penjelmaan zat aslinya si bangsat atau babi, malah surat suci tuan sendiri tak bsia menghindarkan diri dari kenajisan karena kertas dan tintanya berasal dialam raya juga. Kemahakah tuan mau cari yang suci bersih? Adakah yang suci bersih dalam Alam Raya yang bergerak berpadu berpisah bercampur dengan tak putus-putusnya itu? Bisakah satu mahcluk hidup dengan yang suci itu?&lt;/span&gt;(Madilog, TAN MALAKA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hidup di alam dimana kita melakukan proses imanensi terhadap yang transenden. Yang seharusnya masih dapat digali lagi kebenarannya, dihentikan dengan finalitas. Tak ayal dekadensi berpikir pun kita terima.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-8734552415421758287?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/8734552415421758287/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/05/matikata-tan-malaka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/8734552415421758287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/8734552415421758287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/05/matikata-tan-malaka.html' title='Mati...kata Tan Malaka..'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S-KYSlhhM8I/AAAAAAAAAA8/o9V7Blk-AZk/s72-c/madilog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-861259785118485134</id><published>2010-03-28T05:12:00.000-07:00</published><updated>2010-03-28T05:15:07.072-07:00</updated><title type='text'>....nama saya...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S69IOUxpkjI/AAAAAAAAAA0/zEMKCrNoWWs/s1600/01gangster-600.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 100px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S69IOUxpkjI/AAAAAAAAAA0/zEMKCrNoWWs/s200/01gangster-600.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453657084701282866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perkenalkan, nama saya Richard M. Roberts. Orang-orang biasa panggil saya "Richie". Entahlah, terdengar lebih imut mungkin. Padahal saya jauh lho dari kesan imut...that's the fact fellas!..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan, saya adalah seorang polisi, bahkan lebih keren lagi seorang detektif. Daerah tugas saya di kepolisian New Jersey. Mungkin, tempaan masa kecil yang keras di Bronx, sedikit banyak mempengaruhi pilihan profesi saya. Atau, saya sebenarnya seorang pembelot dari rata-rata keturunan Yahudi di sini yang jadi wiraswasta...i don't give a shit!...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira setahun yang lalu, kisah hidup (lebih tepat sebagian curriculum vitae) saya difilmkan. Ridley Scott, sutradara tua itu, kelihatannya bosan berpanas-panas buat film perang di Somalia, atau buat film kolosal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;American Gangster...ya, itu nama film tersebut. Dari judulnya saja bisa kita tilik sedikit-sedikit film itu. Bukan, jangan samakan saya dengan Eliot Ness yang legendaris. Fisik saya juga tak se-OK Stallone si Cobra atau McClane yang susah matinya itu. Memang, Russel Crowe, orang yang pernah jadi Maximus didapuk menyandiwarakan saya. Tapi, Crowe sendiri diubah jadi pria separuh baya gendut, dan agak lamban. Jauh-lah dari Maximus yang garang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara personal, jangan jadikan saya panutan. Keluarga saya berantakan (istri minta cerai dan minta saya menjauhi anak kami). Saya seorang yang abbusive, emosional, dan suka asal omong. Bir dan makanan sampahan jadi menu wajib. Sex? Ah...that's the reason why i still breathing, my man!!! Lalu agama? Gangster-gangster negro itu kelihatannya lebih kenal Tuhan. Minggu nyanyi Gospel, Senin tembak kepala orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, setidaknya saya punya prinsip hidup. Saat saya punya tugas, karena jabatan saya atau apalah, maka akan saya kerjakan sesuai ketentuan. Dan kalau kebetulan saya memiliki wewenang, ya digunakan dengan maximal..Simple...right?! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip ini selalu saya bawa ke mana-mana. Persetan sama orang-orang di sekitar saya, suka atau tidak. Pernah sekali waktu saya menyita uang satu juta dolar dari seorang pebisnis senjata ilegal. Lalu saya hitung uang tersebut sampai lidah saya kering. Banyak polisi lain anggap saya bangsat hipokrit kelas wahid. But, i'll make it clear, i don't even give a fuck!!! Toh, prinsip saya sudah jelas kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amerika medio 60'an sampai pertengahan 70'an tak ubahnya zona perang. Presiden Nixon pernah bilang, selain perang Vietnam, Amerika juga terlibat perang di dalam negeri. Perang kepada narkotika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu peredaran heroin mungkin hampir sama banyak dengan gula pasir. Awalnya veteran-veteran perang Vietnam (rata-rata yang negro) –lah yang bawa barang laknat itu masuk. Buat meredam rasa sakit karena ditembak Vietcong, mereka pakai heroin. Buat lebih kesetanan waktu bantai satu perkampungan Vietcong, mereka pakai heroin. Sebelum memperkosa gadis-gadis dan anak-anak Vietcong, mereka pun pakai heroin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang negro kelihatannya lebih paham makna brotherhood. Mereka tidak Cuma bawa pulang heroin dari Vietnam. Mereka juga buka mata negro-negro lain bahwa ada ladang bisnis dari situ. Frank Lucas, ya itulah nama negro itu. Bos-nya (negro juga) Elsworth "Bumpy" Johnson, sebelum meninggal dikenal sebagai Robin Hood-nya Harlem. Bumpy bahkan diperhitungkan pula oleh Al-Capone dan keluarga Lucchese yang terkenal itu. Setelah Bumpy mangkat, Lucas jadi "Tutti Capo de Capi" mafia negro di Harlem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucas dan saudara-saudara negronya mulai membangun kerajaan bisnis heroin di Harlem. Lucas memang pebisnis handal. Dia beli "pure-heroin" dari produsennya langsung di Bangkok. Harganya jadi bisa ditekan, sedangkan kualitas tetap di atas. Lucas yang punya "orang dalam", berhasil menyeludupkan berkuintal-kuintal heroin selama bertahun-tahun dengan "menumpang" di peti mati yang membawa pulang mayat tentara Amerika dari Vietnam. Heroinnya yang ia beri nama "blue-magic" laris manis bak kacang goreng di kalangan pemadat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup saya berubah ketika salah seorang teman saya mati karena overdosis. Bahkan, dia sempat membunuh seorang bandar ecek-ecek negro, setelah sebelumnya merampok uang dan jualannya. Lebih tololnya lagi dia itu polisi dan detektif juga. Sejak saat itu saya muak dengan narkotika, dan menyatakan perang dengan bandar-bandar nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rasa, saya tidak boleh hanya menjalankan fungsi investigasi sebagai seorang detektif. Maka itu, saya juga ikut sekolah hukum malam hari(bukan...bukan buat kuasai ilmu hukum, saya hanya ingin punya gelar di bidang hukum saja..). Impian saya satu, setelah saya giring bandar-bandar itu ke penjara, saya pula yang harus jadi Jaksa Penuntut Umum (JPU) bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan datang ketika saya ditunjuk mengepalai biro narkotika. Saat memilih tim, saya prefer pada "orang-orang lapangan", daripada mereka yang punya nilai tinggi di akademi. Dengan prinsip kerja yang saya pegang, saya coba membongkar kerajaan narkotika di Harlem hingga ke akar-akarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua hal yang akhirnya buat jati diri Lucas sebagai big-boss narkotika terbongkar. Pertama, gayanya yang berlebihan dan norak jadi senjata makan tuan. Negro macam apa yang di pertandingan Ali vs Frazier mengenakan mantel-beludru mahal dan duduk di deretan pentolan keluarga-keluarga mob besar? Kedua, tim saya berhasil "pegang" dia punya sepupu. Sepupunya yang punya IQ rendah itu suatu malam menembak wanita teman tidurnya saat mabuk. Kebetulan itu terjadi di depan orang dari biro saya yang sedang mengintai. Karena takut kasusnya kami angkat, sepupu Lucas nan tolol ini mau jadi informan...it's over Lucas...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertangkapnya Lucas tidak buat semua perkara selesai. Dengan Lucas yang berhasil saya paksa jadi "tangan kanan" saya, saya masih harus mengungkap jaringan perdaran narkotika Harlem, menghadapi detektif-detektif korup, hingga bersinggungan dengan banyaknya tawaran suap, tentunya dari Lucas sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imipian saya buat jadi JPU tercapai. Seluruh orang yang terlibat dengan jaringan Lucas saya kirim ke jeruji besi. Lucas sendiri divonis 70 tahun penjara. Lucunya, di kemudian hari saya berubah jadi pembelanya. Saya berhasil mereduksi hukumannya jadi hanya 15 tahun. Ketika Deng bilang tidak penting jadi kucing hitam atau putih, maka demikianlah pula saya pikir. Tahi kucinglah segala macam "Conflict of Interest" itu. Toh, selain hutang budi pada Lucas karena jadi "tangan kanan" saya, saya rasa Lucas masih cukup berguna di luar penjara. Pengalamannya jadi gangster masih bisa digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saya sering bertanya-tanya. Apakah saya dapat dikategorikan polisi baik, jujur, berdedikasi, atau apa lah namanya itu? Saya sendiri tidak merasa begitu. Untuk hal ini, saya setuju dengan McClane yang susah matinya. Dia pernah bilang begini, "Do you know what you get for being a hero? Nothin'. You get shot at. Pat on the back, blah blah blah. 'That a boy.' You get divorced... Your wife can't remember your last name, kids don't want to talk to you... You get to eat a lot of meals by yourself. Trust me kid, nobody wants to be that guy. [I do this] because there is nobody else to do it right now. Believe me if there was somebody else to do it, I would let them do it. There's not, so [I'm] doing it. That's what makes you that guy."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.....ditulis karena 'kemakan' film "American Gangster".....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-861259785118485134?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/861259785118485134/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/03/nama-saya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/861259785118485134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/861259785118485134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/03/nama-saya.html' title='....nama saya...'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S69IOUxpkjI/AAAAAAAAAA0/zEMKCrNoWWs/s72-c/01gangster-600.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-5947418110829050350</id><published>2010-03-28T05:05:00.000-07:00</published><updated>2010-03-28T05:10:56.331-07:00</updated><title type='text'>KONSENSUS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S69HPldOEoI/AAAAAAAAAAs/LL_wEmHLTKE/s1600/alone.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S69HPldOEoI/AAAAAAAAAAs/LL_wEmHLTKE/s200/alone.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453656006847238786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya ini sudah termakan filsafat dekonstruksi nilainya Nietzsche. Saya ini sudah terombang-ambing dalam udara kosong yang disebut Nietzsche, dalam bahasa Jerman, sebagai lehre raum. Jadi jangan harapkan saya mempercayai sebuah konstruksi nilai yang hakiki. Yang bebas dari pertanyaan-pertanyaan. Karena nilai-nilai lahir dari konsensus. Dan akan terus begitu. Yang benar adalah apa yang diyakini oleh sebuah konsensus orang banyak sebagai kebenaran. Yang salah adalah apa yang diyakini oleh sebuah konsensus orang banyak sebagai antitetsis dari kebenaran.&lt;br /&gt; Barangkali banyak yang menganggap saya sudah hilang kewarasan. Atau sudah sepatutnya dikategorisasikan sebagai entitas orang aneh. Setidaknya dari definisi-definisi kewarasan maupun orang aneh yang diyakini orang banyak sebagai sebuah definisi yang pre-supposed. Saya memiliki sedkit teman yang tergila-gila dengan filsafat. Dua orang terdekat, sebut saja, S dan F. Saya tak tahu betul setan apa yang mempertemukan kami bertiga. Mempertemukan orang-orang yang secara epistemis menolak untuk menelan mentah-mentah segala macam tetek bengek fenomena kehidupan. Kelompok orang yang ingin berpikir merdeka. Atau lebih tepat disebut sekelompok kecil orang yang merasa bahwa “aku yang berpikir” adalah sentral dari kehidupan. Sekelompok kecil orang yang menggembar-gemborkan subjektifikasi terhadap objek. Bukan (justru) mabuk lalu menjadi korban objektifikasi dari objek itu sendiri.&lt;br /&gt; Saya ini sudah “memerangkap diri” dalam sekelompok kecil orang yang mengedepankan skeptisisme absolut. Le doute methodique (metode kesanksian) kata Rene Descartes. Menyangsikan berarti berpikir. Maka klimaks akan kepastian dari eksistensi pribadi saya adalah dengan berpikir. Je pense donc je suis atau cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada). Cogito saya (saya yang berpikir) itu kebenaran dan kepastian yang tak tergoyahkan karena aku memahaminya dengan jelas dan tidak terparsialisasi (claire et distincte). Cogito ini tidak ditemukan dengan deduksi dan prinsip-prinsip atau dengan intuisi. Kedua metode tradisional ini bisa dipakai untuk membenarkan apa yang kita kenal dengan “wahyu”. Padahal analisa kesangsian kefillsafatan (menurut saya dalam kajian menyoal filsfat sejarah, atau dengan metode-metode yang mencari validitas sejarah dengan membuang dogma-dogma sejarah – meski saya sendiri tidak mengerti) bisa saja melakukan dekonstruksi terhadap konsep “kewahyuan” itu sendiri. &lt;br /&gt; Cogito saya harusnya (dan saya terus mencoba) ditemukan lewat pikiran saya sendiri, sesuatu yang saya kenali lewat diri saya pribadim tidak lewat Kitab Suci, dongeng, pendapat orang, prasangka, dst.  Segala macam fenomena yang saya tangkap dengan persepsi indrawi saya (saya percayai), harus saya buktikan dengan metode kesangsian yang saya ciptakan sendiri. Sehingga pada akhirnya akan sampai pada titik akhir sebuah dasar yang pasti dan tak tergoyahkan hasil dari cogito mandiri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di titik ini saya inilah saya akhirnya sampai pada kesimpulan : Cogito masing-masing orang merupakan hal yang sangat subjektif dari orang yang bersangkutan. Subjektifisme radikal, apabila saya diharuskan memilih sebuah terminologi yang tepat. Dia tidak lahir dari objektifikasi fenomena. Dia lahir dari persepsi indrawi masing-masing logos yang mandiri. Dia lahir dari penyikapan (meskipun ini pilihan) yang menyangsikan apa yang ditangkap oleh persepsi indrawi tadi.&lt;br /&gt; Maka saya mual bila sebagian orang berpikir sikap sekelompok kecil orang (seperti saya, S, dan F) adalah sikap konyol. Kekonyolan yang konyolnya diciptakan oleh konsensus orang banyak. Konsensus sebagian orang muda yang berpikir tidak perlu terlalu memusingkan pertanyaan “kenapa”. Sekelompok orang yang percaya bahwa nilai-nilai (dan ini terlalu banyak) dipercayai pre supposed. Karena hal tersebut sudah disepakati orang banyak, maka itulah kebenaran. Karena hal tersebut sudah menjadi keyakinan yang turun temurun, ya itulah yang diyakini. Sebuah penghindaran terhadap sikap skeptisisme radikal. Padahal prinsip keilmuan itu sendiri diciptakan dari skeptisisme. Karena tidak ada yang baru di bawah matahari, maka harusnya kita pertanyakan segala macam yang sudah ada di bawah matahari tersebut. Kalau perlu kita pertanyakan sang matahari.&lt;br /&gt; Hidup dengan penuh pertanyaan –memang akhirnya saya yakini- berujung pada sikap orang kebanyakan (baca : konsensus) yang mempertanyakan. Mempertanyakan keimanan. Keilmuan. Sampai kewarasan. Seorang tidak harus terlalu pintar untuk banyak bertanya. Pintar sendiri utopis saya rasa. Apakah seorang yang pintar dalam mempelajari hukum akan menjadi seorang ahli hukum yang sukses ketika “pintar hukum” didefinisikan sebagai pandai menjawab di kertas ujian dan mendapatkan nilai yang tinggi? Tidak selamanya begitu. Ong Hok Ham, saya rasa pintar. Dia seorang sejarawan yang bisa memadukan fakta empirisme, sastra, dan filsafat sejarah Hegel dalam menulis. Ong keluar dari Fakultas Hukum UI di masa mudanya. Lalu banting setir ke jurusan sejarah. Lalu, apakah kita bisa “mengatai” Ong tidak terlalu kuat di Fakultas Hukum dan banting setir ke jurusan yang menurut KONSENSUS tidak jauh lebih sulit dari Fakultas Hukum?&lt;br /&gt; Konsensus dalam jumlah besar berujung pada sebuah sikap yang seolah-oleh berhak menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Seperti sebuah perusahaan atau beberapa gabungan perusahaan yang menguasai pangsa pasar dalam jumlah besar. Makin besar market power-nya makin mudah dia bersikap mengobok-obok pasar dan mengorbankan pelaku usaha yang tidak memiliki sedikit pun monopoly-share. Yang kedua dilarang dalam peraturan antimonopoli. Kalau analoginya (anggap saja saya salah) demikian, maka konsensus dalam jumlah besar harusnya tidak berhak menganggap orang-orang seperti saya, S, dan F, sebagai manusia yang “tidak wajar”. &lt;br /&gt; Saya muak dengan konsensus. Yang banyak pasti benar. Atau bisa mendikotomikan mana yang benar dan mana yang salah. Coba dibuat analogi pembalikan. Konsensus orang-orang banyak adalah orang-orang yang melakukan pertanyaan-pertanyaan radikal dan keluar dari mainstream (yang lagi-lagi didefinisikan oleh konsensus) seperti saya, F, dan S. Maka bisa saja kami menyumpah orang-orang dogmatis, yang menolak menggunakan otaknya secara maksimal untuk mempertanyakan segala hal, yang merasa nilai-nilai (kebanyakan dan terlalu banyak) sudah pre supposed, adalah sekelompok orang yang harus dibuang jauh-jauh. &lt;br /&gt; Dan pembalikan konsensus harusnya melalui revolusi. Apabila saya seganas Lenin, maka yang akan saya lakukan adalah membuat sebuah telegram kepada orang-orang yang muak terhadap konsensus orang kebanyakan yang “dahulu pernah berkuasa” dan mempertanyakan orang-orang saya, S, dan F. Telegram itu mungkin isinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan-kawanku sepemikiran!&lt;br /&gt;Pergolakan sudah datang dan tanpa ampun. Kepentingan revolusi dalam cara pandang dan berpikir terhadap berbagai macam fenomena harus terjadi! Setiap orang harus menunjukkan teladan.&lt;br /&gt;1) Gantung (gantung sampai benar-benar mati, supaya semua orang lihat) tak kurang dari pengilmu buta, pengejar nilai, penolak kelompok penanya radikal, dan tukang olok cara pandang orang tingkat atas;&lt;br /&gt;2) Beritakan nama mereka;&lt;br /&gt;3) Ambil dari mereka semua hal yang selama ini mereka percayai secara dogmatis. Itu sama saja tidak pernah digunakan. Simpan dengan baik-baik untuk dunia baru yang lebih ingin mendalaminya dengan jujur dan dengan pertanyaan nantinya!&lt;br /&gt;4) Buat penyanderaan! Buat sedemikian rupa. Kurung mereka dalam tumpukan buku-buku filsafat yang selama ini mereka olok-olok. Suruh mereka membaca dengan keras hingga berteriak dengan desibel yang tak terhingga, sampai kerongkongan mereka kering, dan pita suara mereka putus! &lt;br /&gt;Telegram selesai dan laksanakan&lt;br /&gt;Salam, Seorang Yang “Pernah” Terasing dari Konsensus&lt;br /&gt;Carilah orang yang benar-benar keras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya parodikan telgram di atas dari telegram Lenin kepada tentara merah di detik-detik akhir menjelang Revolusi Rusia. Mungkin saya tergelitik untuk melakukan hal itu. Orang sah-sah saja tergelitik untuk melakukan hal yang paling liar bila ada kesempatan. Tapi, sekarang, saya harus hidup dengan mereka para kulaks di dalam konsensus tadi. Jadi selama belum ada kesempatan dan saya harus hidup dengan mereka, hiduplah sebagai manusia sosial. Lebih baik saya hidup terasing daripada jatuh kepada kemunafikan berpikir (terima kasih Gie). Biar saya hidup dengan bertanya. Apabila bertanya adalah ketidakpastian, dan jawaban adalah kepastian, maka tetap izinkan saya hidup dengan bertanya. Karena jawaban sendiri adalah pertanyaan baru.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-5947418110829050350?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/5947418110829050350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/03/konsensus.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/5947418110829050350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/5947418110829050350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/03/konsensus.html' title='KONSENSUS'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S69HPldOEoI/AAAAAAAAAAs/LL_wEmHLTKE/s72-c/alone.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-2842326024856486364</id><published>2010-03-27T01:23:00.000-07:00</published><updated>2010-03-27T01:27:03.731-07:00</updated><title type='text'>Phaidon</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S63BRoAeU-I/AAAAAAAAAAk/XDbncWVB2eE/s1600/socrates.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 130px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S63BRoAeU-I/AAAAAAAAAAk/XDbncWVB2eE/s200/socrates.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453227232356881378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya bayangkan Socrates di hari-hari terakhirnya. Pak tua yang pendek, bermulut lebar, berhidung grotesk, dan mata berkantung. DPR (Dewan Pengadilan Rakyat) Yunani baru saja menyidangnya. Dia diajukan dengan dua macam tuduhan : atheis karena telah menyangkal dewa-dewa Yunani (yang secara hukum diakui oleh negara) serta dianggap sebagai pembawa ajaran sesat dan merusak jiwa orang muda Yunani saat itu.&lt;br /&gt;Tapi Socrates pantang beriba. Dia merasa tak pantas disidang sebagai pesakitan. Pada Prytaneion, Balai Kota, Socrates mengatakan bahwa dia tidak bersalah tapi sepantasnya dianggap sebagai pencerah dari dekadensi yang diciptakan para guru sofis. Socrates menggugat balik. Ia menuntut diberi makan seumur hidupnya oleh negara pada Prytaneion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para hakim tercengang. Mereka tersinggung. Lewat voting, suara terbanyak menginginkannya dihukum mati dengan cara meminum racun. Socrates tak gentar. Air mukanya tenang. Dia siap dihukum mati daripada “menderita” (dengan M).&lt;br /&gt;Penderitaan bagi Socrates, atau bagi kebanyakan filosof, bukanlah penderitaan badaniah. Ketika bertanya adalah bidaah dan berpikir jadi tabu, maka “menderita” (dengan M) jauh lebih menyakitkan ketimbang panasnya api yang membakar Bruno, atau peluru yang menghujam Gandhi. Racun bagi Socrates tidak ada apa-apanya ketimbang kesubjektifannya berpikir hendak diobjektifikasi oleh otoritas yang berkuasa.&lt;br /&gt;Saya bayangkan Socrates di hari-hari terakhirnya. Saat-saat akhir yang digambarkan Plato dalam drama Phaidon :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Engkau semuanya hendaklah sabar, dan ingat badanku yang akan kau tanam”. Setelah mengucapkan kata ini, berdirilah ia dan pergi ke kamar mandi dengan Crito, muridnya. Setelah kembali Socrates berkata, “Alangkah baiknya penjaga itu. Selama aku dalam penjara, selalu ia datang padaku dan lihatlah betapa ia menangiskan aku. Tetapi kita sekarang harus berbuat seperti yang dikatakannya Crito ; bawalah kemari gelas yang berisi racun jika sudah dibuat ; jika belum surulah pelayan membuatnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mendengar itu, Crito memberi isyarat kepada pelayan penjara itu. Dia pergi beberapa waktu lamanya dan kembali lagi bersama-sama dengan seorang lagi yang membawa sebuah gelas minum berisi racun. Socrates berkata : “Hai sahabatku engkaulah yang mengerti tentang ini, katakanlah apa yang harus kukerjakan”. Orang itu menjawab : “Engkau harus berjalan bolak-balik sampai kedua kakimu merasa lelah ; lalu berbaringlah dan racun itu akan menamatkan kerjanya”. Seketika itu diberikannya gelas itu kepada orang itu dan berkata : “Betapa pendapatmu, dapatkah isi gelas ini ditumpahkan sedikit sebagai pujian pada seorang dewa? Bolehkah itu atau tidak ?” Orang itu menjawab : “Kami hanya membuat secukupnya Socrates” : “Baiklah kata Socrates, tetapi aku boleh dan harus meminta kepada dewa-dewa supaya perjalananku ke dunia yang lain selamat. Semoga do’aku ini dikabulkan”. Sesudah itu, sambil mengangkat gelas itu ke  bibirnya, diminumnya racun itu secara perlahan dan tenang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah Socrates meminum racun tersebut, dia bergegas berjalan mondar-mandir. Beberapa saat kemudian dirasakannya kakinya mulai mati rasa. Dia duduk di dipan yang disediakan di dalam selnya. Sang pelayan penjara mencubit kakinya, dan berkata : “Apakah terasa?” : “Tidak”, sahut Socrates. Kemudian Socrates merasakan sendiri kedua kakinya dan berkata : “Apabila racun itu sudah sampai ke jantung makai tibalah aku di penghabisan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tatkala tubuhnya sebelah bawah sudah dingin, diangkatnya sebentar kain yang menutupi mukanya dan berkata – ini lah yang katanya penghabisan- : “Crito, aku berutang seekor ayam kepada Aescullaap, jangan lupa membayarnya kembali “. “Utang itu akan dibayar”, kata Crito, “adakah pesan yang lain?”. “Tidak ada”, jawab Socrates. Tidak lama setelah itu, kami dengar orang datang dan pelayan penjara mengangkatkan kain yang menutupi muka Socrates. Matanya terbuka dan menerawang tak fokus. Crito langsung menutup kedua matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya bayangkan Socrates di hari-hari terakhirnya. Bahkan sampai dia meregang nyawa, kita diajarkan : bahwa penderitaan yang paling kejam adalah ketika untuk berpikir pun kita harus dikekang. Penderitaan badaniah yang mungkin harus diterima oleh Socrates dengan hukuman meminum racun hanyalah sebuah pasase yang harus dilewati untuk “penyucian” diri. Socrates mungkin bukan nabi yang meskipun dalam pewartaannya menderita namun telah “dijanjikan”surga ketika meninggal. Justru penderitaan Socrates bukan terhapus dengan sesuatu yang memang an sich telah pasti. Tapi dalam ketidakpastian yang merentang di depan terkadang manusia harus yakin bahwa pasase yang akan dia hampiri berikutnya akan jauh lebih baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-2842326024856486364?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/2842326024856486364/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/03/phaidon.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/2842326024856486364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/2842326024856486364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/03/phaidon.html' title='Phaidon'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S63BRoAeU-I/AAAAAAAAAAk/XDbncWVB2eE/s72-c/socrates.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453800928950415302.post-6042074535306125330</id><published>2010-03-27T01:01:00.000-07:00</published><updated>2010-03-27T01:05:28.575-07:00</updated><title type='text'>Time Is On My Side</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S62740GWrgI/AAAAAAAAAAU/eJTXvIoaBfY/s1600/Baby+Owl.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S62740GWrgI/AAAAAAAAAAU/eJTXvIoaBfY/s200/Baby+Owl.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453221308547902978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Ctogar%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="Preview" href="file:///C:%5CUsers%5Ctogar%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_preview.wmf"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:documentproperties&gt;   &lt;o:version&gt;12.00&lt;/o:Version&gt;  &lt;/o:DocumentProperties&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5Ctogar%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5Ctogar%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-language:EN-US;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:595.3pt 841.9pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;Jam menunjukkan pukul 02.30. Dan saya belum mengantuk. Maka izinkan saya menulis tentang dini hari. Tentang jam-jam para insomniak. Saat gelap tak bisa disebut malam, namun hari belum kunjung terang. Sebuah fase tergelap dari sebuah hari, tulis Paulo Coelho.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;Saya tak bisa tidur. Beberapa keping &lt;i style=""&gt;crackers&lt;/i&gt; dan secangkir kopi kemasan cukup ampuh membuat otak saya tak kekurangan oksigen. Biasanya membaca sering mujarab sebagai pengantar tidur. Tapi tidak malam -atau lebih tepatnya pagi- ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;Terkadang orang ingin melupakan kesendirian di malam hari. Mungkin karena itulah diskotik, deretan kafe di Kemang, hingga lokalisasi macam Doly dan Sarkem selalu digemari. Tapi saya tak ingin melupakan kesendirian sekarang. Saya ingin masuk ke dalamnya. Seperti ditulis Nietzsche :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Larilah, kawanku, ke dalam kesendirianmu!&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;Saya tatap laptop yang terasa hambar. Sayup-sayup suara jangkrik bak orkestra gesek. Bunyi angin yang keluar dari pendingin ruangan seperti metronom yang mengukur hembusan napas. Sekali-kali anjing peliharaan tetangga rumah saya melonglong panjang. Sebuah tanda ada kehadiran “yang lain”, “yang anomali”, kata nenek kita dahulu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;Dalam waktu seperti ini, yang remeh-temeh seakan ingin penting. Yang renik jadi raksasa. Sebuah selingan dari hari yang gaduh. Rutinitas yang sering terasa membosankan. Jauh dari sebuah perasaan intim, hening, dan reflektif.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;Dan kita tersadar : dini hari adalah sebuah jembatan. Dia adalah sebuah intermezo. Dari sebuah malam yang tak gelap betul dan tak terlalu sunyi ke siang yang “centang-perenang” (mengutip kosa kata favorit Priyo Budi Santoso). Ketika saya baca Jakarta Undercover, saya merasa bahwa malam-malam metropolis justru lebih “centang-perenang” dan liar daripada siang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;Bagi sebagian manusia di belahan dunia lain, waktu-waktu seperti ini adalah sebuah fase sunyata. Rahib-rahib Katolik di sebuah biara tua di Italia bangun pukul 03.00. Setelah melakukan doa-doa pribadi di bilik-bilik sempit, misa bersama dimulai.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;Sedangkan pemeluk Islam banyak pula yang bangun. Mereka berwudhu, melakukan &lt;i style=""&gt;tahajud&lt;/i&gt;, serta memanjatkan doa yang paling pribadi. Mereka menikmati saat-saat paling komunikatif dengan Sang Pencipta.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;Di lain sisi, orang-orang yang disebut &lt;i style=""&gt;ja-sagér&lt;/i&gt; (pengata ya) pada kehidupan oleh Nietzsche, tentu punya kesibukan lain. Ada yang memilih dini hari sebagai “waktu-waktu yang paling duniawi”. Di Indonesia, pertandingan sepakbola yang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;diimpor dari benua biru sering hadir pada dini hari. Dan para maniak kulit bundar Indonesia sering dipaksa jadi penderita insomnia, tulis kolumnis sepakbola Rob Hughes.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;Dini hari adalah sebuah pasase. Dan dia pun akan begitu mudah berlalu layaknya hidup kita yang pendek. Barangkali karena itulah saat-saat ini terasa nikmat. Yang sedikit, yang cepat selesai, selalu terasa berebeda-kalau boleh dibilang lebih nikmat. Saat-saat di mana kita jadi melankolis. Saat-saat kita tergetar karena takut mati. Atau malah justru begitu siap dipanggil. Seperti dilukiskan sebuah eufirisme para penganut Protestan berkulit hitam di Amerika : &lt;i style=""&gt;ready to be &lt;span style=""&gt;called for higher service&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;Tapi waktu ini adalah waktu saya. Dan saya dengar Mick Jagger mengalun agak parau...&lt;i style=""&gt;Time is on my side...yes it is...&lt;/i&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453800928950415302-6042074535306125330?l=baladalayanganputus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/feeds/6042074535306125330/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/03/time-is-on-my-side.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/6042074535306125330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3453800928950415302/posts/default/6042074535306125330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baladalayanganputus.blogspot.com/2010/03/time-is-on-my-side.html' title='Time Is On My Side'/><author><name>Togar Tandjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02207376844126654495</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-3f2XXr56Wvo/Tkjo3AE5YuI/AAAAAAAAAJQ/UH014syvTB8/s220/14368_1252943091364_1463134036_684491_5520868_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_yJWYjS1u-lo/S62740GWrgI/AAAAAAAAAAU/eJTXvIoaBfY/s72-c/Baby+Owl.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
